Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 40


__ADS_3

Hari-hari penuh bahagia dijalani Arga dengan segala hal yang manis dalam rumah tangganya.


Satu bulan berlalu tanpa terasa. Keseharian dipenuhi dengan segala hal yang baik yang diciptakan oleh keduanya.


Tidak semulus jalan tol, keduanya juga sering beradu pendapat, namun tak berlangsung lama salah satu selalu saja bisa menyurutkan gelombang yang akan menghanyutkan.


Seperti pagi yang begitu hangat diruang makan yang menyatu dengan dapur menjadi favorite Eugi disaat Ahir pekan. Dimana waktu senggang yang khusus Arga siapkan untuk quality time dengan sang istri.


"Lepasin sayang, nanti ikannya gosong!" Perintah Eugi pada Arga yang memeluknya tiba-tiba disaat aktivitas masaknya.


"Biarin gini aja" Pinta Arga sambil mengendus-endus ceruk leher jenjangnya yang semakin jelas ketika rambut panjang sang istri digulung asal ke atas.


"Kamu seksi kalo rambutnya di giniin, bikin Abang pengen dekat terus"


"Ihhh, mesum"


"Kan sama istri sendiri juga"


"Abang, nanti kena minyak loh" Eugi berusaha melepaskan diri.


"Abang bantu potong-potong ya"


"Itu lebih baik" ucap Eugi seraya mengambil pisau dan talenan agar sang suami duduk seraya mengupas kentang dan memotongnya secara dadu.


Masih dengan senyum menggoda ahirnya Arga mengalah dan duduk dengan kentang yang sudah disiapkan Eugi.


"Ughhhh..." Rintih Eugi dengan wajah pucat sembari memegang perutnya.


Arga dengan sigap menangkap tubuh mungil yang hampir ambruk itu.


Wajahnya panik seketika membopong tubuh Eugi dan merebahkan disofa. Kemudian mematikan kompor yang masih menyala, kemudian membawakan segelas air.


"Sakit bang" rintihnya sembari memegang bawah perutnya.


"Minum dulu sedikit, kita kedokter"


Segera Arga meraih ponsel dan kunci mobil.


Wajah pucat sang istri semakin membuatnya kuatir. Sembari menggenggam erat satu tangan Eugi dia mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.


.


.


.


.


.


Eugi masih berbaring dalam keadaan lemah. Sudah diruang rawat dimana ada Arga yang dengan setia menunggu sang istri bangun.


Wajah dengan senyum sumringah menunggu Eugi membuka matanya.


"Sayang..." dengan suara serak memanggil Arga yang duduk disampingnya.


Lelaki itu menyambut dengan senyum membuat Eugi memaksakan senyumnya.


"Kamu sudah bangun? Mau minum? Atau Eugi mau makan?" tanya Arga beruntun


Eugi hanya menggeleng menolak yang semua ditawarkan Arga.


"Maafin Eugi udah buat Abang kuatir" ucapnya lemah

__ADS_1


"No maaf maaf sayang, hari ini meski Abang dibuat kuatir, tapi sekali lagi makasih sayang. Hari ini Abang bahagia sekali."


"Hah???" Eugi sedikit tanda tanya


"Disini, didalam sini" Ujar Arga seraya meraba perut Eugi yang masih rata.


"Kenapa? dokter bilang apa? Apa Eugi ada sakit yang serius?"


Arga hanya menggeleng tapi masih dengan senyum sumringahnya.


"Kita akan menjadi orang tua sayang. Kamu, kamu hamil" Lanjut Arga membuat Eugi seketika memeluk sang suami.


Hanya memeluk, bibir itu tak mampu berucap kata. Matanya mulai digenangi air bening yang siap tumpah meluapkan rasa bahagia yang dia alami.


"Apa Abang bahagia?"


"Sangat sayang. I love you my wife" ucap Arga sembari mengecup lembut kening Eugi.


"Kondisi kamu masih lemah, jadi harus istirahat yang banyak ya. Dokter bilang malam ini kita nginap disini dulu sampai kondisi kamu membaik. Kalo malam ini aman, besok kita bisa pulang."


"Kenapa harus nginap? Di apartemen kan juga bisa istirahat."


"Plis jangan membantah, Abang ga mau ambil resiko untuk kamu dan anak kita. Jangan sampai terjadi sesuatu yang akan bikin Abang menyesal."


Eugi berusaha menerima meski sebenarnya kondisinya sudah lebih baik. Tapi dia tidak bisa melihat kekuatiran Arga yang sangat peduli padanya dan bayi yang sedang tumbuh dirahimnya.


.


.


.


.


.


"David..."


"Iya pak!"


"Untuk meeting besok saya harap kamu bisa handle sendiri dulu ya. Saya ga bisa ninggalin istri saya dalam kondisi seperti ini. Terlebih ada nyawa yang harus saya jaga sedang tumbuh dirahimnya"


"Nona Eugi sedang..."


"Iya, Tuhan sudah memberikan kami kepercayaan Vid. Untuk itu saya minta tolong agar urusan kantor kamu atasi dulu. Kalau ada apa-apa by phone aja." jelas Arga


"Selamat ya pak. Semoga selalu sehat untuk ibu dan bayinya"


"Makasi Vid..."


"Oke, apa masih ada yang bapak perlukan?"


"Untuk saat ini tidak. Makasi sudah selalu merepotkan kamu."


"Tidak masalah pak. Selagi saya mampu, karena apa yang saya lakukan tidak seberapa dibandingkan semua kebaikan yang bapak berikan untuk keluarga saya."


"Jangan selalu mengatakan itu. Ya sudah, kamu bisa pergi sekarang."


"Baik pak..." Pamit David sembari melangkah meninggalkan ruangan yang serba putih itu.


Eugi masih tampak memejamkan mata dengan cantik. Arga membuka paper bag yang dibawakan oleh David. Baju ganti dan beberapa makanan.


Arga membuka box yang berisikan makanan dan perlahan menyantapnya. Sambil matanya tak luput dari wajah sang istri yang sangat manis meskipun masih dalam keadaan terlelap.

__ADS_1


"Sayang..." Panggil Eugi pelan tapi cukup untuk didengar oleh Arga.


"Ada apa sayang? apa kamu merasakan sesuatu? Mau apa?" tanya Arga yang sudah menghentikan kegiatan makannya.


"Eugi mau air" pintanya


Arga segera bangkit dan mengambilkan air mineral dan membantu Eugi untuk setengah berbaring dengan batal yang ditumpuk dan menaikkan sandaran tempat tidur.


"Eugi mau makan?" tanya Arga


"Kayaknya yang Abang makan enak?" ujar Eugi


Arga mengambil box makanan yang tadi sedang dia nikmati dan mendekati sang istri.


Satu sendok dia sodorkan dan segera di lahap oleh Eugi.


"Kamu harus banyak makan sayang, biar sehat"


"Boleh apa aja?"


"Boleh, dokter bilang ga masalah soal makanan. Yang terpenting kurangi pedes ya"


"Iya sayang..."


Meski masih tampak pucat, wajah kebahagiaan tak bisa disembunyikan oleh Eugi. Semangatnya untuk kembali fit meninjukkan pada Arga dengan pilihan hatinya yang tidak salah menjadikan Eugi sebagai ibu dari anak-anaknya kelak.


Disaat yang bersamaan deringan ponsel Arga menghentikan obrolan santai mereka.


"Mama" Ujar Arga pada Eugi


"Hallo ma..."


"Sehat nak? Lagi dimana?" tanya sang mama seolah sedang mengintrogasi anak lantangnya yang sedang keluar rumah.


"Hmm, Arga lagi dirumah sakit ma" jujur Arga


"Hahh, kenapa? kamu lagi sakit? Eugi dimana?"


"Mama ngeborong euy nanyanya"


"Makanya dijawab!" suara mama Laura terdengar kuatir


"Gimana mau jawab, mama nyerocos terus"


"Ya udah, mama sekarang dengar"


"Eugi ma..."


"Kenapa sama Eugi..." mama Laura terdengar tidak sabar


"Mama, dengerin dulu... Eugi tadi masuk rumah sakit. Mama akan segera jadi Oma"


"Jadi???"


"Iya, mama akan jadi Oma" ucap Arga membuat mama Laura terdengar happy sampai ahirnya mengalihkan panggilan menjadi Vidio call.


"Haiii ma, Mama apa kabar?" sapa Eugi


"Mama baik sayang, mama bahagia dengan kabar ini" ucap Laura berkaca-kaca


"Bahagia kok wajahnya sedih gitu?"


"Ini terlalu bahagia sayang. Selamat ya, kalian akan jadi orang tua. Kamu jaga kesehatan ya. Mama akan usahakan kesana setelah urusan mama selesai."

__ADS_1


"Iya ma, mama juga jaga kesehatan ya."


Obrolan keduanya berlanjut tanpa menghiraukan Arga yang sedikit manyun karena merasa terabaikan.


__ADS_2