
Suara ketukan pintu kamar membuat Eugi terpaksa terbangun. Rencana berhibernasi ahirnya gagal. Dengan malas dia bangkit dari tidurnya sambil melirik jam di ponselnya.
"Masih setengah 7, siapa yang udah niat banget bertamu" dumel Eugi
Lagi-lagi ketukan pintu terdengar membuatnya segera membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan dengan tissue dan sedikit merapikan rambutnya. Dengan langkah malas meraih handle pintu.
Dughhh...
Serasa jantungnya berhenti berdetak. Masih dalam setengah sadar mata dan wajahnya melongo membuat sosok yang baru tadi malam membuatnya merona dengan kata-kata manis untuknya sudah berada dihadapannya.
Arga langsung menyadarkan kekasihnya itu dengan pelukan rindu yang sangat.
"Kenapa bengong? ini Abang sayang..."
Eugi masih diam tak percaya.
"Heiii..."Arga
"Eugi bisa pingsan dulu bang?" ucap Eugi berusaha meyakinkan dirinya
"Ini benar Abang Gi. Abang sengaja ga bilang-bilang sama Eugi. Kemarin malam Abang sudah sampai. Pas telponan itu Abang sudah di Apartemen. Karna sudah malam banget, Abang ga enak mau jemput Eugi. Lagian memang ada banyak yang Abang kerjakan untuk persiapan kantor."
"Jahat ihhh ..." kesal Eugi.
"Maaf ya... Tapi hari ini Abang sudah siap jadi driver kesayangan Abang. Hari ini off kan?" ucap Arga sembari mengacak rambut kekasihnya
Senyum manja Eugi auto keluar.
"Abang sudah bawakan sarapan. Kita sarapan dulu ya." Arga
Eugi meraih bungkusan yang dibawa Arga. membawanya ke dapur mungil miliknya, dan menyiapkan sarapan mereka berdua.
"Hari ini kita ada jadwal fitting baju sayang. Abang sudah jadwalkan hari ini karna ingat ini jadwal off kamu. Habis sarapan kita berangkat ya!"
"Mandi dulu kali bang" protes Eugi disela-sela makannya.
"Kalo ga mandi juga ga papa kok, tetep cantik"
"Gombalnya..."
"Emang kenyataan kok, Abang ga gombal."
"Biasa kalo belum jadi istri pasti gitu. No cacat sama sekali. Tapi coba aja besok-besok kali udah jadi" oceh Eugi
__ADS_1
"Ga lah. Bagi Abang, bagaimana Abang hari ini, akan seperti ini seterusnya. Satu janji Abang, seperti apapun keadaannya, Eugi tidak berubah dimata Abang."
"Kita liat aja besok-besok"
"Ga perlu diomongin kok. Abang akan buktikan dengan apa yang sudah Abang katakan."
"Iya sayang... Eugi percaya. Jangan terlalu serius juga bang. Eugi cuma becanda, Eugi percaya Abang akan berikan yang terbaik buat Eugi."
Sarapan santai sambil berbagi cerita menunjukkan kebahagiaan bagi keduanya. Jarak yang jauh membuat rasa rindu terobati. Momen-momen indah yang sangat mereka inginkan.
***
Penampilan yang sederhana dan santai tak mengurangi kecantikan sang penghuni hati. Sama halnya dengan Arga hari ini dengan penampilan santai berbeda dengan penampilan sebelum-sebelumnya yang cukup formal.
"Kita berangkat?" ucap Eugi menghampiri Arga yang menunggunya selesai berdandan ala-ala sambil memainkan ponselnya.
"Cantik sayang..." puji Arga
Bukannya menjawab Eugi malah memonyongkan bibirnya.
"Gombalnya..." ujarnya
"Yagh, wong Abang jujur malah dibilang gombal"
Arga meraih kunci mobil diatas nakas dan melangkah keluar bersama dengan Eugi, setelah mengunci pintu tentunya
"Makasi sayang" Ucap Eugi disaat Arga membukakan pintu untuknya. Kemudian Arga berputar untuk masuk kemobil dan memegang kemudi.
Senyum keduanya tak lepas sedikit pun dari wajah mereka. Seolah-olah tak ada masalah yang sedang mereka hadapi. Arga sendiri seakan lupa dengan segala masalah yang sedang dihadapinya. Baik masalah kantor maupun masalah keluarganya yang tak memberikan restu.
"Sayang..."
"Hmmm" Arga
"Kamu belum cerita tentang masalah yang terjadi dirumah" Tanya Eugi hati-hati
"Untuk saat ini tidak perlu memikirkan itu sayang. Abang ga mau merusak suasana hati hanya karena ego orang tua Abang. Yang terpenting Eugi percaya kalo hidup kita akan bahagia jika kita bersama"
"Setidaknya tidak harus dengan meninggalkan keluarga bang."
"Itu papa yang minta. Abang hanya melakukan apa yang dia mau. Mereka berfikir Abang akan mundur dengan ancaman meninggalkan semua fasilitas dan kekayaan keluarga Winata. Cinta Abang ga serendah itu Gi. Mereka anggap kamu hanya mengincar harta, Abang ga bisa terima itu."
Eugi terdiam
__ADS_1
"Abang tulus sayang dan cinta sama Eugi. Abang juga merasakan hal yang sama yang Eugi berikan pada Abang. Ga ada alasan untuk Abang tidak perjuangkan.
Eugi berpaling menatap keluar. Matanya mulai memanas dan benar saja buliran hangat sudah meluncur dipipi mulusnya.
Arga yang menyaksikan kekasihnya itu bersedih pelahan menepikan mobilnya yang sedang dikemudikannya. Membuka seatbelt dan meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Jangan menagis seperti ini sayang. Abang ga bisa melihat kamu meneteskan air mata. Ini terlalu memilukan buat Abang"
Bukannya berhenti, tubuh Eugi tampak lebih terguncang dengan tangis yang semakin menjadi. Elusan lembut di punggung sedikit memberikan rasa tenang, sambil sesekali kecupan dipuncak kepalanya.
"Jangan menagis lagi" ucap Arga sembari melonggarkan pelukannya.
Tangannya dengan lembut mengusap air mata yang membasahi wajahnya, sembari merapikan rambut Eugi yang berantakan.
"Dengarkan Abang. Jangan pedulikan yang lain sayang. Yang akan menjalani adalah kita berdua. Yang tau yang terbaik buat kita adalah kita sendiri. Abang memutuskan memilih Eugi karena Abang yakin Eugi adalah yang terbaik buat Abang. Meskipun papa dan mama belum memberikan restu, Abang yakin setelah mereka melihat dan merasakan segala kebaikan kamu, mereka akan paham sendiri."
"Apa karena Eugi miskin bang? Apa karena Eugi seorang yatim piatu?"
"Sayang... Abang tidak pernah mempermasalhkan itu semua. Harta bisa dicari sayang, tapi ketulusan kamu dimana Abang akan cari? hhmm?"
Tangisan Eugi pelahan mereda. Arga dengan penuh perasaan berusaha memberikan Eugi kekuatan dan keyakinan.
"Kita lanjut jalan lagi?" pinta Arga
"Hmm" Balas Eugi hanya dengan anggukan lemah.
Perjalanan menuju salah satu butik dikawasan setia Budi lumayan menyita waktu dengan macet yang diluar harapan.
"Kok macet gini ya sayang..." ujar Eugi mulai bosan
"Kayaknya ada pengalihan jalan tuh" Jawab Arga mengira-ngira.
"Dah ga sabar ya???" Goda Arga
"Ihhh, apaan si!!!" Eugi merona
"Ngomong-ngomong kuliah kamu gimana sayang?"
"September baru mulai bang. Jalur masuk kemarin kan jalur khusus, yang pendaftaran reguler masih kelar 1 gelombang"
"Yang terpenting kamu harus jaga kesehatan. Itu hal terpenting"
"Iya sayang..."
__ADS_1
Obrolan santai didalam kemacetan sedikit mengurangi rasa bosan keduanya.