Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 8


__ADS_3

Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi membuat Eugi terbangun. Tidurnya tumben se nyenyak itu. Sampai ga sadar dengan Arga yang sudah menunggunya dari tadi untuk sarapan. Hanya memandangi wajah kekasihnya yang tampak dengan raut bahagia meski masih dengan mata terpejam.


"Morning sayang...nyenyak tidurnya?" Ucap Arga dengan senyuman paginya


"Sayang... Udah bangun? Kok ga bangunin Eugi?"


"Tidur Eugi nyaman banget. Abang ga tega mau bangunin." Colek Arga di hidung mancung Eugi


Perlakuan Arga yang sangat sayang membuat manja Eugi auto keluar.


"Kita sarapan dulu, abang udah siapin." Ajak Arga


Eugi ke kamar mandi membasuh wajahnya dan menyikat gigi sebelum keluar dan bergabung bersama Arga yang sudah duduk manis dimeja makan.


"Tumben pagi ini santai, ga telat nanti masuk kerja?" tanya Arga yang melihat Eugi santai dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 8.


"Hari ini jadwal Eugi off bang"


"Tau gitu kemarin kita nginap di Ciwidey aja."


"hehe, Eugi juga lupa..."


"Kalo gitu hari ini Eugi mau kemana?"


"Eugi mau di apartemen aja. Dia paham lelah kekasihnya bekerja begitu beratnya selama berhari-hari, keputusan untuk istirahat di apartemen juga bukan pilihan yang buruk. Waktu berdua lebih panjang untuk melepas rindu.


"Sayang..." Kalimat Arga menggantung


"Kenapa bang?"


"Besok abang pulang dulu ya, abang mau menyiapkan segala keperluan untuk kantor baru dan juga dokumen pernikahan kita." ucap Arga pelan dan hati-hati


Eugi menarik nafas berat. Jika ada pertemuan, perpisahan seperti ini sangat berat di hati.


"Sayang..." Arga menggenggam tangan Eugi yang bergetar.

__ADS_1


"Secepatnya abang akan kembali" lanjutnya meyakinkan


Wajah Eugi tampak berubah dari keceriaannya yang terpancar tadi pagi. Berusaha tersenyum sebaik mungkin menutupi kegalauannya.


"Iya bang. Eugi ga papa." jawabnya berat


Mengalihkan pembicaraan dengan membersihkan meja dan peralatan makan yang mereka gunakan tadi adalah pilihan yang tepat untuk menghindari tatapan Arga.


Sambil tetap berfikir Eugi mencuci gelas dan piring. Ada perasaan tidak rela pada kepulangan Arga besok. Padahal beberapa kali Arga mengunjunginya rasanya tidak sesesak ini melepasnya pulang.


"Sayang..." Arga tiba-tiba memeluknya dari belakang


"Abang, Eugi belum selesai nie..."


"Kan ga menganggu tangan Eugi"


"Tapikan susah"


Arga melepas pelukannya dan bersandar disamping Eugi sembari terus menatap kekasihnya yang masih sibuk mencuci. Arga terus menggoda kekasihnya itu sampai wajahnya merah merona padahal belum pakai blush on.


" Eugi..."


Dugghhh


Nafas Eugi menderu sedikit lelah karena menghindari tangkapan Arga. Saat Arga meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat.


"Dapat kan..." Arga


"Siapa suruh cari gara-gara"


"Kan abang duluan yang rusuh" Eugi masih membela diri berusaha melepaskan pelukan Arga.


Keduanya terdiam disaat Arga berhasil membalik tubuh mungil itu. Kini keduanya berhadapan tanpa jarak pada tubuh mereka.


Arga mendekatkan wajahnya membuat Eugi spontan menutup matanya. Itu pertanda signal baik bagi Arga. Perlahan dua bibir itu menyatu. Arga dengan lembut menyentuh bibir ranum itu dengan bibirnya. Tangan Arga meraih tekuk Eugi, sedikit menekannya membuat ciuman itu semakin intens. Eugi menautkan kedua tangannya pada leher Arga. Ciuman lembut itu menuntut lebih sampai keduanya saling melepas tautan untuk mengambil oksigen. Nafas keduanya sama-sama memburu. Ada gejolak nafsu pada keduanya untuk menginginkan lebih.

__ADS_1


Arga kembali mengecup lembut bibir Eugi. Dengan satu gerakan tubuh mungil itu diangkatnya tanpa melepas tautan bibir keduanya. Dengan hati-hati mendudukan Eugi pada sofa abu-abu yang cukup besar.


Arga semakin tidak terkontrol begitupun Eugi yang seakan kehilangan kesadarannya. Tidak hanya dibibir, kecupan lembut Arga mulai menjelajahi telinga, leher jenjang milik Eugi membuat gadis itu merasakan sensasi nikmat.


Eugi sedikit terkejut saat Arga menyapu bagian dadanya dengan bibirnya dan membuka kancing piama bagian atas sehingga bagian yang masih tertutup kain berenda itu tampak menggoda. Tapi seperti terhipnotis dia malah menikmati sentuhan Arga di dua bukit kembar miliknya. Sapuan bibir Arga, dan sentuhan remasan lembut sebelah tangannya menambah gairah dirinya.


Entah kapan Arga melakukannya, kancing piama milik Eugi sudah terlepas semuanya. Gunung kembar itu tampak jelas meski masih tertutup pengamannya.


Arga tiba-tiba berhenti dari kegiatan panasnya. Menatap lembut wajah Eugi. Tangan kekar itu kembali merapikan kancing piama Eugi yang tadi dilepasnya. Arga meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Maafin abang..." Ucapnya merasa bersalah sembari mengecup pucuk kepala Eugi.


Eugi sedikit keki tak bisa menutupi wajahnya yang memerah, menyembunyikan pada dada bidang milik Arga. Bagaimanapun dia menikmati perlakuan kekasihnya itu.


Mengurangi rasa kikuk Arga menyalakan Televisi berukuran besar didepan mereka. Keduanya malahan asik menonton film bertema komedi.


***


Suara bel dipintu menyadarkan Eugi segera melonggarkan pelukannya yang sedari tadi nempel terus kayak perangko.


"Siapa bang? Seingat Eugi ga ada orang yang tau apartemen ini."


"Abang pesan makan siang buat kita" ucap Arga seraya bangkit membukakan pintu.


Setelah membayar, Arga menuju sofa dimana Eugi masih dengan bermalas-malasannya sembari membawa beberapa plastik berisikan makanan ringan sampe makanan berat untuk amunisi mereka berdua.


"Kapan mesannya bang?"


" Kamu terlalu asik nonton sampai ga sadar Abang pesan makanan."


"Emang ga lapar, ini udah hampir pukul 2 loh."


Eugi sedikit kaget dengan waktu yang begitu cepatnya berputar.


Keduanya menikmati makanan sambil bercerita ringan. Manja gadis itu benar-benar kambuh jika sedang bersama kekasihnya, menikmati makanan dari suapan tangan Arga.

__ADS_1


__ADS_2