
Setelah melirik jam yang melingkar di tangannya, Arga dan Bram mengahiri cerita. Seperti janjinya pada Eugi akan makan siang bersamanya.
Gadis itu masih terlihat sibuk saat Arga memasuki cafe. Cahya yang melihat menghampiri Arga yang memilih duduk di sudut cafe. Dimana dia dapat leluasa memandang gadisnya yang sedang bertugas.
"Silahkan..." ucap Cahya sopan menyodorkan menu. Gadis itu hanya tau kisah Arga tanpa tau wujud manusianya.
"Saya mau pesan minum aja dulu. Soalnya saya masih menunggu seseorang. Orange jus satu ya..."
"Oke, silahkan di tunggu..."
Sepeninggalan Cahya
"Begitu beratnya pekerjaan ini Gi. Tapi kamu selalu bilang tidak lelah. Begitu tinggi harga dirimu menolak kenyamanan yang aku siapkan padamu. Aku yang melihat baru sebentar merasakan kalau kamu itu capek" batin Arga ga rela melihat gadisnya bekerja.
"Silahkan orange juu..."Eugi terbata melihat orang yang ada dihadapannya menyambutnya dengan senyuman.
"Sejak kapan abang ada disini???"
"Belum lama, kurang dari 10 menitlah."
"Kok ga panggil Eugi..."
"Kamu keliatan lagi sibuk sayang... makanya abang tunggu aja."
"Ga papa abang tunggu. Sebentar lagi Eugi baru istirahat..."
"Ga papa sayang... abang akan tunggu"
Dengan senyuman manisnya Eugi meninggalkan Arga yang langsung menyeruput orange jus yang sudah menemaninya. Cahya yang melihat kedekatan mereka langsung menghampiri Eugi menuju dapur meminta penjelasan.
"Loe kenal ama tuh cowok?"
"He ehhh..." sembari Eugi memperlihatkan punggung tangannya membuat Cahya makin penasaran ditambah dengan cincin indah yang melingkar dijari manisnya.
"Maksud loe???"
"Kebanyakan maksud ihhh..." sewot Eugi.
"Cowok itu Arga???"
Senyum Eugi menjawab pertanyaan sahabatnya yang sedikit telmi alias telat mikir.
"Ganteng bangettt..." Cahya dengan ekspresi lebainya
Eugi hanya tersenyum menanggapi
"Artinya loe dilamar sama dia? Trus artinya loe dah terima..."
"Artinya dia ngajak gue nikah...dan gue bahagia Cahya..." balas Eugi ga bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Trus rencana kuliah loe Gi?"
"Gue masih belum percaya kalo dia sangat mikirin gue, memikirkan segala cara agar gue tetap bersama. Dia mau buka kantor di sini Ca, dengan syarat gue menikah sama dia. Gue masih mikir apakah ini adalah keputusan terbaik..."
"Gue tau loe cinta baget sama dia, gue tau loe pengen mengahiri hubungan loe hanya karna jarak dan loe ga mau menggantung hubungan kalian. Dan sekarang cowok loe dah ngasi solusi seharusnya loe happy dong..."
"Gua masih takut. Soalnya mama Arga ga suka sama cewek miskin kayak gue. Apalagi mamanya sosialita elite"
"Percaya sama dia Gi... Pengorbanannya harus loe dukung. Jangan mikir yang aneh-aneh"
__ADS_1
"Semoga lancar ya Ca..."
"Ya dah loe istirahat dulu gih... mumpung sepi juga. Loe mau keluar apa lunch di sini aja???"
"Gue tanya Arga dulu ya..."
Eugi melepaskan apronnya sambil menuju meja dimana Arga sedang menunggunya.
"Mau keluar bang?"
"Boleh aja..."
"Abang tunggu dimobil ya, Eugi ambil tas dulu"
Keduanya melangkah bersama semetara Eugi mengambil tasnya, Arga keluar duluan menunggu gadisnya dimobil.
***
Diparkiran sosok Angga yang baru datang berpapasan dengan Eugi.
"Mau kemana Gi?"
"Maaf pak, istirahat hari ini saya keluar ya."
Tampak Arga mendekati Angga dan Eugi.
"Saya akan antar Eugi sebelum jam istirahatnya berahir" Arga meminta ijin.
"Pacar kamu?" Angga memastikan Eugi
"Iya pak... Dia Arga...Bang, ini pak Angga pemilik cafe ini" jelas Eugi
" Ya udah, nikmati hari ini. Kamu ga perlu balik kerja hari ini. Lagian saya sudah ada..." ucap Angga sedikit kecewa tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Tapi pak..."
"Ga papa, jarang-jarang kalian bisa ketemu"
Meski merasa sedikit kecewa Angga memberikan Eugi ijin.
"Baiklah...Terimakasih sebelumnya. Ayo sayang..." ucap Arga sambil meraih tangan Eugi dan melangkah menuju mobilnya terparkir.
Angga yang memaksakan senyumnya segera beranjak memasuki cafe.
Dia bahagia melihat senyum Eugi yang ceria. Meski hatinya berkata lain.
"Gue mikir apa sie..." lirih Angga pada diri sendiri.
Dari dalam cafe masih sempat Angga melirik keluar mengantarkan kepergian Eugi yang membuatnya sedikit nyesek.
"Kenapa kok gue ga rela ya!!!" Batin Angga sedikit menolak apa yang dilihatnya.
Fikirannya teralihkan dengan kondisi cafe yang mulai ramai.
***
Dinginnya Ciwidey membuat Eugi enggan untuk membuka sweater yang dikenakannya. Tapi pemandangan indah didepan mata mengalahkan kaki yang tak bisa menahan diri.
Arga merangkul kekasihnya itu, menyalurkan kehangatan sambil melangkah meninggalkan mobil diparkiran.
__ADS_1
Danau berkawah putih yang indah menyuguhkan vitamin mata yang menyehatkan. Sebenarnya tempat ini bukan baru pertama kali mereka kunjungi. Tapi pemandangan dan suasananya selalu memberikan kenyamanan.
"Eugi suka?"
"Sangat suka bang... Makasi"
"Jangan selalu mengucapkan kata itu. Buat kamu apapun abang akan lakukan. Coz I love you so much. Abang bisa sampai ketitik ini, bisa mencapai sukses sampai hari ini, semua karna dukungan Eugi. Membuat Eugi bahagia adalah prioritas abang untuk saat ini."
Kata-kata yang menyentuh membuat sosok Eugi terharu. Ada air mata tapi itu air mata bahagia.
Pelukan yang menghangatkan membuat gadis itu sangat menikmati damai yang selama ini terpisah darinya. Arga mencium lembut pucuk kepalanya, mencurahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Serasa dunia hanya milik mereka berdua.
Sangat menikmati waktu yang ada, keduanya benar-benar tak menyiakan pertemuan dengan hal yang membuat keduanya tak kehilangan moment untuk tersenyum.
Sore datang menjemput malam, satu tempat yang sudah disiapkan untuk Eugi tapi sebelum mereka keluar dari dalam mobil Arga meminta ijin untuk menutup mata Eugi.
Sedikit protes yang tak berarti apa-apa bagi Arga. Dengan pelan Arga membimbing Eugi untuk berjalan.
"Kok harus pake tutup-tutupan sie sayang..."
"Ikut aja, jangan protes okee..."
"Tunggu jangan bergerak ya..." perintah Arga yang beranjak sesaat dan kembali lagi berada dibelakangnya. Perlahan penutup mata terbuka dan kembali Eugi diperhadapkan dengan kenyataan yang membuat hatinya berbunga-bunga.
"Happy b'day sayang..." ucap Arga lembut seraya mengecup keningnya.
Setelah make a wish, Eugi meniup lilin yang jumlahnya sebanyak usianya. Tepat 20 tahun.
Meski hanya ada mereka berdua tapi Eugi benar-benar bahagia. Padahal dia sendiri melupakan hari jadinya.
"Makasiii sayang... abang ga pernah lupa dengan tanggal ini..."
"Semoga kebaikan yang terbaik selalu menyertai Eugi ya..."
"Ini hadiah kecil buat Eugi" Arga mengalungkan sebuah kalung berliontinkan hati dengan permata yang indah. Lagi-lagi membuat hatinya bergetar.
Menikmati makan malam romantis memberikan kenangan yang tak akan bisa terlupakan. Jarak yang membentang diantara mereka selama ini hingga tak bisa sering melepas rindu. Tak salah setiap pertemuan selalu memberikan kesan yang akan selalu menorehkan ingatan bahagia.
Malam yang semakin larut mengharuskan mereka untuk pulang. Karena bagaimanapun rasa lelah tetap saja datang. Karena bagaimanapun mereka juga manusia.
***
Eugi yang sudah sangat mengantuk ahirnya tertidur setelah membersihkan diri. Tak butuh waktu lama dia sudah berlayar kedunia mimpi. Arga hanya tersenyum melihat wanitanya tidur dengan wajahnya ceria menggemaskan.
Arga memanfaatkan waktu untuk mencek email dan yang lainnya yang seharian terabaikan demi orang tersayangnya.
Deringan telpon menghentikan aktivitas Arga. Dan segera menjawab panggilan David asistennya.
"Iya Vid, ada sesuatu yang penting?"
"Pak, surat-surat yang bapak minta sudah saya siapkan. Apakah perlu saya mengirimkannya?"
"Kayaknya ga perlu, mungkin beberapa hari kedepan saya akan pulang. Bisa kamu simpankan saja untuk saya..."
"Baik pak, dan masalah...."
David mulai berbicara selancar jalan tol yang bebas hambatan menjelaskan keadaan perusahaan selama Arga tinggalkan. Selain menjadi asistennya sosok David tergolong punya kemampuan diatas rata-rata hingga Arga tidak begitu kuatir jika menyangkut pekerjaan.
"Baiklah, saya akan usahakan secepatnya pulang..."
__ADS_1
Sambungan telpon terputus dan Arga melanjutkan pekerjaannya.