Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 37


__ADS_3

"Mas Angga?"


"Ga nyangka ketemu kamu lagi"


"Iya mas, tadi ipar cek di aplikasi dan nemu cafe ini. Eugi baru nyadar pas udah nyampe. Mas Angga apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat. Kamu..."


"Maaf mas, saya mau ke toilet dulu ya." Pamit Eugi sebelum Angga melanjutkan kalimatnya.


"Oke, silahkan" balas Angga


Ada rasa gugup dengan pertemuan tanpa disengaja itu. Angga menghela nafas kasar. Ternyata hatinya masih sama bergetarnya setelah beberapa waktu tidak bertemu. Tapi buru-buru ia menepis mengingat status wanita yang dia cintai saat ini sudah menjadi istri orang lain.


Angga melanjutkan langkahnya. Memasuki ruangan kebesarannya. Dia kembali dibuat galau oleh wajah yang masih menghuni hatinya.


.


.


.


.


.


Setelah makan siang ketiganya memutuskan untuk pulang. Karena mama merasa udah capek. Ternyata benar adanya usianya sudah tidak muda lagi.


"Kalo gitu ga papa mama pulang pake taksi aja. Kalian kalo mau jalan dilanjutin aja."


"Kita ikut mama pulang aja. Lagian udah selesai belanjanya kok"


"Iya ma, kita pulang aja. Udah mendung juga, takutnya keburu ujan" Eugi menimpali


Ketiganya beranjak dari duduk cantiknya. Langit sudah mulai hitam pertanda hujan akan kembali mengguyur kota. Tapi sebelumnya Eugi pamit pada sahabatnya.


"Gue duluan ya Ca. Kalo loe off kita meet up ya." Pamit Eugi pada sang sahabat.


"Siap nyonya Winata" Balas Cahya becanda


Keduanya saling cipika cipiki sebelum ahirnya berpisah. Eugi masih sempat melempar senyum pada Angga yang sedang sibuk didalam ruangannya yang tidak tertutup rapat, yang sedang mengamatinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hujan benar-benar menguyur kota dengan derasnya. Untung saja jarak ke apartemen tidak begitu jauh, hingga tidak perlu menikmati macet karena kondisi hujan.


"Eugi ke kamar dulu ya ma."


"Iya sayang, istirahat aja. Kamu pasti capek"


Eugi melangkahkan kaki menuju kamar dengan beberapa barang belanjaannya. Bukan hanya miliknya, dia membeli beberapa untuk Arga.


Deringan ponselnya menghentikan aktivitasnya beberes barang belanjaannya.


"Iya sayang"


"Dimana sayang?"


"Baru sampai apartemen bang. Habis makan siang tadi kita langsung pulang, mama kayaknya kecapean, lagian untung sudah pulang. Hujan deras banget"


"Ohh, Abang masih dikantor, masih ada beberapa pekerjaan yang harus Abang selesaikan."


"Udah makan?" tanya Eugi


"Udah sayang, kangen kamu" gombal Arga


"Lebay deh..."


"Beneran sayang. Kangen sangat"


"Abang siang bolong gombal ihh" Eugi merona

__ADS_1


"Ga percaya, ntar malam Abang buktiin ya"


"Udah ah, Abang kelarin kerjaannya, biar bisa cepat pulang. Katanya kangen"


"Beneran ya, ntar malam boleh lepas kangen ya? Eugi udah beres?"


Dughhh...


Jantung Eugi seketika terpacu. Mulutnya terasa terkunci karena gugup.


"Sayang, kok diam?"


"Nnggak papa bang. Udah ya, Eugi tutup telponnya"


"Pertanyaan Abang kok ga dijawab??" goda Arga


"Udah ahh, Abang lanjutin kerja dulu ya. Eugi pengen ke kamar mandi" ucapnya seketika memutuskan.


Arga paham kondisi sang istri sedang grogi. Kebiasaan yang Arga sudah paham, sosok Eugi paling ga bisa menyembunyikan kegugupannya. Dan dia sangat merindukan sosok malu-malu dengan wajah pink merona.


.


.


.


.


.


Sudah pukul 09.53, Eugi semakin gelisah saat Arga belum juga pulang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Menikmati suasana malam dari balkon kamarnya menjadi pilihan menemani kegelisahannya menunggu sang suami yang belum juga pulang. Sedangkan mama mertua dan Melisa sudah masuk kamar sebelumnya. Mama sepertinya kurang enak badan memutuskan untuk istirahat terlebih dulu.


Dinginnya malam sehabis hujan mengusir Eugi untuk segera masuk. Sambil memainkan ponselnya dia rebahan di sofa kamar sembari menunggu sang suami.


Gadis itu tertidur dengan ponsel masih menyala menunjukkan game yang sedang on. Arga yang baru pulang merasa bersalah melihat istrinya menunggu sambil ketiduran. Posisi tidur yang manis sekali.


Kecupan singkat mendarat dikening mulus Eugi.


"Maafin Abang buat kamu nunggu ya" gumamnya


Kemudian Arga bergegas membersihkan diri tanpa membangunkan Eugi.


Suara gemercik air dikamar mandi mengusik tidur Eugi. Dia terbangun sambil mengucek mata melihat jam di ponselnya.


"Sudah jam 11 aja" gimamnya


Arga keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya. Hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya membuat Eugi sedikit malu.


"Maaf Abang pulangnya telat ya. Ponselnya mati, Abang lupa bawa powerbank. Tadi ada meeting alot sekali sayang" jelas Arga tanpa diminta sembari mendekati yang istri yang hanya tersenyum mengiakan.


"Pake baju dulu, nanti masuk angin bang. Eugi panaskan makanan dulu" ucapnya seraya bangkit.


Tapi tangan kekar Arga lebih lebih cepat menariknya hingga Eugi terjatuh dipangkuan sang suami.


"Abang makan kamu boleh?" bisiknya membuat Eugi merinding dengan sapuan bibirnya diceruk yang begitu menggoda.


"Wangi sekali sayang?" Arga masih mengeksplor wajah hingga leher sang istri.


Getaran seperti sengatan listrik membuat Eugi memejamkan mata dengan perlakuan Arga. Tidak menolak bahkan tubuhnya menginginkan sentuhan yang lebih lagi.


Bibir mereka terpaut saling memangut. Pelan semakin dalam dan semakin menuntut. Tangan Arga tak tinggal diam, dia mulai meraba, meremas bagian yang dia inginkan yang membuat gairah Eugi semakin bertambah.


"Sudah boleh?" bisiknya lembut ditelinga Eugi


Tanpa menjawab, Eugi yang sudah terangsang oleh sentuhan Arga hanya mengiakan dengan anggukan malu-malu.


Arga dengan lembut terus memberikan sentuhan sentuhan yang membuat Eugi terbang.

__ADS_1


Satu persatu kain yang melekat pada tubuh Eugi terlepas tanpa disadari, kini dia seperti bayi yang baru lahir tanpa sehelai benangpun. Sama halnya dengan Arga, handuk yang tadi melilit dipinggangnya terlepas begitu saja.


"Ahhh"


Eugi menggigit bibir bawahnya agar suara desahannya tidak keluar.


"Jangan ditahan sayang, mendesah lah..."


"ummhh"


"ahhh"


"Sayanggg..."rengek Eugi saat Arga memainkan bagian intinya


"Ahhh..."


"Abang, pengen pipis" Ucapnya masih dalam balutan nafsunya yang besar.


Arga tersenyum tapi tetap tidak menghentikan aktivitasnya. Eugi mendapatkan pelepasannya.


"Aughhh"


Kembali Arga ******* bibir yang sudah menjadi candu baginya.


"Abang masukin ya" bisiknya pelan


Eugi yang sudah dengan nafsu diubun-ubun hanya mengiakan


"Kalo sakit bilang sama Abang ya, kamu boleh cakar, gigit, apalah yang Eugi mau. Jangan ditahan ya sayang"


"Pelan ya bang..." pintanya sedikit takut, karena ini yang pertama baginya.


Arga mengambil posisinya dengan adik kecilnya yang sudah tampak gagah. Pelan menggesekkan ujungnya kebagian inti Eugi yang sudah basah. Sedikit demi sedikit mendorong gua kecil yang cukup sulit untuk di tembus. Adik kecilnya serasa dijepit sangat kuat.


"Aughhh" Eugi tampak merasa sakit ketika Arga mendorongnya lebih dalam.


"Sakit sayang, tahan sebentar ya sedikit lagi"


Sekali hentakan lagi Arga berhasil menembus selaput dara wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Eugi dengan erat memeluk punggung Arga. Arga masih diam membenamkan adik kecilnya digua kenikmatan milik Eugi. Memberikan jeda untuk Eugi.


"Kita berhenti saja, kamu tampak sakit sayang"


Eugi menggeleng


"Pelan-pelan saja bang. Kata orang pertama memang sakit, tapi katanya lama-lama jadi nikmat." balasnya


"Eugi pengen merasakan kenikmatan itu, Abang juga maukan?"


Arga tersenyum dengan jawaban sang istri. Pelan menggerakkan pinggulnya, berirama.


"masih sakit?" Arga masih kuatir


Sambil menikmati gerakan Arga Eugi tersenyum, menikmati hentakan-hentakan lembut Arga. Sakit perlahan menghilang dengan getaran-getaran nikmat yang dia rasakan. Sesuatu yang hebat terasa menyengat keseluruh tubuhnya, Arga merasakan hangat dari dalam inti Eugi, yang membuatnya semakin semangat memompa tubuh Eugi.


Dinginnya ruangan terkalahkan oleh panas yang ada dalam diri keduanya. Keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya.


"Sayang... ahhhh..." Erang Arga yang akan menuju puncaknya...


"Sayang Ahhh" balas Eugi merasakan hal yang sama akan keluar.


"Sama-sama sayang ahhhh"


"Ughhhh"


"Ahhhh..."


Erangan panjang Arga menumpahkan kenikmatan yang menyembur kedalam rahim sang istri. Menahannya sejenak sambil menetralkan dirinya sambil memeluk erat Eugi yang merasakan hal yang sama, mencapai puncak kenikmatan dunia.

__ADS_1


Lelaki itu merebahkan tubuhnya disamping Eugi, meraihnya kedalam pelukannya, mengecup keningnya dengan lembut. Eugi yang masih bergetar hanya memejamkan mata memeluk suaminya.


"Makasi sayang..." ucap Arga berkali-kali sembari mengecup pucuk kepala sang istri.


__ADS_2