Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 38


__ADS_3

Cuphhh...


"Selamat pagi sayang" sapa Eugi pada lelaki yang masih setia memeluknya dengan mata masih terpejam.


"Pagi sayang" balasnya mengecup kening sang istri.


"Bangun yuk, udah siang bang."


"Hari ini kan weekend sayang. Biarkan kayak gini dulu. Masih PW (posisi wenakkk alias nyaman).


"Iya, tapikan ada mama, ada kak Melisa."


Arga membuka matanya, kembali melabuhkan kecupan singkat dibibir Eugi kemudian mengurai pelukannya.


Eugi beranjak menuju kamar mandi dengan langkah yang tak biasa.


"Augghhh..."


"Abang bantu?" Sigap Arga menopang tubuh Eugi yang hampir jatuh.


"Sakit banget??? Maafin Abang ya!"


"Sedikit ngilu aja bang"


"Sebentar Abang beli obat atau salap ke apotik"


"Ga usah bang, berendam aja sebentar mudak-mudahan ngurangin ngilunya"


Arga dengan telaten mengisi bathtup dengan air hangat dan memberikan cairan aroma terapi.


"Eugi bisa sendiri sayang."


"Ga papa biar Abang bantu" ucapnya sambil membantu Eugi membuka pakaiannya, mengangkat dan meletakkan dengan hati-hati di bathtub yang sudah penuh dengan busa dan wangi.


"Panggil Abang kalo sudah selesai ya" ucapnya keluar dari kamar mandi.


Arga membersihkan tempat tidur yang sudah tak berbentuk, mengganti sprei dan bedcover yang baru. Wajahnya tersenyum melihat darah perawan sang istri yang berhasil dia bobol mengotori sprei yang barusan dia ganti.


"Makasi sudah menjaganya untuk Abang ya sayang" batinnya sembari tersenyum.


Setelah semua rapi Arga keluar menuju dapur dimana sudah ada mama disana.


"Pagi ma..." sapanya


"Pagi sayang, tumben udah bangun? Eugi mana?"


"Eugi lagi kurang enak badan ma. Makanya Arga suruh dikamar aja."

__ADS_1


"Ya udah, mama buatkan sarapan biar sarapan dikamar aja"


"Biar Arga aja ma. Dia sarapannya simple aja kok."


Arga mulai membuat segelas coklat hangat yang menjadi kesukaan sang istri. Susu murni dicampur dengan bubuk cocoa ditambah madu sebagai pemanisnya apalagi dibuat dengan cinta. Dengan cekatan tangan kekar itu mengoles roti dengan mentega kemudian memanggangnya dan disiram dengan caramel. Hal yang biasa dibuat oleh Eugi kali ini Arga yang menyiapkannya.


"Melisa mana ma?" tanya Arga


"Seperti biasa masih molor"


"Sebentar Arga keluar sarapan sama mama ya, Arga bawain buat Eugi dulu" Pamitnya sambil membawa nampan.


"Iya nak, beresin Eugi dulu aja."


Arga meninggalkan sang mama yang masih dengan urusan ponselnya.


Saat Arga memasuki kamar, Eugi sudah duduk manis didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya.


"Kok ga panggil Abang?"


"Udah enakan bang. Ga usah kuatir gitu..."


"Sini Abang bantu keringin" ucapnya sembari meraih hair dryer dari tangan Eugi.


Wajah bersih begitu segar dipandang mata meski istrinya itu tidak memakai make up.


"Abanggg..."


"Iya sayang, Abang udah siapkan coklat panas plus roti dipakein mentega terus disiram pake caramel."


"Sayang..." panggil Eugi


"Hhmm..."


"Makasi buat semuanya ya. Eugi benar-benar menjadi perempuan paling beruntung menjadi istri kamu"


"Kenapa bilang kayak gitu. Abang yang paling beruntung memiliki kamu sayang"


"Makasiii Abang" peluk Eugi


Eugi malah mewek dengan segala perhatian Arga.


"Kamu berhak mendapatkan semuanya sayang. Karena Eugi itu orang baik."


"Udah sekarang habiskan makanannya, terus istirahat ya. Nanti kalo udah enakan Abang ajak jalan-jalan"


Tanpa banyak protes Eugi memakan sarapan buatan sang suami hingga habis. Arga tersenyum memandangi piring yang sudah kosong dan gelas yang sudah habis isinya.

__ADS_1


"Eugi istirahat dulu, Abang mau balikin nampannya ke dapur dulu."


.


.


.


.


.


Sepanjang hari mereka berdiam diri di apartemen. Rencana keluar ahirnya batal karena hujan kembali mengguyur kota dengan derasnya.


"Arga, Eugi, besok mama rencana mau pulang dulu. Ada yang harus mama selesaikan."


"Apa soal papa?" tanya Arga


"Itu salah satunya. Mama akan terima apapun yang menjadi keputusan papa kalian."


"Ma, udah biarin aja papa disana. Mama tinggal sama kita aja disini. Buat apa mama hidup sama laki-laki yang tidak menghargai mama. Arga masih sanggup kok memberikan mama kehidupan yang layak."


"Itu bukan solusi nak. Kalian tidak boleh membenci papa kalian. Bagaimanapun dia adalah papa kalian"


"Kenapa mama baru cerita sekarang dengan segala yang mama alami."


"Semua sudah jalan Tuhan Arga. Mama iklas menjalaninya. Mama juga bukan orang yang baik, terlebih pada kalian"


"Tapi mama melakukan semuanya ada dasarnya, ada alasannya" Arga masih tidak terima.


"Mama akan jalani yang menjadi takdir mama. Yang mama harap kalian tidak akan pernah merasa kalo mama bukanlah orang yang melahirkan kalian. Mama lebih sedih dan hidup mama tidak berguna kalo kalian meninggalkan mama"


"Jangan bicara seperti itu ma" ucap Melisa memeluk Laura.


"Makasi sayang."


"Arga, berjanjilah sama mama, jangan pernah mempermasalahkan ini semua dengan papa kamu!"


"Maaf, Arga ga janji ma"


Mama mendekati Arga dan mengelus lembut punggung anak lelakinya itu.


"Ga ada gunanya berdebat dengan papa kamu. Hanya akan menghabiskan energi sia-sia nak."


"Kita lihat nanti aja ma." Balas Arga dingin.


Obrolan sore yang menjadi perbincangan serius mengantarkan mereka pada malam yang semakin larut yang masih dengan hujan rintik-rintiknya yang tersisa.

__ADS_1


__ADS_2