Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 11


__ADS_3

Kenapa gue kepikiran Eugi terus ya? Rasanya belum percaya kalo dia akan menikah, dan rasanya gue ga rela.


Angga bekali-kali mencoba memejamkan mata, berusaha mengistirahatkan badan dan fikirannya tapi bayangan Eugi selalu muncul.


"Aishhh, kenapa pake acara ketemu segala seh?" dumel Angga


Matanya yang tidak bisa terpejam membuat lelaki itu beranjak dari tidurnya. Balkon kamarnya menjadi pilihan untuk me waraskan otaknya yang sedang kalut. Sambil memainkan gawai pintarnya dia mencoba mengalihkan fikirannya.


Angga mulai menyulut rokok yang sudah menjadi temannya disaat dia sedang berfikir. Dia bukan pria yang alim-alim banget dengan benda itu, tetapi bukan juga seorang pecandu berat.


Kenapa gue baru sadar kalo loe itu ada dalam hati gue Gi? Kenapa setelah semua yang gue lihat bikin gue semakin ga rela loe bareng Arga? Kenapa sekarang hati gue sakit Gi?


Angga terus saja berkata dalam hatinya, mengumpat dengan keras pada dirinya sendiri.


***


Sementara di apertemen Arga sedang membereskan koper yang tidak begitu besar untuk kepulangannya besok. Eugi tanpa kata-kata hanya memperhatikan Arga.


"Sayang... kenapa diam aja?" ucap Arga mendekati Eugi setelah selesai dengan kopernya


"Ga papa, huh" Eugi menarik nafas berat


"Abang akan datang secepatnya setelah segala urusan selesai. Ga lebih dari 1 Minggu sayang."


Arga meyakinkan kekasihnya yang berat untuk melepas kepulangannya.


"Setelah ini kita akan bersama. Bertahun-tahun kita bisa lewati, ini hanya tinggal hitungan hari sayang. Yakinkan hati kamu, jaga kesehatan."


Arga meraih gadis itu kedalam pelukannya. Memberikan aliran kekuatan positif. Dia tau apa yang dikuatirkan Eugi adalah restu dari keluarganya.


"Apa kamu ragu dengan Abang?" tanyanya dan hanya dibalas dengan gelengan kepala.


"Percayalah, kamu pilihan terakhir dan terbaik sebagai partner hidup Abang. Apapun yang terjadi tidak ada satupun yang bisa menghalangi niat Abang untuk menjadikan Eugi sebagai pendamping Abang"


Gadis dalam pelukannya malah semakin tampak bergetar menahan isaknya mendengar kata-kata Arga yang membuatnya terharu.


"Sayang..." Suara Arga setengah berbisik sembari menghapus air mata yang tak pantas berada di pipi lembut itu.

__ADS_1


Kecupan lembut mendarat dibibir merah jambu milik Eugi. Pelan dan lebih menuntut lagi. Tak ada penolakan dari Eugi membuat Arga semakin panas. Keduanya semakin larut dengan ciuman yang biasa menjadi ciuman yang bergairah.


Arga merebahkan tubuh mungil itu dan mengukungnya dengan tangannya sebagai tumpuan. Dia terus memberikan ciuman yang memabukkan dan Eugi begitu pasrah dengan perlakuan Arga yang membuatnya terbuai.


Keduanya saling memandang sambil mencari asupan oksigen setelah ciuman panjang mereka. Nafas keduanya memburu. Tampak dada Eugi yang jelas naik turun menunjukkan gejolak dalam dirinya.


Bibir mereka kembali menyatu, kali ini tangan Arga tidak tinggal diam. Tangan itu meraih dan menyentuh pusaka kenyal milik Eugi membuatnya semakin terangsang. Entah kapan tangan itu bekerja dua gundukan gunung yang indah terpampang indah meski masih tertutup kain berenda berwarna hitam. Atasan yang tadinya melekat sudah jatuh begitu saja. Tubuh putih itu sangat jelas terlihat semakin membuat Arga hilang kontrol saat bra milik Eugi berhasil dilepasnya.


AC yang cukup dingin tidak membuat sepasang kekasih itu merasa dingin meski tubuh mereka yang sudah setengah telanjang. Arga masih dengan intens mengecup, mengisap, memilin puncak gunung kenyal milik Eugi secara bergantian. Dia sudah seperti bayi yang sedang kehausan menikmatinya.


"Ahhhh..."sesekali desahan Eugi lepas dari bibirnya terdengar membuat gairah Arga semakin memuncak


"Jangan ditahan sayang, Abang suka mendengarnya" Suara baritone milik Arga berucap lembut.


Arga kembali ******* bibir manis yang membuatnya selalu rindu. Nafsu yang benar-benar datang begitu saja. Eugi merasakan benda tumpul yang sudah sangat keras dibalik celana milik Arga membuat fantasinya semakin liar ketika tubuh Arga yang berada diatasnya menyentuh bagian intinya yang masih aman dibalik celananya. Gesekan itu membuatnya semakin gila.


Tanpa melepas tautannya Arga membuka celana yang masih dia kenakan, menyisakan boxer hitam yang sangat menunjukkan benda dibaliknya sangatlah besar. Sementara Eugi sedikit terkejut ketika tangan milik Arga melepas celana pendek miliknya menyisakan ****** ***** berwarna senada dengan bra hitamnya.


Perlakuan Arga yang lembut membuatnya semakin hilang control. Menikmati setiap sentuhan Arga yang memperlakukannya dengan lembut.


Tangan kekar itu menurunkan ****** ***** milik Eugi, tangannya menyusup masuk meraba bagian intinya membuat Eugi semakin merasakan sensasi yang menggetarkan tubuhnya. Tangan itu bermain-main membuat Eugi benar-benar bergetar. Lama Arga memainkan intinya sampai membuatnya terbang dan merasakan puncak nikmat yang belum pernah dia rasakan.


"Kenapa sayang?" Arga


"Hhhmmm..."


Setelah Arga melihat Eugi merasakan pelepasan yang membuatnya nikmat, kembali dia menaikkan ****** ***** milik kekasihnya itu. Sedikit membuat Eugi bingung.


"Kenapa bang?" ucapnya dengan tindakan Arga


Tanpa menjawab Arga kembali mencium dengan nafsu bibir Eugi. Mengapsen setiap inci tubuhnya. Dia melepas benda terakhir yang menutupi bagian pusakanya. Eugi berpaling malu melihat benda itu tergantung dengan gagahnya.


Sambil menciumi tubuh Eugi dia memainkan pusakanya dengan tangannya sendiri.


"Arrghhh..." Erangnya semakin ganas menciumi gundukan kenal milik Eugi.


"Aahhhhh..." Lenguh Arga ketika semburan cairan putih itu muncrat begitu banyak diatas perut Eugi yang polos.

__ADS_1


"Makasi sayang" ucapnya lembut mengecup kening Eugi.


"Maaf yaghhh" Kembali berucap sembari membersihkan benih-benih yang terbuang dengan tissue.


Arga menarik selimut menutupi tubuh mereka.


"Makasi sayang. Kamu memberikanku kepuasan tapi tidak melewati batas." lirih Eugi di pelukan kekasihnya itu.


Arga benar-benar berusaha mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan lebih yang akan melukai kekasihnya itu. Meski begitu mereka bisa menikmatinya dengan cinta. Padahal dia yakin walaupun dia melakukannya tadi Eugi sudah tampak pasrah. Tapi dia ingin menikmatinya setelah keduanya sah menjadi pasangan suami istri.


"Kenapa Abang tidak melakukannya?" tanya Eugi konyol


"Kok bertanya seperti itu? Eugi mau Abang melakukannya" Arga balik bertanya


"Ihhh,..."


"Abang ga mau membuat kamu sakit sayang. Abang ingin kita melakukannya setelah kamu menjadi sah buat Abang. Abang ga mau merusak apa yang sudah kamu jaga selama ini belum waktunya."


" Makasi sayang. Sekarang Eugi yakin, cinta Abang bukan semata karena nafsu. Eugi bersyukur dicintai lelaki sebaik kamu"


"Siapa bilang Abang baik?" Goda Arga


"Buat Eugi, Abang yang terbaik"


"Lihat tubuh kamu merah-merah gitu. Apa Abang masih dibilang baik?" goda Arga membuat bibir Eugi mwnjadi manyun.


"Abang..." Teriaknya sadar sembari memukul dada Arga dengan manja.


"Jangan pancing Abang Gi!"


"Mesum ihhh..." Kesal Eugi beranjak menuju kamar mandi dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tanpa dia sadari ada tubuh bugil yang malahan tersuguh untuk dilihatnya.


Eugi tersadar langsung berlari menuju kamar mandi setelah senyuman devil Arga menggodanya.


Malam yang panjang untuk kedua insan yang sedang kasmaran dengan segala kerinduan hati mereka.


Setelah mengenakan pakaian keduanya tidak menunda untuk mengistirahatkan tubuh dan fikiran mereka. Pelukan hangat Arga membuat Eugi tidak butuh waktu lama untuk tertidur. Arga masih sempat tersenyum memandangi gadisnya yang sudah menunjukkan wajahnya yang terlelap dengan tenang. Dan dia memejamkan mata ditemani aroma tubuh wangi Eugi yang mendamaikan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2