
Eugi sudah siap untuk berangkat kerja saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Wajah segar dari kekasihnya membuat senyum mengembang setelah icon berwarna hijau itu digesernya.
"Pagi sayang..." ucap Arga menyapanya
"Pagi... Abang lagi dimana? Kayaknya bukan dirumah" tanya Eugi dengan perbedaan suasana.
"Abang di apertemen."
"Kenapa ga dirumah?" Selidik Eugi merasa ada yang tidak biasa
"Abang ninggalin rumah. Kemarin malam sempat berdebat dengan mama dan papa. Abang lagi nenangin diri aja, biar ga berlanjut perdebatannya" jujurnya
"Ada masalah sayang?"
"Bukan masalah besar, ga usah Eugi fikirin. Abang sedang mempersiapkan semuanya untuk kita. Abang mau kamu jaga kesehatan, jangan banyak berfikir."
Meski Eugi tau ini bukan masalah kecil sampai-sampai Arga ninggalin rumah. Tapi dia berusaha nurut dan tidak banyak bertanya yang hanya akan menambah suasana riweh. Dia percaya, Arga sudah memikirkan konsekuensi dengan segala keputusan yang dia ambil.
"Jangan lupa sarapan dulu, Eugi mau berangkat kerja dulu ya bang. Semoga segala urusannya dilancarkan ya." Eugi mengalihkan pembicaraan
"Makasi sayang. Yang semangat ya, Love you" Arga
"Iya sayang, Love you too. bye"
Panggilan terputus dan Eugi segera berangkat menuju cafe tempatnya bekerja.
Jalanan cukup macet di jam-jam berangkat kerja seperti pagi ini. Untuk itu Eugi memilih berangkat lebih awal untuk menghindari keterlambatan.
__ADS_1
***
Ditempat lain Angga sedang sibuk dengan rutinitas barunya. Mengurus perusahaan keluarganya yang sudah lama diinginkan oleh papinya.
Keputusan itu sebenarnya hanya satu cara untuk menghindari pertemuannya dengan gadis yang mengganggu hatinya.
Entah sejak kapan perasaan itu ada, yang pasti Angga merasa berat setelah tau Eugi memutuskan untuk menerima lamaran kekasihnya dan dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan.
Setelah bertemu ditoko perhiasan, Angga harus menelan kekecewaan bahwa gadis yang tanpa dia sadari bersemayam dihatinya akan mengikat janji pernikahan dengan orang lain. Sedikit penyesalan, kenapa dia baru menyadari perasaannya. Dan Angga tidak mau egois dengan menginginkan sesuatu yang memiliki kebahagiaan pada orang lain.
Keputusan yang tiba-tiba dia siap untuk menggantikan sang papi menjalankan perusahan menimbulkan satu pertanyaan bagi mami dan papi nya dengan perubahan yang sangat drastis. Sikap Angga lebih dingin jauh dari kata ramah. Bicara seperlunya saja.
"Angga..." Sapa maminya tanpa dia sadari karena terlalu asik dengan pekerjaan atau hal lain dalam fikirannya
"Mami kok udah disini aja?" ujarnya
"Masa ga boleh maminya berkunjung kekantor anak sendiri?"
"Mami mau lunch sama kamu. Ini sudah mami bawain makanan. Sekarang anak mami super sibuk, ga punya waktu buat mami lagi."
"Mami bisa aja. Ga lah. Angga masih perlu banyak belajar mi, makanya lumayan banyak menyita waktu."
"Yakin kamu belajar? Atau ada hal lain?" pancing mami
"Mami apaan sie? Dulu aja sibuk disuruh buat ngurusin perusahaan. Sekarang malah suuzon"
"Angga, kamu itu anak mami dan papi. Kami paham bagaimana kamu. Ga perlu menutupi hal yang tidak bisa kamu tutupi. Kamu ga pintar menyembunyikan masalah Ngga. Mami senang kamu ahirnya mau mengurus bisnis keluarga ini, tapi bukan hanya pelarian" jelas mami membuat Angga hanya bisa diam.
__ADS_1
Hal yang tidak bisa dia lakukan adalah menyembunyikan masalah yang sedang dihadapinya. Karena dari dulu keluarganya sangat demokratis dan terbuka terhadap apapun. Mami dan papi nya bukan orang yang memanfaatkan anaknya untuk kepentingan mereka pribadi. Untuk itu Angga sangat tidak bisa berbohong dengan apa yang sedang dia alami. Terlebih dengan maminya yang sangat paham akan dirinya.
"Maaf mi..."
"Untuk apa minta maaf, kamu ga salah. Cuma cara kamu menghadapi masalah kamu yang salah. Jangan pernah lari nak. Hadapi dengan hati yang legowo"
"Maksud mami?"
"Ini masalah hati kan?" ucap mami sambil menunjuk tepat di dadanya dengan senyum penuh kasih.
"Angga sudah telat sadar mi. Sering bersama, sering curhat, sering becanda, kadang-kadang buat kita ga sadar dengan perubahan hati. Tapi buat saat ini dia sudah bahagia dengan pilihannya, Angga akan belajar ikhlas dengan bahagianya dia mi."
"Segitunya perasaan kamu sama dia?"
"Dari awal memang Angga sudah tau dia punya pacar. Dan kebersamaan itu ngalir kayak air aja. Angga nyaman sama dia. Tapi saat tau keputusannya untuk menikah Angga baru sadar apa artinya dia buat Angga."
Obrolan serius berlangsung cukup lama. Niat hati untuk makan siang, malah berubah menjadi curhat.
Memang mami hanya alasan buat makan siang. Tujuan utama sebenarnya hanya untuk mencari tau keadaan hati putranya itu. Dan mami berhasil mengobrak Abrik perasaannya dengan caranya sendiri.
"Yang kamu butuhkan hanya ikhlas sayang. Dia bukan jodohmu. Mami yakin akan ada yang lebih baik yang sedang Tuhan siapkan untuk kamu."
"Makasi mi. Angga hanya butuh waktu"
"Ya udah, mami pulang dulu. Tenangkan hati kamu belajarlah untuk menghadapinya" ucap mami seraya bangkit dari duduknya
"Lah makannya?"
__ADS_1
"Kamu aja, atau kasi yang lain. Bye yaghh"
Mami melenggang meninggalkan ruangannya. Angga hanya bisa tersenyum karena mamanya sudah berhasil mengorek apa yang ingin diketahuinya.