
Arga sosok on time yang selalu memikirkan kendala-kendala pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Pemikiran seorang pebisnis yang harus dimiliki. Lebih baik menunggu daripada ditunggu.
Berangkat lebih awal pilihan tepat buat mereka saat bertemu dengan kemacetan yang tak terduga. Ahirnya bisa tiba tepat dengan waktu yang sudah dijanjikan.
"Maaf, saya sudah janji dengan nona Sarah" Ucap Arga saat memasuki butik yang terkenal dengan desain-desainnya yang unlimited.
"Atas nama siapa pak?"
"Arga Winata"
"Mari silahkan ikut saya..."
Arga mengikuti langkah salah satu karyawan butik kelantai dua.
Pemandangan yang sangat indah. Pajangan gaun-gaun indah membuat Eugi kagum dengan tangan-tangan terampil sang pembuatnya.
"Heiii Arga... Kalian sudah datang!"
"Maaf, kami belum telat kan? Tumben jalanan kemari macet ga ketulungan..."
"Iya ga papa..." Balas Sarah ramah
"Kenalin, ini Eugi calon istriku..."
Dughhh
Eugi sedikit tercengang, begitupun dengan Sarah.
"Eugi???"
"Mbak Sarah???"
Keduanya hampir bersamaan. Dengan tanpa sungkan Sarah langsung cipika-cipiki dengan Eugi.
"Kalian saling kenal?" Arga mulai penasaran
"Dunia emang sempit yaghhh..." ujar Sarah
"Kenal dimana sayang?"
"Jadi mbak Sarah ini temennya bos Eugi. Kemarin waktu bilang mau resign dan mau cari kerjaan freelance, kebetulan adik mbak Sarah perlu guru les. Pak Angga yang ngenalin" jelas Eugi singkat.
Sarah tampak tersenyum mendengar penjelasan Eugi, dan Arga tampak manggut-manggut mengerti.
"Gue kenal loe di Aussie, Angga temen gue SMA, Gue kenal calon istri loe dari temen gue dan ketemu lagi sama loe. Muter-muter kayak gasing ya..." Sarah begitu antusiasnya dengan silsilah perkenalan mereka.
"Punya pacar tajir dan sukses kok bisanya kerja capek-capek Gi? Parah loe Ga, tega banget sama pacar sendiri" Canda Sarah
"Coba loe tanya dia?" Arga
Eugi hanya tersenyum menanggapi ocehan Sarah.
"Abang salah lagi kan sayang, jadinya dibilang pacar PARAH"
__ADS_1
"By the way, ini beberapa koleksi terbaikku. Karna Arga bilang waktunya ga banyak, cuma 2x24 jam, jadinya kemungkinan mbak hanya bisa menunjukkan beberapa model aja. Mudah-mudahan ada yang nyantol buat Eugi"
"Semua bagus mbak Sarah. Tapi Abang kira-kira suka yang mana?"
"Abang ngikut Eugi aja. mana yang Eugi suka, Abang pasti suka"
"Atau kita coba aja kali ya. Biar Arga juga bisa melihat mana yang paling pas."
Sarah mulai menyiapkan beberapa gaun untuk dicoba dengan bantuan beberapa asistennya juga.
Pertama
"Terlalu berat"
Kedua
"modelnya sudah biasa"
Ketiga
"terlalu ribet"
Sarah mulai memutar otaknya dengan beberpa pilihan yang dicoba masih belum cocok.
"Tia, tolong ambilkan gaun yang dilantai 3. Mudah-mudahan yang satu ini cocok." pinta Sarah pada asistennya.
Pilihan yang sulit. Disaat Arga suka, Eugi merasa kurang nyaman. Disaat Eugi suka Arga yang keberatan. Sarah benar-benar bingung dengan dua selera yang berbeda tapi mampu menjalani hubungan pacaran yang cukup lama.
Tak lama Asisten Sarah datang dengan gaun simple tapi cukup elegan untuk dicoba.
"Gue ga yakin sie dengan model yang ini. Karena sudah beberapa client ga pernah melirik desain yang ini." ujar Sarah hopeless.
Sedikit dag Dig dug menunggu Eugi keluar dari ruang ganti. Diluar dugaan, sesuatu yang dianggap terlalu biasa, malah tampak luar biasa ditubuh Eugi.
"Eugi"
"Abang"
"Suka dengan yang ini"
Keduanya berucap bersamaan.
"Wahhh, kalian emang pasangan yang kompak" Sarah sedikit lega ahirnya berlabuh pada pilihan terahir.
Sarah kembali meneliti dan mempermak beberapa bagian untuk disempurnakan.
"Gue akan langsung siapkan dan kirim ke lokasi acara. Jadi kalian hanya tinggal tunggu aja. Beberapa hal yang sudah kita bicarakan sebelumnya akan disiapkan sesuai dengan yang loe mau"
Selain menjadi desainer terkenal dan pemilik butik yang cukup dikenal dikota Bandung Sarah juga dikenal sebagai WO yang sangat bisa diandalkan. Arga mempercayakan hari specialnya pada Sarah karena sudah mengetahui jam terbangnya yang cukup tinggi.
"Berhubung ini sudah jam makan siang, gimana kalo kita lunch dulu sebelum kalian pulang?" ajak Sarah
"Bukan maksud hati mau nolak Sarah, tapi ada beberapa hal yang harus kita selesaikan dulu. Mungkin kita bisa atur lain waktu ya. Lagian gue akan stay di Bandung jadi kapan aja kita bisa ketemu." jelas Arga dengan penolakan halus.
__ADS_1
"Oke deh... berarti fix kita akan ketemu di tempat acara ya. Gue akan info loe kalo ada apa-apa."
"Makasi banyak loh buat bantuannya"
"Gue WO Arga, so udah tugas gue. Bukan ngerepotin namanya. Kan dibayar hehheh"
"Bener juga ya" balas Arga
Eugi hanya bisa tersenyum disamping Arga mendengarkan celoteh keduanya.
Akibat ada acara mewek-mewekan diperjalanan, mood Eugi sedikit melow jadinya. Arga menyadari hal itu ahirnya mengerti dan memutuskan untuk segera pulang.
Sebelum melajukan mobilnya Arga sempatkan untuk memesan makanan melalui aplikasi. Agar sesampainya diapertemen makanan mereka juga sampai. Karena dia yakin keadaan saat ini akan sulit untuk mengajak Eugi untuk mampir walaupun hanya sekedar untuk makan.
***
"Eugi mau mandi dulu bang" Ucap Eugi sesampainya di apertemen.
"Sayang?" Arga
Eugi menghentikan gerakan tangannya yang ingin membuka handle pintu kamar dan berbalik.
Sosok Arga spontan memeluk tubuh mungil itu, dia tau kekasihnya itu sedang rapuh.
"Jangan ditahan. Sekarang kamu boleh menangis sepuasnya. Tumpahkan segala kesedihan kamu" ucap Arga memeluk erat tubuh yang terguncang hebat itu.
Dengan menangis akan membuat Eugi lega. Itu hal yang sering dilakukannya dan Arga sangat paham untuk itu.
"Maafin Eugi" ucapnya masih dalam isakan
"Untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan sayang. Justru Abang yang minta maaf belum bisa meyakinkan orang tua Abang, belum bisa meyakinkan keluarga Abang dengan semua tentang kamu"
"Abang gagal mewujudkan impian kamu, membuat orang tua Abang menjadi orang tua kamu, membuat kamu merasakan memiliki orang tua disaat kita menikah, Abang yang salah sayang. Maafkan Abang."
"Kita akan melewati semuanya ini"
Eugi menganggukkan kepalanya sambil menatap mata Arga.
"Makasi sayang" ucap Eugi
Arga dengan lembut mengecup pucuk kepala kesayangannya itu.
"I love you Eugi Nathali"
"Love you too Arga Winata"
Senyum keduanya mengembang meski wajah keduanya tampak kacau dengan air mata.
"Sekarang Eugi segarkan diri dulu. Abang lagi nunggu pesanan makanan. Habis itu kita makan siang."
"Hhhm"
Eugi memasuki kamar untuk menyegarkan diri. Karena wajahnya sangat terlihat berantakan.
__ADS_1