
Menjelang sore Eugi baru terbangun dari tidurnya. Sedikit bingung. Seingatnya tadi dia berbaring disofa sambil istirahat sehabis makan siang.
Pasti Arga yang sudah memindahkannya.
Selelap itukah dirinya sampai diangkat tidak terasa?
Setelah membersihkan wajah bangun tidurnya, dia beranjak mencari sosok Arga.
Pemandangan yang cukup manis untuk dilihat, sosok Arga tertidur disofa sambil memeluk bantal sofa. Eugi berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara mendekati Arga yang sedang terlelap.
Beberapa menit memandangi wajah yang masih dengan tingkat kegantengan yang tak berkurang meski dalam keadaan telelap.
"Belum puas ngeliatin Abang?"
Suara Arga khas bangun tidur tiba-tiba mengagetkan Eugi yang seperti pencuri yang tertangkap basah. Matanya masih tertutup tapi tangannya tiba-tiba melingkar diperut Eugi yang sedang duduk menyamping.
"Abang pura-pura tidur?"
"Ga. Abang beneran tidur kok. Sensornya on kalo yang deketin itu Eugi."
"Dasar gombal. Melek aja belum udah pake acara gombal."
"Beneran sayang." ujar Arga sambil mempererat pelukannya.
"Sayang" Arga
"Hmmm..."
"Setelah kita menikah ga papa kan kalo kita tinggal di apertemen dulu?"
"Maksud Abang?"
"Sebenarnya Abang sudah siapkan rumah untuk kita tinggal setelah menikah. Tapi keadaan yang tidak sesuai dengan rencana awal. Jadi rumah yang di Pasteur sementara Abang jadikan kantor sebelum kantor yang sebenarnya akan Abang siapkan"
"Sayang, Eugi ga pernah menuntut apa-apa. Tinggal di apertemen seperti ini sudah lebih dari cukup buat Eugi. Eugi belum berfikir untuk rumah. Lagian nanti kuliah juga akan lebih dekat dari sini."
"Makasi buat pengertian kamu sayang."
__ADS_1
"Eugi yang banyak-banyak terimakasih bang. Kamu sudah banyak berkorban demi Eugi. Meninggalkan semua yang sudah kamu raih dan mulai lagi dari nol hanya demi Eugi " ucap Eugi sendu
"Sayang, lihat mata Abang." pinta Arga mulai melihat kesenduan dimata indah calon pendamping hidupnya itu.
Perlahan Eugi mengangkat wajahnya. Memberanikan diri menatap langsung pada mata indah milik Arga yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"Cukup yakin dengan Abang ya. Kita akan lalui semua ini dengan baik sayang. Asalkan kita bersama, kita saling mendukung, semua akan membaik."
Ucapan Arga memberikan kesejukan dihati Eugi. Perlahan Arga mengecup lembut kening kekasihnya.
"Siap sehidup semati dengan Abang?"
"hhhmmm"
Arga lagi-lagi meyakinkan Eugi dengan pernikahan mereka.
"Mulai saat ini Abang tidak mau melihat ada air mata lagi disini." ucapnya seraya mengecup kedua mata indah milik Eugi.
Senyumnya mengembang, memberikan senyum termanis yang dia miliki.
***
Suara bel membuat Eugi beranjak dari kesibukannya didapur menyiapkan makan malam.
"Pak David?" sapa Eugi setelah pintu terbuka
"Maaf nona, saya ada perlu dengan pak Arga."
"Masuk dulu pak David. Pak Arganya lagi mandi. Sebentar juga selesai" Eugi mempersilahkan David masuk.
Eugi langsung kembali ke aktifitasnya menuju dapur sambil menyiapkan teh.
"Sambil nunggu diminum dulu ya."
"Merepotkan nona saja"
"Pak David ga usah formal gitu. Panggil Eugi aja." protes Eugi'
__ADS_1
David hanya tersenyum menanggapi protes calon istri bosnya itu.
"Saya tinggal dulu ya. Silahkan sambil diminum."
"Terimakasih nona"
Eugi meninggalkan David menuju dapur kembali.
Sepeninggalan Eugi tampak Arga sudah keluar dari kamar dengan wajah segar sehabis mandinya menghampiri sang asisten.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan tampak serius.
Melihat jam sudah menunjukkan jam makan malam, Eugi menghapiri kedua lelaki yang masih dengan keseriusannya.
"Kita makan malam dulu sayang. Sekalian pak David ikut kita makan malam juga. Nanti urusannya dilanjutin lagi sehabis makan"
"Hayo David. Nanti kita lanjutkan lagi" Ajak Arga
"Saya makan nanti saja pak. Selesai urusan ini sambil balik kekantor."
"Ga papa, Makan malam bareng kita aja"
"Iya pak David, saya sudah siapkan masak lebih kok"
Dengan berat hati karena sungkan dan tak ingin mengganggu masa-masa berdua sang bos.
Dua lawan satu ahirnya David mengikuti langkah tuan dan nyonya rumah menuju meja makan.
Eugi dengan telaten menghidangkan makanan. Menyiapkan untuk Arga terlebih dahulu kemudian David juga. Setelahnya dia sendiri menyendok makanan keatas piring didepannya.
Tanpa banyak bicara ketiganya larut dalam menikmati makan malam bersama.
"Udah, biarin Eugi aja yang beresin. Kalian lanjut aja urusannya"
"Maaf jadi ngerepotin nona."
"Santai aja pak David."
__ADS_1
Arga mempersilahkan David untuk ke ruang kerjanya. Eugi hanya fokus menyelesaikan urusannya didapur.