Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 28


__ADS_3

Eugi duduk di halte menikmati hari terakhirnya menjalani kebiasaan menunggu angkutan ditempat itu. Ada banyak cerita di tempat itu.


Perlahan mengeluarkan ponselnya dan berselfie ria dihalte penuh kenangan.


Drreeettt...


Panggilan dari Love Arga.


"Iya sayang..."


"Eugi ngapain dihalte?"


"Abang kok tau? Lagi dimana?" Ucap Eugi sambil matanya menyisir sekitarnya.


"Jadi benar Eugi lagi di halte? Tadinya Abang mau mastiin aja."


"Jangan kemana-mana, sekarang Abang samperin" lanjut Arga tanpa memberikan Eugi kesempatan bicara.


Klik...


Sambungan seketika dimatikan sepihak.


Tak lama, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat disisi halte dan Eugi kenal betul dengan mobil itu.


Sosok Arga keluar dan langsung membukakan pintu penumpang tanpa banyak bicara.


Eugi pelahan masuk diikuti Arga memutari depan mobil dan memegang kemudi.


"Ngapain dihalte? bukannya kamu sedang kerja? Dan barang-barang ini?" Tanya Arga beruntun.


"Niatnya tadi mau minta untuk cuti bang. Tapi tiba-tiba Bu Nesya langsung memberikan ini dan meminta Eugi untuk membereskan barang-barang. Ucapnya sedih sembari menunjukkan amplop yang dia sama sekali belum buka pada Arga.


"Memang Eugi sudah mengajukan untuk resign tapi pembicaraan dengan pak Angga ada beberapa bulan kedepan setelah ada pengganti." lanjutnya menitikkan air mata.


"Mana ponsel kamu?" pinta Arga


Tanpa meminta persetujuan dari Eugi, Arga mengambil ponsel milik Eugi dan segera memanggil contak Angga yang tersimpan. Tak lama panggilan tersambung.

__ADS_1


"Hallo Gi. Tumben telpon saya? Ada masalah dicafe?" Sapa Angga sopan


"Ini Arga. Bisa kita bertemu?"


"Ohhh Arga... Maaf maaf saya kira tadi Eugi."


"Jika boleh tau, ada urusan apa sampai mengajak saya bertemu dengan anda?"


"Ini soal Eugi"ucap Arga singkat


"Baiklah, kita bisa bertemu di cafe X di jam makan siang."


Panggilan terputus setelah Angga menyebutkan alamat cafe X.


"Untuk apa ketemu pak Angga sayang?" Tanya Eugi kurang senang.


"Setiap perusahaan itu punya managemen, punya aturan keluar masuk karyawan. Cara mereka menyalahi aturan. Apalagi Eugi bilang sudah bicara sebelumnya dengan pemilik yang merupakan pemilik kekuasaan penuh."


"Sudahlah bang. Eugi itu cuma pekerja biasa. Hanya bekerja disebuah cafe, bukan perusahaan besar."


"Tidak bisa. Abang harus bicara dengan bos kamu itu."


Eugi berusaha membujuk Arga untuk tidak mempermasalahkan. Apalah daya, sikapnya yang selalu menjunjung tinggi keadilan membuat Eugi tidak bisa berkata apa.


Hampir 30 menit Arga dan Eugi menunggu kedatangan Angga. Angga tidak terlambat, tapi mereka yang datang lebih cepat.


"Hai Gi, Pak Arga?"Sapa Angga


"Maaf membuat kalian menunggu." lanjutnya


"Ga kok pak Angga, kita juga yang kecepatan nyampenya."


"Sambil dipesan dulu pak Angga" Ucap Arga ramah sembari menyerahkan buku menu dan memanggil sang pelayan untuk mendekat.


"Saya pesan coffee latte ya."


"Makannya?" Arga

__ADS_1


"Maaf, cukup minum saja. Terimakasih."


"Maaf sebelumnya jika mengganggu waktunya. To the point aja ya. Ini soal resign nya Eugi." ucap Arga sembari menyerahkan amplop yang diberikan Nesya.


Angga dengan penasaran membuka isi dari amplop itu.


"Kan kamu sudah bilang Gi akan meninggalkan cafe setelah pengganti kamu sudah ada. Sebelumnya Minimal 1 bulan maksimal 3 bulan. Ini belum 1 bulan bahkan pengganti kamu belum ada"


"Nah itu yang mau saya pertanyakan pak Angga."


"Nesya!!!" Kesal Angga


"Maaf sebelumnya, ini tidak sepengetahuan saya. Karena setelah ngurusin perusahaan keluarga saya tidak begitu mengontrol keadaan cafe."


"Sudah saya duga"


Eugi yang sedari tadi hanya menjadi pendengarpun ahirnya bicara.


"Ya sudah ga papa Pak Angga. Saya sebenarnya tidak masalah, toh saya juga memang akan berhenti."


"Tapi bukan seperti ini Eugi"


"Ga papa, saya bisa paham posisi Bu Nesya. Tidak perlu dipermasalahkan pak. Pertemuan ini juga hanya karna Bang Arga yang ingin meluruskan masalahnya. Saya pribadi sudah tidak mempermasalahkannya. Hari ini atau besok toh saya juga akan pergi dari cafe itu."


"Tapi Gi..."


"Sebentar bang, Eugi mau ke toilet dulu."


Eugi buru-buru menuju toilet.


"Maaf sekali lagi pak Arga, saya akan lebih memperhatikan managemen usaha saya."


"Cukup Pak Angga tau saja siapa yang bisa dipercaya"


"Sebenarnya sebelumnya saya percaya penuh pada Eugi dan berharap dia bisa saya andalkan tapi ternyata diluar apa yang saya harapkan. Dia mau kuliah"


"Dan iya, kami akan segera menikah. Niat Eugi tadi hanya ingin meminta cuti beberapa hari kedepan. Tapi Maneger cafe anda mempermudah saya untuk Eugi berhenti dari pekerjaannya. Untuk itu saya ucapkan terima kasih."

__ADS_1


Dughhh...


Angga cukup kaget dengan apa yang barusan didengarnya. Apakah kali ini dia akan benar-benar patah hati dan haruskah dia mengiklaskan hatinya pergi.


__ADS_2