Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 30


__ADS_3

Setelah acara demi acara terlewati Eugi memilih pulang ke apertemen daripada menginap untuk malam pengantin dihotel tempat ucap janji suci berlangsung. Padahal pihak hotel sudah menyiapkan kamar pengantin tapi Eugi merasa tidak nyaman. Entah kenapa badannya terasa tidak dalam keadaan baik-baik saja setelah seharian menguras tenaga.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Cemas Arga sembari meraba kening Eugi yang menyandarkan kepalanya dipundak Arga.


"Ga tau, kok badannya rasa meriang"


"Kita kedokter?"


"Ga perlu sayang, mungkin Eugi cuma kecapean."


"Ya udah, pejamin mata aja. Nanti kalo sudah sampai abang bangunkan.


Gadis itu memejamkan mata. Rasa sakit melilit diperutnya luar biasa menyiksanya. Seharusnya dia menikmati kebahagiaan dihari spesialnya.


Tanpa bertanya terlebih dahulu, Arga meraih tubuh mungil itu, menggendongnya ala bridal style menuju unit apartemen miliknya.


Dengan hati-hati Arga meletakkan tubuh Eugi yang sudah tak bertenaga diranjang. Perlahan membuka sepatu yang dikenakan Eugi.


"Masih sakit?"


Eugi hanya mengangguk lemah sembari meringkuk kan tubuhnya.


"Sering sakit seperti ini?" Arga masih dalam mode kuatir.


Eugi mengangguk lemah.


"Kenapa ga pernah bilang ke Abang? Kenapa disimpan sendiri? Kenap..."


"Sayang, sakit kayak gini bukan cuma Eugi yang alami."


"Maksud kamu?"


"Kayaknya Eugi mau datang tamu bulanan. Ahir-ahir ini Eugi mungkin kecapean dan juga banyak fikiran makanya sakitnya ga kayak biasa."


Arga masih bingung dan masih memandang mengharapkan penjelasan.


"Maksud Eugi, sakit kayak gini biasa buat wanita yang mau menstruasi Abang. Tapi faktor kecapean atau banyak fikiran terkadang bikin sakitnya nambah"


"Artinya?"


Eugi berusaha tersenyum manatap lelaki yang sudah jadi suaminya itu sembari berusaha bangkit dari duduknya.


"Maaf sudah buat Abang kuatir" ucapnya sembari menangkup wajah Arga dengan tangannya.


"Jangan manyun gitu sayang"


"Abang cuma kuatir sayang. Selama ini Abang ga pernah mendengar kamu mengeluh sakit. Tiba-tiba ngeliat kamu kesakitan Abang benar-benar takut" balas Arga meraih tubuh mungil itu kedalam dekapannya.


"Maaf" Eugi

__ADS_1


Cuphhh


Kecupan singkat mendarat dibibir merah milik gadis yang sudah halal baginya.


"Sekarang Eugi mandi, pake air hangat biar badannya enakan. Abang mau keruang kerja dulu."


"Hmm..."


Perlahan Eugi melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi dengan dibantu oleh Arga. Karena rasa kram diperutnya masih tersisa dan itu masih sangat mengganggunya.


"Yakin bisa sendiri?" Arga kuatir


"Bisa sayang"


"Ya udah, pintu jangan dikunci ya" pinta Arga


"Haahh?"


"Maksud Abang, jangan dikunci buat mengantisipasi kalo Eugi didalam kenapa-kenapa"


Tanpa banyak protes Eugi pelan-pelan melakukan ritual mandinya. Rasa segar dari guyuran air sedikit mengurangi rasa sakit perutnya.


***


Dengan pelan Eugi menyisir rambut panjangnya setelah mengeringkannya terlebih dahulu. Duduk didepan meja rias yang dihadapinya terpantul bayangannya sendiri. Pintu kamar tiba-tiba terbuka.


Sosok lelakinya muncul dengan baki berisikan makanan dan segelas susu.


"Masih sakit perutnya?" tanya Arga


"Udah mendingan Abang. Tapi tadi katanya mau keruang kerja? Kok malah bawa makanan?"


"Masalah berjalan bisa nanti sayang. Hayo makan dulu, terus minum susu hangatnya. Abang Googling katanya bisa meredakan nyeri haid"


Eugi tersenyum menanggapi kalimat Arga yang membuatnya merasakan cinta yang sangat banyak.


"Aaa..." ucap Arga sembari menyodorkan sesendok makanan kemulutnya.


"Eugi bisa sendiri sayang"


"Tidak ada bantahan. Abang ga mau ngeliat Eugi kesakitan gitu. Jadi ga ada protes."


Kalo sudah kalimatnya begitu percuma juga buat dibantah Eugi hanya bisa patuh menerima suapan sang suami. Sambil bercerita santai hampir setengah makanan sudah masuk kedalam perutnya dan rasanya sudah penuh.


"Udah cukup bang. Eugi sudah kenyang banget"


"Belum habis juga"


"Eugi ga kuat. Belum lagi susunya"

__ADS_1


Arga ahirnya mengalah. Dia menyodorkan segelas susu hangat yang harus diteguk habis oleh istrinya.


"Sehabis ini istirahat ya. Biar badannya enakan"


"Hhmm"


Arga merapikan bekas makan seraya bangkit dari duduknya dan keluar membawa nampan yang tadi dibawanya.


Eugi masih dalam posisi duduk sambil bersandar ketika Arga memasuki kamar dan ikut naik keatas ranjang.


"Sayang, makasih buat segalanya" ucap Eugi sembari menyentuh lengan Arga dengan lembut.


"Kita sekarang sudah jadi satu sayang. Sakit Eugi sakit Abang juga.


"Sini...!!!" Ucap Arga seraya menepuk lengan kekarnya sebagai bantalan.


Eugi menyusup bersandar didada bidang milik suaminya. Hatinya benar-benar hangat. Bahagia ahirnya perjuangan cinta mereka berlabuh dalam ikatan suci pernikahan. Meski banyak beban yang harus ditanggung, terutama restu dari orang tua Arga.


"Sayang?"


"Hhmm" sahut Arga masih sambil mengelus-elus kepala Eugi sambil sesekali menghirup wangi rambut indah milik sang istri.


"Abang ga nelpon mama atau papa gitu?"


"Buat apa?"


"Sayang, paling ga kasi tau mereka."


"Percuma juga. Ga akan merubah keadaan sayang. Abang minta, jangan mikirin hal-hal yang bisa merusak suasana hati kamu. Mulai saat kita sudah mengucapkan janji suci pernikahan berjanjilah pada Abang kalo kamu akan selalu bahagia. Ingatkan Abang jika Abang mulai berubah. Karena kebahagiaan kamu adalah hal yang harus Abang utamakan. Itu bukan janji Abang pada manusia tapi itu janji Abang pada Tuhan."


Kata-kata yang yang berhasil membuat air mata Eugi meluncur bebas dipipinya. Tapi bukan karena kesedihan, tapi karena kebahagiaan dengan rasa syukur dalam dirinya.


"No tears baby!" Ucap Arga lembut sembari meraihnya kedalam pelukan yang selalu memberikan damai.


"Eugi bahagia sayang. Ini bukan kesedihan tapi kebahagian. Terimakasih untuk cinta yang banyak buat Eugi." Ucapnya menengadahkan wajahnya menatap mata sang suami yang begitu dicintainya.


Wajah Arga mendekat bahkan hampir tak berjarak. Hembusan hangat nafas keduanya saling menyapa. Eugi memejamkan matanya menunggu hembusan hangat itu menyatu.


Ciuman yang lembut mendarat dibibirnya. Begitu hangat dan sentuhan terasa penuh cinta. Tidak ada ***** yang menggebu memberikan rasa nyaman. Kehangatan itu terhenti disaat keduanya membutuhkan asupan oksigen.


"Terimakasi sayang" ucap Arga mengahiri ya dengan mengecup lembut kening Eugi.


"Maafkan kalo malam ini harus tertunda sayang"


"Pernikahan bukan hanya sekedar malam pertama sayang. Pernikahan komitmen kita bukan hanya urusan ranjang. Abang mencintai semua yang ada pada dirimu. Artinya segala kekurangan dan kelebihan itu pasti ada. Tuhan sedang menguji ***** Abang." Ucapnya dengan senyuman sambil mencolek hidung mancung sang istri.


"Kita istirahat ya." Peluknya makin erat pada tubuh mungil yang ada dalam dekapannya itu.


Malam pertama yang berlalu begitu saja membawa keduanya dalam pertarungan mimpi malam yang dingin.

__ADS_1


__ADS_2