Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 12


__ADS_3

Arga sudah siap dengan keberangkatannya. Sengaja dia mengambil penerbangan siang agar bisa mengantarkan Eugi ke tempat kerja kemudian dia berangkat pulang ke kotanya.


"Eugi sudah siap?"


"Iya bang." jawabnya singkat


"Sayang, selama Abang ga ada tinggallah disini. Nanti pak Bram yang akan antar jemput Eugi."


"Ga perlu bang. Eugi akan tinggal di kos aja."


"Disini kamu akan lebih aman sayang."


"Ga papa bang, Eugi aman kok disana. Lagian tempat kerja lebih dekat."


"Kenapa Eugi selalu tidak mau mendengarkan permintaan Abang? Abang hanya ingin kamu aman sayang. Abang jauh disana, Abang kuatir dengan Eugi. Kenapa kamu ga pernah mikirin Abang yang setiap hari menaruh rasa kuatir terhadap kamu?" Suara Arga sedikit meninggi.


"Kita berangkat atau Eugi berangkat sendiri?" Eugi mengalihkan pembicaraan.


Kenapa harus ada perdebatan disaat seperti ini. Batin Arga.


Arga masuk kedalam mobil diikuti Eugi duduk disampingnya masih dengan diam. Sementara pak Bram siap untuk membawa mereka.


"Kita antar Eugi dulu pak" Arga


"Baik tuan"


Tak ada yang membuka pembicaraan, keduanya terdiam dengan fikiran masing-masing.


Wajah Eugi yang ditekuk hanya melihat kearah jendela disampingnaya.


Jalanan cukup lancar jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat Eugi bekerja.

__ADS_1


Pak Bram membukakan pintu buat Eugi sedangkan Arga langsung keluar menghampiri kekasihnya yang akan dia tinggalkan dalam beberapa hari kedepan.


Tanpa aba-aba Arga langsung meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya.


"Maafin Abang ya. Abang tidak akan memaksa kamu, terserah Eugi jika itu bikin kamu nyaman. Abang berangkat dulu. Kamu baik-baik disini, hati-hati dan ingat jaga kesehatan"


Cuph...


Kecupan hangat dikeningnya membuat Eugi berkaca-kaca.


"Jangan menangis, Abang tidak suka ada air mata disini" ucapnya lembut sembari mengusap air mata yang keburu jatuh.


"Maaf..." lirih Eugi


"Lihat Abang, sekarang jangan menangis lagi. Doakan segala urusan cepat selesai dan Abang akan langsung datang"


"Ii-iiya bang. Kamu hati-hati. Kabarin Eugi kalo sudah sampai"


Sekali lagi kecupan hangat di kening Eugi mendarat. Kecupan perpisahan yang membuatnya sedikit melow.


Menunjukkan senyum yang lumayan dipaksakan Eugi melepas kepulangan kekasihnya.


***


Eugi melangkahkan kakinya memasuki cafe. Suasana masih sepi. Bahkan wajah Cahya juga belum tampak.


"Pagi Akbar." sapa Eugi pada rekan kerjanya itu ramah


"Pagi cantik" balas Akbar yang selalu memanggil Eugi dengan sebutan cantik. Ya karena dia memang cantik.


"Kemarin gimana?"

__ADS_1


"Aman terkendali. Tapi ga ada loe ga rame. Pak bos kerjanya marah-marah, lagi datang bulan kali heheh"


"Kok bisa marah-marah?"


"Mana gue tau cantik. Kesabet jin kayaknya" Akbar ngasal


Eugi hanya mengerucutkan bibirnya menanggapi cerita Akbar.


Memulai pekerjaannya, mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail.


"Eugiii..." teriak Cahya kearahnya


"Ga usah teriak gue udah liat loe datang."


"Ihhh, dirimu ga kangen kemarin seharian ga ketemu gue?"


"Nazis ih kangen ama loe. Masih normal" Eugi


"Ehhh, gimana Arga loe?" Cahya kepo


"Kepo ih..."


"Pagi-pagi dah ghibah aja" protes Akbar


Eugi yang hanya bisa tersenyum dan geleng kepala sendiri menyaksikan kedua rekan kerjanya itu beradu mulut. Selalu perdebatan yang terjadi bila ada kesempatan mereka bertemu.


"Hati-hati, sering berantem nanti lama-lama cinta loh" goda Eugi pada keduanya


"Amit-amit jabang bayi Gi..." Cahya sewot


Eugi makin tertawa mendapat reaksi tidak suka dari Cahya maupun Akbar.

__ADS_1


Meskipun perang mulut masih terus berlangsung, pekerjaan mereka ahirnya selesai mempersiapkan cafe untuk buka. Karena memang sudah jamnya untuk buka.


__ADS_2