Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 4


__ADS_3

Disebuah restoran cepat saji yang tidak begitu jauh dari kosan Eugi seorang gadis sudah menyambut Angga dengan senyuman yang sangat mempesona. Pria manapun akan adem hatinya jika melihat senyuman ramah diwajahnya yang cantik terawat itu.


"Itu kan cewek yang tadi bareng Angga ke cafe?" Batin Eugi setelah duduk disamping Angga yang berhadapan dengan gadis itu.


"Tadinya mau ngobrol dicafe nya Angga, tapi kayaknya kamu tadi sibuk banget. Makanya aku minta tolong Angga buat ngajak kamu. Oh iya kenalin aku Sarah..." gadis ramah itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangannya.


"Eugi..."


"Langsung aja Gi, aku lagi cari guru private buat adikku. Dia sekarang kelas 3 SMA. Persiapan buat ujian ahir dan persiapan buat masuk perguruan tinggi."


"Butuh di Eksak nya, terutama Math, karena Non-Eksak dia bisa belajar sendiri"


Eugi manggut-manggut mendengarkan penjelasan Sarah.


"Okee, aku bersedia. Tapi sebelum mulai, boleh aku ketemu dulu sama adiknya. Anggap aja perkenalan."


"Boleh aja, nie nomor aku. Nanti bisa janjian dulu."


Sarah menyerahkan kartu namanya.


Dengan satu seruputan terahir Sarah bangkit dari duduknya.


"Maaf gue ga bisa lama-lama, ga apa ya gue tinggal duluan Ngga, Eugi... Jangan lupa kabarin Gi..." Sarah pamit dan meninggalkan Eugi dan Angga yang tampak buru-buru.


"Orang sibuk ya gitu Gi...Tapi dia wanita hebat, selain jadi kakak dia juga jadi papa dan mama buat adiknya"


"Sepertinya mas banyak tau tentang Sarah?"


"Lumayan... mas udah sahabatan dari SD sama dia..."


"Ooo...ga ada niat macarin dia gitu...biar ga jomblo karatan lagi..." ucap Eugi asal


"Maunya gitu, tapi masih nungguin seseorang" Angga menatap Eugi dalam.


"Ga usah mandang kayak gitu, nanti Eugi jatuh hati loh" serunya sambil mengibas ngibaskan tissue diwajah Angga.


Senyuman Angga menutupi rasa hatinya yang selalu dianggap candaan oleh gadis yang ada dihadapannya itu. Rasa nyaman menumbuhkan benih-benih cinta yang entah sejak kapan bersemayam dihati Angga.


Beberapa kali dia berusaha mengungkapkannya, tapi Eugi selalu tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti.


"Pulang yuk mas, udah malam ini" ajak Eugi sembar melirik jam yang melingkar ditangannya.


Tanpa banyak protes lagi Angga mengiakan dan mengeluarkan dan meletakkan beberapa lembar uang di nampan kecil dengan struk total makanan dan minuman yang mereka pesan sebelumnya.


Angga mengemudikan mobilnya dengan sangat santai. Seolah-olah dia ingin lebih lama bersama Eugi didalam mobilnya.


Gadis itu tampak diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan Angga yang mengerti kegaluan Eugi ikut diam, membiarkan gadis itu larut dengan fikirannya.

__ADS_1


"Makasi ya mas..." suara Eugi memecah keheningan setelah mobil berhenti didepan kosnya.


"Untuk apa?" Balasnya singkat.


"Bantuin Eugi..."


"Sama-sama Gi... kebetulan dia butuh juga...Dan satu hal, Eugi jangan terlalu keras berfikirnya. Ingat, kesehatan itu mahal. Kalo ada masalah jangan dipendam sendiri. Cerita sama mas..."


Senyum simpul Eugi menunjukkan jawaban atas apa yang sedang dialaminya. Dan Angga paham akan hal itu.


"Hati-hati mas..."


"Kamu masuk dulu gih..." ucapnya memastikan Eugi masuk ke kosannya sebelum dia beranjak pulang.


Satu dua langkah mundur sebelum dia benar-benar berbalik dan hilang dari pandangan Angga. Lelaki itu dengan menghembuskan nafas kasar, berat meninggalkan tempat itu.


***


Meski hanya sebatas benda tapi semua pemberian Arga cukup menguras hati seorang Eugi untuk tidak mengingatnya. Pria yang selalu memberikan hadiah disetiap moment meskipun hanya sederhana. Arga suka mengungkapkan perasaannya dengan wujud benda membuat moment itu sulit untuk dilupakan.


Meski keputusan masih sepihak, tapi Eugi belajar mengiklaskan Arga. Terlalu egois memang, tapi itu demi mimpinya. Demi semuanya.


Tinggg...


Pesan masuk dijam yang sudah sangat larut.


Eugi mengerti dia mengirim pesan hanya karna memastikan Eugi masih bangun apa sudah tidur. Kebiasaannya hanya tidak ingin tidur Eugi terganggu. Gadis itu langsung mencari nama"Love Arga" dan memencet tombol memanggil.


"Sayang...kamu sudah makan" kalimat pembuka dari Arga yang hanya basa basi.


"Udah..."


"Kita harus bicarakan ini langsung. Abang ga bisa kamu seperti ini"


"Ga perlu buang-buang waktu bang, gimanapun ini adalah yang terbaik buat kita. mama kamu juga akan bahagia dengan semua ini. Seharusnya Eugi sadar semua itu dari awal." Eugi berusaha menahan isaknya dengan air mata yang sudah berlinang.


"Terserah Eugi mau bilang apa. Yang pasti abang akan datang. Sekarang Eugi istirahat, abang ga mau kamu sakit. Abang sayang Eugi."


Panggilan terputus memecahkan tangis yang sejak tadi tertahan.


Eugi menbenamkan wajahnya dibantal. Perasaannya kacau. Hatinya begitu rapuh. Wajah Arga seolah nyata. Lelaki lemah lembut yang sangat sabar menghadapinya.


Benar-benar lelah ahirnya Eugi membawa tangisnya sampai tertidur.


***


Kembali beraktifitas, pagi yang berat untuk Eugi beranjak. Badannya terasa remuk, Capek badan capek hati. Tapi tanggung jawab mengharuskannya untuk bangun dari tidur.

__ADS_1


Setelah bersiap dan tanpa menyentuh sarapannya Eugi berangkat. Tak ada sedikitpun keinginan untuk memakannya. Perutnya terasa penuh padahal belum memakan apa-apa.


Ddrrtttt...ddrrtttt... panggilan dari "Anggara bozz"


"Pagi pak Angga..."


"Kamu dimana Gi?"


"Baru aja sampai di cafe pak...ada apa?"


"Cahya hari ini ga masuk. Tadi dia dadakan telpon katanya ibunya masuk rumah sakit. Tolong dikondisikan dulu ya, saya akan segera datang"


"Baik pak..."


"Makasi Gi..."


"Sama-sama pak..."


Panggilan berahir. Eugi segera masuk dan mempersiapkan segala sesuatunya. Artinya tanggung jawabnya hari ini akan double.


(Gws buat nyokap loe ya jenk...gua dapat kabar dari pak Angga kl loe ga masuk...)


Pesan terkirim buat Cahya...


Tinggg...


(Makasi Gi... sori gua ngerepotin loe jadinya)


(Gpp... salam buat nyokap ya)


Memulai pekerjaan dengan berdoa sudah jadi kebiasaan Eugi. Berharap hari ini dilancarkan, diberikan ketenangan hati untuk melakukan yang terbaik.


Pelanggan mulai berdatangan, baik makan di tempat maupun take away, Pesanan online yang sudah lumayan. Angga ahirnya turun tangan memegang kasir.


Kesibukan yang lumayan menguras tenaga membuat jam terasa cepat berjalan. Perut yang sudah menunjukkan kode minta diisi. Ternyata sudah pukul 2 aja.


"Gi...istirahat dulu gihhh mumpung sepi..."


"Sebentar aja pak, lagi nanggung... Pak Angga aja duluan, biar saya yang handle" Eugi masih melanjutkan pekerjaannya.


Angga melangkahkan kaki menuju ruangnya. Tampak pak bos itu kelelahan. Satu orang ga ada pekerjaan terasa timpang karna harus berbagi tugas untuk saling menghandle.


Fokusnya bekerja sejenak melupakan beban fikiran yang sedang dialami Eugi. Disela kesibukannya dia meraih benda pintar disaku apronnya. 17 panggilan tak terjawab dari Arga dan banyak chat masuk yang belum sempat terbaca. Hanya mengirimkan pesan singkat.


(Maaf bang...dari tadi kerjaan padat sekali. Ada temannya ga masuk jadi kerjaan padat. Sebentar Eugi telpon ya...)


Gadis itu dengan sigap menyelesaikan pekerjaannya. Menyampingkan segala unek-unek yang sedang dirasakannya.

__ADS_1


Satu kebanggaan bagi Angga memiliki karyawan seperti Eugi, yang sangat profesional dalam bekerja. Padahal Angga tau segala persoalan yang sedang dihadapinya sangat sulit untuk bisa menyampingkannya sementara waktu.


__ADS_2