Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 18


__ADS_3

Eugi POV


Aku masih dengan rasa yang mengganggu hatiku dengan apa yang telah dilakukan seorang Angga. Seperti setan yang sedang memberiku ujian dimana setelah aku menerima lamaran Arga.


Tanpa banyak basa-basi aku meninggalkan Angga yang masih belum beranjak setelah aku turun dari mobil yang hampir saja membuatku jantungan.


"Eugi masuk dulu mas..." ucapku setelah mobil berhenti tepat depan gerbang kosanku.


Aku tau dia masih melihatku saat berjalan masuk kedalam kosan, meskipun aku tidak berbalik untuk memastikannya. Beberapa menit setelah aku didalam kamar baru mobil itu terdengar meninggalkan depan kosanku.


Ponselku, itu hal yang pertama aku cari saat sampai di kamar. Dan benar saja, notifikasi 31 panggilan tak terjawab dan banyak pesan chat dari Arga sudah menghiasi layar ponselku.


"Sayang, lagi apa?"


***


"Ditelpon kok ga diangkat? Eugi lagi dimana?"


***


"Telpon Abang kalo sudah ga sibuk ya. Am waiting"


***


"Eugi, kamu baik2 aja kan? Kenapa telpon Abang ga diangkat? Sebenarnya lagi dmn?"


***


"Sayang, jangan bikin kuatir. Ga biasanya kamu seperti ini"


**


Dan masih banyak pesan yang lain yang jelas membuat Arga kuatir.


Sedikit ragu aku mencoba menghubungi Arga dengan memikirkan alasan apa yang akan kuberikan.


Baru deringan yang pertama Arga sudah menerima panggilanku


"Maaf sayang, Eugi baru liat ponselnya" ucapku sedikit takut


"Kamu kemana? kamu tau Abang kuatir dengan kamu? Setidaknya kasi kabar, Abang kan ga sepanik ini"

__ADS_1


Nada sangat kesal, lebih mendekati marah terdengar disebrang.


l


"Maaf. Tadi Cahya maen kekosan. Terus tiba-tiba dia muntah-muntah keringat dingin gitu. Buru-buru ngaterin dia ke dokter bang. Hapenya ketinggalan. Maaf ya." Ucupaku berbohong


"Maaf Abang keras bicaranya ya. Abang cuma kuatir."


"Eugi yang salah bang. Eugi minta maaf ya..."


Nada bicara Arga sudah kembali normal. Tanpa memperpanjang masalah dengan banyak bertanya soal Cahya.


"Eugi sudah makan?"


"Sudah bang. Abang gimana?"


"Sehabis telponan Abang makan. Dari tadi selera makannya hilang."


"Maafin Eugi ya."


"Ya udah sekarang Eugi istirahat ya. Jangan sampai sakit nanti. Sekalian Abang minta nomor Cahya ya. Biar kalo ada apa-apa Abang punya nomor darurat"


Apa yang aku fikirkan ternyata terjadi juga. Harus segera menghubungi Cahya.


"Iya sayang. Habis ini Eugi kirim via chat ya"


"Ya udah, buat istirahat ya. Love you sayang"


"Love you too, bye"


Panggilan berakhir, aku langsung menghubungi Cahya, dan tak lama panggilan tersambung.


"Hallo Gi, tumben malam-malam nelpon gue?"


"Gue mau minta tolong sama Loe!"


"Minta tolong apaan? Sebisanya gue bantu"


"Tadi ada something terjadi dan gue ga bisa jelasin sekarang. Intinya Arga minta Gue kasi nomor loe ke dia. Kalo malam ini dia telpon atau ngechat loe, plis jangan direspon ya "


"Emang kenapa sampai minta no gue?" Cahya mulai kepo

__ADS_1


"Pokoknya minta tolong jangan direspon aja. Besok gue jelasin ke loe. Ini darurat, gue barusan bohong ke dia"


"Eugi, kenapa pake acara bohong-bohongan segala sih. Akibatnya loe yang pusing sendiri." nasehat Cahya


"Gue juga ga mau bohong-bohongan Ca, tapi diluar kendali gue dan bukan sesuatu yang gue sengaja. Gue cuma ga mau ada masalah dalam masalah. Loe tau sendiri otak gue lagi riweh. Alasan yang muncul tiba-tiba. Maaf gue bawa-bawa nama loe."


"Ya udah kasi aja nomor gue. Gue janji akan ngelakuin apa yang loe minta. Tapi loe hutang penjelasan sama gue"


"Gue janji besok akan jelasin semuanya ke loe. Besok gue off, jadi pas jam makan siang kita ketemuan ya."


"Oke."


"Makasi banget ya Ca, bye"


"Bye..."


Sedikit lega setelah berhasil minta tolong pada Cahya. Segera aku mengirimkan nomor kontak Cahya seperti yang diminta oleh Arga.


***


Badanku terasa sangat lelah, setelah bekerja seharian ditambah lagi masalah yang baru saja menimpaku.


Keadaan yang sangat tiba-tiba membuat mata menolak kondisi tubuhku yang sedang lelah.


Tak bisa dipungkiri aku memikirkan Angga. Mencerna setiap kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya. Tapi hatiku menolak semua kata-kata manis itu.


"Maafin saya mas Angga, tapi hati saya sudah milik orang lain. Kamu orang yang sangat baik. Pasti akan menemukan orang yang terbaik" batinku


Menarik nafas dalam, mencari ketenangan dan aku mulai memejamkan mata. Berharap hari ini adalah mimpi yang panjang yang tak ingin aku ingat.


Angga POV


Aku memandangi diri didepan cermin. Menyegarkan diri adalah pilihan yang pertama sesampainya dirumah. Lama aku memperhatikan diriku sendiri. Wajah yang cukup tampan dengan tubuh yang atletis, kaya, berpendidikan dan baik hati. Sepertinya cukup sempurna untuk mengandeng seorang yang jauh lebih dari seorang Eugi. Tapi takdir berkata lain, hatiku nyangkut pada gadis sederhana itu.


Aku hanya bisa tersenyum kecut menyadari kebodohan untuk pertama kali dalam hidupku. Entah kenapa wajah polos itu mengusikku. Padahal banyak perempuan yang dengan mudah aku dapatkan. Tapi justru wajah sederhana itu memenuhi otakku.


Rasa nyaman selama ini bisa menumbuhkan rasa suka yang aku sendiri tidak menyadarinya.


Kenyataan yang harus kuterima dengan lapang dada. Sebagai laki-laki sejati aku mengiklaskan kebahagiaannya. Bukan pengecut, tapi bukan sesuatu yang baik jika aku menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Mendapatkan raganya tapi tidak hatinya itu sama saja percuma.


"Kamu harus iklas Angga, dia akan bahagia dengan Arga. Yaghh dia akan bahagia."

__ADS_1


__ADS_2