Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 13


__ADS_3

Tak seperti biasanya Angga betah belama-lama di cafe. Setelah mengambil beberapa berkas di ruangannya pria berawakan tinggi, tegap, berkulit putih bak oppa-oppa Korea itu langsung meninggalkan cafe. Hanya sedikit bicara sekedar menyapa. Bahkan Eugi sendiri dicuekin begitu aja.


"Kenapa tuh pak bos?" suara Valen merasa bosnya hari ini bersikap lain dari hari-hari sebelumnya.


"Mungkin lagi ada kesibukan kali, makanya buru-buru" balas Eugi positif thinking.


Flashback on


Semalaman tidak bisa membuatnya tidur membuat kepalanya tidak bisa diajak kompromi. Beniat menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen proyeknya ternyata malah membuat Angga mendapat suguhan yang membakar api cemburu dihatinya.


Tepat dia akan mengarahkan kemudi menuju parkiran cafe, pemandangan yang tak ingin dilihatnya tersuguh didepan matanya.


Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya, menatap sesuatu yang tak ingin dilihatnya.


"Ada apa dengan gue? Kenapa gue kesal melihat ini semua! Kenapa gue ga rela Eugi dipeluk kekasihnya?"


"Gila loe Ngga" rutuknya pada diri sendiri


Memilih berdiam didalam mobil sembari menunggu Arga meninggalkan parkiran dan membiarkan Eugi masuk kedalam cafe.


Flashback off


***


Disela-sela kesibukannya sesekali Eugi mencek ponselnya menunggu kabar dari Arga. Masih belum aktif, yang artinya Arga masih dalam mode pesawat.


Gadis itu duduk di ruangan khusus karyawan menikmati secangkir coffe latte menemani jam istirahatnya.


Merenungi apa yang sedang dia alami, akankah semuanya berjalan dengan lancar? Akankah kedepannya bisa dia jalani bersama Arga? Apakah keputusan menerima untuk menjadi istri Arga pilihan yang tepat baginya untuk mengiakan?


Dan begitu banyak pertanyaan yang masih menumpuk difikirannya.


Drreettt drreettt.

__ADS_1


Getaran ponsel dimeja membuyarkan lamunannya, dan dengan segera senyuman muncul dibibir merah mudanya melihat siapa yang menelponnya.


"Iya sayang..." sapa Eugi setelag panggilan tersambung


"Abang sudah sampai ya, ini Abang langsung kekantor. Sudah dalam perjalanan sama David. Eugi sudah makan siang sayang?"


"Lagi ga pengen makan bang. Tapi ini lagi jam istirahat aja."


"Makan dong sayang, Abang ga mau kamu nanti sakit loh. Kenapa? Kangen sama Abang?" goda Arga diseberang


"Apaan sie. Kalo kangen pasti iyalah. Emang Abang ga kangen Eugi?"


"Soal itu jangan ditanyakan sayang. Rasanya ga ingin pisah dari kamu. Dilan benar, rindu itu berat"


"Ihhh sok puitis. Ya udah, Abang hati-hati. Jaga mata jaga hati ya"


"Iya sayang, Eugi juga hati-hati ya. Doakan urusannya cepat kelar, kita segera bisa bersama ga terpisah seperti ini. I love you honey"


"I love you too sayang" balas Eugi


"Iya sayang, bye..."


"Bye sayang"


Ada kelegaan mendengar kekasihnya sudah sampai dengan selamat. Senyumnya mengembang memandang wallpaper di ponselnya, melihat senyum Arga yang begitu manis sembari memeluknya penuh kasih sayang.


Seruputan terakhir coffe latte dengan senyum sumringah di bibirnya, menambah semangat Eugi menyelesaikan pekerjaan hari ini.


.


.


.

__ADS_1


Tak terasa jam berlalu, Eugi sedang menunggu angkutan di Halte yang tak jauh dari cafe. Cahya sudah duluan dapat angkutan ahirnya dia menunggu sendiri.


"Eugi???" teriak seseorang perempuan cantik yang berhenti tepat disisinya.


"Mbak Sarah?" ujarnya sambil tersenyum


"Mau pulang?"


"Iya mbak, masih nunggu angkot."


"Hayo bareng kita aja, searah juga"


Eugi berfikir sejenak, niat hati menolak tapi Sarah sedikit memaksa ahirnya dia ikut.


Sarah tidak sendiri. Dia bersama seorang laki-laki muda yang tak sedikitpun menoleh atau memberikan sapaan pada Eugi. Wajahnya benar-benar datar, tatapannya dingin, dan hanya fokus pada pegangan setirnya.


"Kebetulan banget, ini loh dek yang mbak bilang mau ngajar les kamu" ucapnya pada laki-laki yang tak memberikan ekspresi apapun itu.


"Ini Leo, adik yang gue ceritain Gi. Leo, ini Eugi yang akan ngajar les privat kamu".


Gila nie anak, ini sombong apa gimana yagh? Ga bersahabat banget. Belum ngajar gue dah ngeri aja. Mengerikan!


Kakaknya super duper ramah, lahhh adiknya kaku kayak es batu.


Eugi banyak bergumam sendiri disela-sela ocehan Sarah. Sosok cantik yang sangat ramah tak berhenti bicara sampai ahirnya Eugi sudah sampai pada tujuannya.


"Makasi ya mbak tumpangannya, Leo makasi ya" ucap Eugi seraya keluar dari mobil


"Sama-sama Gi"


"Hati-hati ya, byee"


Eugi melangkahkan kakinya menuju rumah kosnya setelah Sarah dan adiknya jalan.

__ADS_1


Badannya terasa lengket dan memutuskan untuk langsung mandi untuk menyegarkan diri.


__ADS_2