
Melisa masih menunggu penjelasan dari sang mama yang dia kenal sudah merawatnya dari kecil.
"Bagaimana dengan Memel ma?" Melisa bertanya dalam kesedihannya.
"Maafin mama sudah menyimpan semua ini dari kalian."
"Kejadian yang sama Mel, papa kalian melakukannya lagi. Mama kamu masih ada sampai saat ini. Papa kalian sempat menikahi ibu kamu secara siri. Membawanya ke rumah tinggal bersama mama. Ga lama wanita itu mengandung kamu. Mama menyaksikan kebahagiaan seorang ibu yang sedang hamil dengan segala perhatian dan kasih sayang. Mama sangat hancur pada saat itu. Sementara Arga saat umur 6 bulan sudah diambil oleh Oma dan opa kalian. Yang tersisa hanya ada luka tapi mama masih ingin bertahan karna pesan orang tua mama sebelum mereka meninggal. Jangan pernah berpisah, jangan pernah keluar kata-kata minta cerai, kecuali kematian yang memisahkan. Mama sangat memegang teguh janji pernikahan meski kadang mama dilema, antara ingin bertahan tapi sakit, atau pergi tapi mama mengabaikan amanat."
"Pernikahan papa kalian tidak bertahan lama, saat kamu berumur 8 bulan, ibu kamu minta cerai dan mereka sering ribut dan banyak hal lagi yang mama ga bisa ceritakan semuanya. Ahirnya mereka bercerai dan papa kalian mulai menyadari"
"Mama yang sudah mati rasa berusaha memberikan sedikit ruang untuk papa kalian berubah dan bisa bertahan sampai hari ini. Tapi mama Jengah dengan perlakuan masa lalu, mama ingin menikmati hidup, mama ingin menikmati harta papa kalian. Tapi jujur mama tidak bahagia."
"Mama melarang Arga untuk menikahi Eugi karena mama takut hal yang terjadi pada mama terulang pada Eugi hanya karena perbedaan status. Papa kamu benar-benar menentang pernikahan kalian, hal itu sangat membuat mama kuatir papa akan melakukan tindakan yang menyakiti kalian."
"Mama!!!" Peluk Melisa dengan Isak yang pedih
"Kalian boleh benci mama sebesar yang kalian mau Mel. Kalian bisa marah pada mama sebanyak yang kalian mau, tapi jangan pernah tinggalkan mama. Mama hanya punya kalian."
"Maafin Memel ma, ternyata mama lebih menderita."
"Ga apa-apa sayang. Mama paham bagaimana perasaan kalian menghadapi sikap mama sebelumnya. Mama hanya tidak ingin kalian tau yang sebenarnya kemudian membenci mama, membenci papa kalian"
"Tapi bagaimana mama bisa hidup dengan kondisi seperti itu bertahu-tahun" ujar Arga sembari mendekat pada mamanya.
"Demi kalian Arga, demi kalian mama bertahan"
__ADS_1
Ketiganya berpelukan bak telethubis yang sedang berkumpul. Isak tangis yang saling bersautan membuat pilu.
"Eugi Nathali" panggil Laura setelah pelukan mereka terurai.
"Sini sayang"
Laura memeluk Eugi erat. Mencium pucuk kepala gadis itu yang ikut meneteskan air mata.
"Maafin mama"
"Mama ga salah. Mama memiliki niat yang baik dibalik semuanya."
"Semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kalian" Laura meraih tangan Arga dan Eugi. Menyatukannya memberikan restu pada keduanya.
"Makasi ma" ujar Arga kembali memeluk sang mama.
Malam semakin larut, dengan perdebatan yang penuh drama serta kenyataan yang harus mereka terima. Lelah badan lelah hati dan mereka membutuhkan istirahat
Arga menyegarkan diri setelah Eugi. Ingin rasanya membasuh segala permasalahan dengan mengalirkan air dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Sayang, udah tidur?" panggil Arga pada Eugi yang sudah berbaring ditempat tidur. Dia ikut bergabung bersama sang istri yang tampak lelah.
"Belum bang. Cuma capek aja"
"Maaf ya untuk semua yang terjadi hari ini"
__ADS_1
"Maaf untuk apa?"
"Semuanya"
Cuphhh...
Eugi memberanikan diri mencuri ciuman dibibir sang suami yang selalu saja mengucapkan kata maaf.
"Menggoda Abang ya?"
Eugi tersenyum, malah membuat Arga semakin gemas.
Arga memiringkan tubuhnya, menopang bobot badannya dengan sikunya. Hingga lebih leluasa memandang wanita yang sedang berbaring. Satu tangannya bermain merapikan rambut Eugi yang mengenai wajahnya.
"Sayang sama Abang?" tanyanya
"Kok nanya gitu? Eugi berada disini saat ini sudah membuktikan semuanya sayang. Abang adalah hidup Eugi, masa depan Eugi, segalanya buat Eugi" Jawab Eugi dengan suara serak
Arga mendekatkan wajahnya, dan Eugi tidak menghindarinya. Mengecup bibir merah yang terasa manis baginya. Berawal dari kecupan dan ciuman itu menuntut lebih dan keduanya saling membalas. Arga mulai mengabsen setiap inci sampai leher jenjang itu begitu menggodanya. Desiran hangat menjalar ke seluruh tubuh Eugi, tapi segel masih belum bisa disentuh.
"Belum bersih banget bang" Ucap Eugi disaat tangan sang suami ingin membuka kancing piamanya.
"Iya sayang, kapan akan selesai? tanya Arga dengan nafsu tertahan
"Sebenarnya sudah selesai, tapi kadang masih ada flek aja. Biasanya besok Eugi keramas"
__ADS_1
"Iya ga papa..." Arga mengahiri dengan mengecup kening Eugi sebagai ucapan selamat tidur.
Eugi memeluk tubuh atletis milik suaminya, berbantalkan lengan kekarnya mulai memejamkan mata.