Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 15


__ADS_3

David hanya diam sambil terus melajukan mobil yang sedang dikemudikannya. Tanpa bicara dia hanya mengikuti perintah yang keluar dari mulut sang bos.


"Bawa saya ke apertemen!" perintah Arga


Sebuah hunian mewah milik Arga yang selama ini ditempati oleh David menjadi tujuan mereka.


Sambil membantu Arga menurunkan barang-barangnya keduanya berjalan tanpa ada yang membuka percakapan.


"David, kita bicara di ruang sebentar, ada yang perlu kita bicarakan" Ucap Arga ahirnya setelah melihat David yang hendak masuk kedalam kamarnya.


Tanpa protes David mengikuti langkah Arga, menuju ruang santai yang cukup luas.


"Pasti kamu sudah paham apa yang sudah terjadi dirumah barusan. Saya sudah duga hal ini akan terjadi, untuk itu tidak perlu mengkuatirkan keadaan saya."


Tanpa bicara pun sebenarnya Arga tau jika asistennya itu sangat kuatir. Tapi dia tidak berani komentar apalagi bertanya sebelum Arga yang akan bercerita sendiri.


"Bagaimana rencana bapak selanjutnya?"


"Apa yang sudah saya mulai tidak mungkin akan terbengkalai hanya karena masalah ini David. Saya akan melanjutkan apa yang sudah saya mulai. Segera urus apa yang sudah saya perintahkan. Dalam Minggu ini kita akan ke Bandung"


Selain mengurus perusahaan keluarganya, tanpa mereka tau Arga sudah memiliki usaha atas kerja kerasnya sendiri. Dengan itu dia bisa mengumpulkan modal, membeli beberapa aset atas namanya.


"Kamu bisa istirahat sekarang."


Tanpa banyak bicara, David meninggalkan Arga yang tampak masih berfikir keras. Dengan bersandar pada sofa, tangan sebagai bantalan menopang kelapanya. Tatapannya mengarah kelangit-langit dengan mata terpejam.


Suara deringan ponselnya membuyarkan lamunannya.


"Shhitt"


Sudah jam 11 malam. Tadi dia janji akan Vidio call dengan Eugi. Untung hanya voice call


"Sayang, udah tidur?" suara disebrang langsung terdengar masih on


"Maaf sayang, tadi ketiduran. Maaf ya, niatnya rebahan kok malah keterusan" bohong Arga


"Ya udah ga papa, lanjutin tidur aja. Eugi juga tadi ketiduran. Udah malam juga, Abang pasti capek seharian perjalanan dan langsung kerja"


"Sekarang udah ga ngantuk lagi kok. Abang Vidio call ya"


"Ga usah sayang. Besok aja ya. Kita istirahat aja"


"Eugi ga lagi marah kan???" selidik Arga


"Ya nggak lah. Eugi ngerti Abang pasti capek. Ya udah gih istirahat ya. bye sayang"


"Ga kangen sama Abang?" goda Arga


"Apaan seehhh bang"

__ADS_1


"Serius ga kangen sama Abang???"


"Ga usah ditanya aja pasti kangen pake banget." jawab Eugi terdengar malu-malu.


"Sabar ya, secepatnya Abang akan menghalalkan Eugi. Biar kangennya ga terbatas"


Entah sudah seperti apa merah wajah Eugi mendengarkan kalimat-kalimat sederhana dari Arga. Rasanya panas.


"Ya udah, Eugi tutup telponnya ya. Bye sayang"


Arga tersenyum membayangkan wajah Eugi saat ini. Wajah merah tomat dengan segala hal yang dia rindukan pada diri kekasihnya itu. Kebiasaan kalo sudah digoda dia akan mematikan sambungan telpon sepihak tanpa menunggu respon.


Sabar sayang, sebentar lagi kita akan hidup bersama. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali takdir kematian dari Tuhan.


***


Arga masih berkutat dengan beberapa dokumen yang harus dia selesaikan. Mood booster yang barusan bicara dengannya membuatnya tanpa lelah memikirkan yang akan dilakukannya.


Berjuang tanpa embel-embel Bagas Winata membuatnya ingin membuktikan jika dia mampu membahagiakan orang yang sangat dicintainya meskipun tanpa kekayaan keluarganya.


Eugi saat ini menjadi prioritas utamanya. Gadis sederhana yang telah membawa separuh jiwanya.


Flashback on


Perkenalan tidak disengaja pada saat acara bakti sosial yang mana Arga menjadi salah satu donatur terbesar.


Wajah yang tampak dewasa, lembut, penuh dengan karisma dalam kesederhanaan.


"Terimakasih David buat informasinya" ucap Arga sedikit keki ketahuan memperhatikan gadis manis didepannya.


"Apa bapak ingin mengenalnya lebih jauh?"


Tatapan tajam dari bosnya itu menciutkan nyali ya untuk bertanya lebih jauh.


***


Setiap hari ada rasa rindu pada senyuman manis Eugi. Padahal saat itu Arga sudah memiliki Agnes yang sedang dalam masa pendekatan dalam ajang perjodohan dari mamanya.


Wajah Eugi dengan segala kesederhanaannya melekat membuatnya sangat ingin memilikinya.


Tak terlepas dari bantuan sang asisten dengan alasan membuat satu acara dipanti dimana Eugi tinggal ahirnya Arga bisa melihat kembali dari dekat wajah wanita yang selama satu tahun terahir membayangi hari-harinya.


"Eugi kan?" tanya Arga basa-basi sembari duduk disamping gadis itu


"Iya pak. Pak Arga apa kabar?"


Siapa yang tak tau nama itu. Nama yang sering dipuji-puji atas segala kebaikannya pada rumah panti


"Kabar baik. Ngomong-ngomong kamu sudah lulus kan?"

__ADS_1


"Sudah pak."


"Ga lanjut kuliah?"


"Sebenarnya pengen, cuma mungkin bisa nanti-nanti. Saya mau bantu ibu sama bapak panti dulu."


Benar-benar obrolan garing dengan kecanggungan level sekarat diantara keduanya.


"Eugi, Mau ga jadi pacar saya!" ucap Arga to the point tanpa basa basi dan jauh dari susana nembak membuat Eugi spontan kaget.


"Mungkin ini membuat kamu kaget, bingung, atau apalah. Tapi yang pasti saya suka sama kamu sejak lama. Saya berusaha menepis perasaan saya yang selama setahun terakhir ini hanya ada kamu."


"Ba bapak...?"


"Saya aneh ya? Ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba doorr" ucap Arga dengan senyum simpulnya


Eugi masih dengan kebingungannya hanya bisa diam tak tau harus bicara apa.


"Tidak perlu kamu jawab sekarang. Saya tau ini seperti bom tiba-tiba buat kamu. Tapi saya akan menagih jawabannya. Dan harapan saya itu bukan hal yang akan membuat saya kecewa."


Setelah sukses membuat Eugi bingung, Arga beranjak meninggalkan Eugi yang masih dalam ribuan pertanyaan.


"Dasar laki-laki aneh. Ga ada angin ga ada hujan udah banjir aja" batin Eugi


Munafik jika tidak ada rasa dalam hatinya melihat ketampanan pria aneh yang baru saja membom hatinya. Tapi saat ini rasa itu hanya sekedar kagum dengan kebaikan sosok Arga, tidak lebih dari rasa hormat pada orang yang sudah memberikan sambungan kehidupan pada anak-anak panti.


***


Lama Arga tidak pernah datang ke panti semenjak dia mengungkapkan perasaannya yang tiba-tiba pada Eugi. Hal itu juga Eugi ceritakan pada ibu panti.


"Dia anak yang baik Gi. Ga salah juga jika dia menaruh hati sama kamu nak."


"Tapi Eugi ga punya perasaan lebih Bun. Eugi menyukainya hanya karena segala kebaikannya, Eugi menghormatinya, Eugi ga pernah berfikir lebih"


"Berdoa sama Tuhan, minta jawaban sama Tuhan."


Nasehat ibu panti yang selalu mendamaikan hatinya. Tapi kenapa Eugi merasa gusar setelah beberapa bulan terakhir sosok Arga tidak pernah berkunjung ke panti.


Orang punya kuasa seenaknya aja mengumbar rasa sesaat. Ga mikir bagaimana dampak buat orang lain. Dia fikir sehebat apa dia? Seenaknya bilang suka, tapi sampai detik ini tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Dia fikir karena orang kaya seenaknya mempermainkan perasaan orang. Sudah dibuat baper, eh malah menghilang.


Eugi ngedumel dalam hati sambil terus menyiram tananam yang tampak indah dengan berbagai warna yang cantik.


***


Perasaannya seakan dipermainkan oleh sosok Arga yang menghilang entah kemana rimbanya.


Dia juga wanita normal yang punya rasa terhadap lawan jenisnya. Pernyataan suka yang tiba-tiba dan ini hal yang pertama buat Eugi merasa hangat dan terus berfikir semenjak ungkapan Arga yang tiba-tiba.


"Suka, iya saya suka. Tapi masih sebatas suka. Jadi kecewanya ga begitu dalam dengan kamu ga pernah datang menagih jawaban"

__ADS_1


Flashback off


Mengingat awal pertemuan kisah mereka, Arga tersenyum sendiri. Gadis lugu, lucu, menggemaskan yang dicintainya dengan caranya yang aneh.


__ADS_2