Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 26


__ADS_3

Menonton tv adalah pilihan yang tepat buat saat ini. Arga masih berkutat diruang kerjanya bersama asistennya David.


Deringan ponsel yang terletak diatas meja memaksanya untuk bangkit. Nomor yang tidak dikenal, dan itu membuatnya malas untuk menerima. Setelah beberapa saat ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama. Eugi masih tidak berniat untuk menerimanya sampai sie empunya nomor mengirimkan chat untuknya. Kembali berdering untuk yang ketiga kalinya.


"Siapa yang telpon sayang? Kok ga diangkat?" Arga yang baru keluar dari ruang kerja menghampirinya.


"Ga tau. Nomor baru, ga ada namanya."


"Siapa tau penting, angkat gih!"


"Abang angkat aja. Kalo emang perlu dia pasti akan chat Eugi."


"Terserah kamu aja." Arga


"Udah selesai?" Tanya Eugi


"Udah nona, sekalian saya pamit pak Arga. Sampai besok."


"Hati-hati pak David" ucap Eugi malah dipelototin oleh Arga


"Kok ngeliatin Eugi gitu?"


"Jangan terlalu ramah sama dia. Apalagi didepan Abang"


"Apaan sie? Soulmate sendiri juga"


"Ga ada bantahan" Ucap Arga ketus sembari duduk disamping Eugi sambil matanya melihat kearah TV.


"Iya sayang. Eugi ga akan ramah-ramah sama pak David"


Eugi paham ketidaksukaan Arga hanya tersenyum sambil ikut duduk disampingnya sambil memeluknya dengan sangat manja.


"Sayang..."

__ADS_1


"Hmmm?"


"Apa kira-kira papa dan mama kamu akan bisa terima Eugi ya?"


"Kenapa harus membahas itu lagi?"


"Ngggak, Eugi hanya masih berharap aja."


"Biarkan waktu yang menjawab semuanya sayang. Suatu saat pasti mereka akan bisa menerima. Mungkin setelah kita memberikan cucu misalnya! Makanya setelah menikah abang harap Eugi tidak ada keinginan untuk menunda. Untuk kuliah Abang rasa itu bukan jadi penghalang. Banyak kok yang sedang kuliah sudah menikah dan memiliki anak."


"Kita jalani aja sayang. Eugi ga akan menolak jika memang Tuhan kasi kita kepercayaan lebih cepat."


"Itu baru Eugi Nathali" Arga berucap sambil mengacak rambut kesayangannya itu.


"Ihhh Abang... kan berantakan" protes Eugi' manyun


Tiba-tiba ciuman lembut mendarat dibibir manyun Eugi. Aura canggung tiba-tiba merubah suasana.


Cuphhh


Perlahan ciuman manis mendarat membuat Eugi memejamkan mata. Signal yang baik buat Arga. Lembut, manis, dan semakin menuntut membuat suasana menjadi cukup panas. Arga yang sadar jika Eugi membutuhkan asupan oksigen melonggorkan ciumannya. Dengan nafas yang masih belum teratur Arga mengecup singkat kening sang kekasih.


"Kita istirahat?" ucapnya lembut sambil mengusap lembut bibir Eugi yang hanya dengan anggukan malu.


Keduanya beranjak, Eugi langsung menuju kamar sementara Arga mematikan beberapa lampu diruangan itu dan mengikuti langkah Eugi menuju tempat ternyaman baginya untuk beristirahat.


Arga membaringkan tubuhnya disamping Eugi setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya.


"Tidur disini aja. Eugi percaya Abang ga akan melewati batas." ucap Eugi sambil menepuk ruang tersisa disampingnya.


Arga segera merebahkan tubuhnya. Hari yang cukup membuat fikirannya lelah dengan banyak hal yang harus diselesaikan ditambah lagi dengan persiapan pernikahannya yang tinggal dalam hitungan hari.


Dia memberikan posisi dimana Eugi dengan nyaman untuk berada dalam pelukannya. Gadis itu dengan manisnya memeluk perut sixpack milik Arga.

__ADS_1


Mereka belum benar-benar tidur. Obrolan ringan yang memberikan keintiman pada keduanya. Menikmati malam dengan bisa bicara dari hati kehati. Sambil sesekali Arga mengelus dan mengecup pucuk kepala Eugi yang harum membuatnya cukup harus menahan hasrat yang ada dalam dirinya.


"Sayang?" Arga


"Hmm?"


"Setelah kita menikah, jika Abang minta untuk berhenti bekerja gimana?"


"Maksud Abang, Eugi berhenti bekerja dan fokus untuk rumah tangga kita dan kuliah kamu."


"Akan Eugi fikirkan sayang."


"Dengan fokus kuliah rasanya ga ada ruginya, kamu bisa tetap beasiswa dan akan bisa banyak waktu bersama dengan Abang" lanjut Arga


"Jalanin dulu sayang. Yang pasti Abang adalah prioritas, keluarga kecil kita yang yang terutama"


"Makasi sayang. Jangan memaksakan diri pokoknya. Apapun itu komunikasikan selalu. Jangan memaksakan diri sendiri. Bukankah menjadi suami istri itu harus selalu berbagi kesenangan dan kesusahan?"


"Hmm"


"Ketika kamu merasa lelah, jangan memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat. Jangan hanya berfikir untuk menjaga perasaan Abang, kamu melukai perasaan kamu sendiri. Yang pasti apapun itu harus seimbang. Kita berdua mempunyai porsi yang sama dalam mengemukakan pendapat dan keinginan."


"Iya sayang. Makasi buat semua pengertian kamu"


"Untuk kita bersama sayang" Arga


"I love you Arga Winata"


"I love you too Eugi Nathali"


Cuphhh


Kecupan terahir dikening Eugi mengahiri obrolan malam mereka. Eugi dengan hati yang hangat mengistirahatkan matanya. Begitupun Arga mencoba memejamkan matanya meski aroma tubuh kekasihnya itu sangat membuatnya harus menahan sesuatu yang bergejolak dari dalam dirinya. Demi cintanya yang tak ingin melukai dia berusaha menahan dan mengabaikan keinginan itu mengikuti gadisnya kealam mimpi dengan masih mendekap dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2