
Pagi-pagi sekali Eugi sudah terbangun. Masih dengan posisi tertidur dalam pelukan Arga. Dengan sangat berhati-hati Eugi bangkit dari tidurnya agar Arga tidak terbangun.
Setelah membasuh wajahnya, Eugi langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Arga yang harus menyelesaikan urusan pekerjaannya sementara Eugi seperti biasa harus berangkat kerja.
"Selamat pagi sayang" sapa Arga tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.
"Selamat pagi..." jawabnya tidak begitu kaget karena sudah melihat kedatangan Arga sebelumnya.
"Mau sarapan dulu atau mandi baru sarapan?"
"Mau sarapan kamu dulu"
"Ishh apaan si???"
"Morning kiss dulu!" pinta Arga sambil memonyongkan bibirnya.
Cuphhh...
Eugi memberikan kecupan singkat dipipinya.
"Bukan disini tapi disini" ujar Arga sembari mencuri ciuman singkat dibibir Eugi.
"Curanggg" teriak Eugi manyun
Arga hanya tertawa menang banyak pagi ini.
***
Selesai sarapan kedua berangkat menuju rutinitas masing-masing. Arga mengantar Eugi terlebih dulu menuju cafe tempatnya bekerja. Tampak Nesya sang manager baru sudah tiba lebih dulu dan mereka saling bertemu di parkiran.
"Selamat pagi Bu Nesya" sapa Eugi dengan senyuman
"Pagi..."balas Nesya tidak ramah
"Abang hati-hati ya. Nanti pulangnya ga usah dijemput. Eugi mau langsung ke kosan ngambil beberapa barang."
"Nanti gimana-gimana chat aja. Kalo misalnya Abang bisa jemput kenapa ga?"
"Ya udah, terserah Abang aja. Selama itu ga memberatkan"
__ADS_1
"Ya udah, smangat kerjanya yahhh"
"Siappp. Abang juga ya. Bye sayang..."
"Bye..." Ucap Arga sembari masuk kedalam mobil.
Eugi segera masuk kedalam cafe setelah Arga berangkat. Disambut Cahya yang sudah senyam senyum.
"Kenapa loe senyum-senyum gitu?"
"Yang habis off dan ternyata ditemani sang kekasih." Goda Cahya
"Apaan sie??"
"Pantesan ga ada telpon or ngechat gue, ternyata lagi..."
"Kalo mau ngobrol aja mending kalian keluar aja" Omel Nesya membuat Cahya menggantung kalimatnya.
Tanpa peduli wajah Nesya yang tampak kurang suka keduanya melanjutkan pekerjaan masing-masing. Cahya masih dengan senyum-senyum menggoda Eugi.
"Bu Nesya, kalo ada waktu saya ada keperluan untuk bicara" ucap Eugi
"Soal apa? Bicara sekarang saja."
"Ikut saya" ucap Nesya mengajak Eugi keruang kerjanya
Eugi duduk dengan sedikit gugup dihadapan Nesya yang menunjukkan wajah tidak bersahabatnya.
Entah apa yang sedang dilakukannya dengan komputer yang ada dihadapannya, dan tiba-tiba
"Ini surat yang kamu butuhkan, tidak perlu menunggu pak Angga karena saya sudah diberikan wewenang sepenuhnya dalam mengelola cafe ini "
"Dengar-dengar kamu juga akan menikah dalam waktu dekat, mungkin keputusan ini sangat kamu butuhkan. Orang mau menikah itukan butuh persiapan yang banyak. Agar kamu bisa fokus" ujar Nesya
"Tapi Bu, saya kan..."
"Mulai besok kamu tidak perlu datang bekerja lagi. Untuk urusan gaji dan menyangkut keuangan akan masuk langsung kerekening kamu."
"Kamu bisa berberes dari sekarang"
__ADS_1
Diluar apa yang difikirkan oleh Eugi. Membuatnya sedikit bingung. Bukan ini inti yang ingin disampaikannya.
"Baik Bu... Mohon maaf apabila saya ada banyak kesalahan."
Eugi keluar dengan wajah yang sendu. Fikirannya masih kemana-mana.
"Kenapa Gi?"
Eugi hanya tersenyum kecut membalas pertanyaan Cahya, membuat sahabatnya itu semakin bingung.
Gadis itu memasuki ruangan khusus karyawan. Perlahan mengemasi barang-barangnya dari ruangan itu. Sejenak dia duduk menatap sekeliling yang menjadi rutinitasnya. Senyumnya terlihat terpaksa kan mengingat begitu banyak kenangan ditempat itu bersama dengan teman-temannya. Team yang solid mulai awal cafe dibuka sampai hari ini mereka tetap kompak.
"Gi, loe kenapa?" Cahya mencuri waktu untuk menghampiri Eugi
Dengan wajah sedihnya Eugi menunjukkan amplop ditangannya.
"Bukannya pak Angga belum menyetujuinya? Lagian pengganti loe belum ada"
"Gue ga tau Bu Nesya ada dendam apa ke gue. Niatnya tadi gue mau minta cuti 3 hari kedepan. Karena jatah cuti gue emang belum pernah gue pake. Tapi takdir berkata lain." Eugi pasrah
"Ini ga bisa dibiarin Gi. Gue akan kasi tau ke pak Angga"
"Ga usah... Jangan lakuin itu Ca. Emang ini yang gue butuhin."
"Tapi bukan dengan cara kayak gini" ucap Cahya ga terima.
"Janji sama gue, jangan pernah kasi tau pak Angga kalo jalannya seperti ini. Gue ga mau merusak kepercayaan pak Angga pada Bu Nesya."
"Pelan-pelan kasi tau yang lain gue pamit. Mungkin besok gue akan kerumah loe. Sekalian ngasi undangan resmi pernikahan gue dan nitip buat yang lain."
"Eugi..."
Cahya malah mewek memeluk sahabatnya itu. Selain kesal yang dia rasakan pada atasannya, dia merasakan bahagia dengan apa yang dirasakan Eugi sahabatnya.
"Semoga lancar ya. Gue doain yang best best best buat kalian."
"Makasi Ca, loe emang sahabat terbaik"
"uumm" keduanya kembali berpelukan
__ADS_1
"Ya udah, gue pamit ya. Baik-baik kerjanya biar bonusnya lancar." canda Eugi
Cahya melepas kepergian sahabatnya itu dengan hati yang tidak rela. Didepan beberapa karyawan yang lain juga sedikit bingung dan penuh tanda tanya dengan pulangnya Eugi. Cahya berhutang penjelasan pada mereka.