
Eugi baru saja ingin menyegarkan diri setelah seharian melakukan pekerjaan. Cafe cukup rame ditambah dengan orang baru yang menjadi manager yang sok paling tau tentang cafe. Selama ini mereka cukup nyaman dengan formasi kerja yang meski sudah punya tanggung jawab masing-masing tidak menutup kemungkinan untuk saling membantu satu sama lain.
Beberapa hari terahir ini Angga tidak pernah tampak dicafe, plus ada orang baru yang lumayan menjengkelkan. Gayanya yang sok kecantikan dan yang paling menjengkelkan sok merasa berkuasa. Rasa nyaman itu seakan hilang dari tempat itu.
Baru saja dia mengambil handuk yang terjemur, suara ponselnya mengurungkan niatnya sejenak.
Pak Angga
"Hallo..." sapanya pelan
"Heiii, gimana kabar kamu?"
"Baik mas Angga, mas Angga apa kabar? Kok lama ga ke cafe?"
"Kabar mas baik. Kamu sehat? Kenapa? Kangen ya sama mas?" candanya tanpa menjawab pertanyaan Eugi
"Ihhh kepedean. Cuma nanya doang kaleee!"
"Gimana dicafe? Aman kan?"
"A-aman kok"
"Nesya ga menyulitkan kalian kan? Mudah-mudahan bisa menjadi tim yang baik ya..."
"Nyebelin banget malahan" batin Eugi
Lama suasana diam. Terasa kaku dan ini bukan Angga yang Eugi kenal.
"Ya udah mas, Saya mau mandi dulu ya" Ijin Eugi pada ahirnya
"Ohh iya Gi. Mas juga mau pulang juga."
"Bye mas..."
"Bye Eugi"
Eugi melanjutkan rencana mandinya langsung menuju kamar mandi dan menyegarkan tubuhnya yang lumayan lengket.
Sementara Angga dengan mata terpejam menyandarkan kepalanya pada kursi kebesaran yang tampak nyaman. Mendengar suara Eugi barusan membuat hatinya bergejolak. Ada rasa rindu pada sosok manis itu, tapi rasanya berat menghadapi kenyataan jika gadis yang sudah mengusik hari-harinya itu akan bersanding mengikat janji suci pernikahan dengan orang lain.
Apakah ini yang namanya patah hati???
***
Lama Angga dalam posisi duduk sembari menengadahkan kepalanya bersandar di kursi kerjanya. Entah apa yang ada dalam kepalanya tiba-tiba dia beranjak, merapikan beberapa benda diatas meja, mematikan laptopnya dan meraih kunci mobil. Kakinya sedang melangkah mengikuti perintah otaknya.
Jalanan yang lumayan lancar karena jam sibuk pulang kantor sudah lewat. Seperti otomatis, setelah menunggu beberapa detik si lampu merah ahirnya berubah menjadi hijau. Seharusnya kantor kerumahnya lurus, tapi setir yang sedang dikemudikannya malahan berbelok kearah kanan dan berhenti tepat disisi kiri jalan. Tampak gerbang besi yang cukup tinggi tapi suasana masih sangat terang.
"Kenapa gue kemari?" ujarnya pada diri sendiri
__ADS_1
Dengan sedikit ragu, Angga meraih ponsel dan mendial nomor yang terahir kali di hubunginya.
"Iya mas Angga?" sapa Eugi setelah panggilan tersambung
"Mas ada didepan" balas Angga dan langsung mengakhiri panggilan
Tak lama Eugi keluar mencari sosok yang baru saja menghubunginya. Setelah celingak celinguk ahirnya menemukan mobil Angga yang ada dipinggir jalan.
Tok tok tok...
Kaca dibuka dan Angga mengisyaratkan untuk Eugi masuk kedalam mobil.
"Kenapa mas? tadi barusan telpon, kok tiba-tiba udah nongol aja?" ujar Eugi setelah mengikuti isyarat Angga masuk ke mobil dan duduk.
Tanpa berkata apa-apa, pintu mobil locked dan Angga langsung melajukan mobil membuat Eugi bingung.
"Kita mau kemana mas? Maksudnya ngebawa Eugi kayak gini apa?" Eugi mulai panik.
"Pake seatbelt nya!"
Hanya itu kalimat yang keluar.
Eugi masih dengan sega pertanyaan dan hanya dibalas dengan diam oleh Angga. Matanya hanya fokus kedepan memegang kemudi yang lumayan dengan kecepatan tinggi.
"Pelanin mas, Eugi takut..." ucap Eugi yang sudah berkaca-kaca.
"Massss...." Teriak Eugi diikuti oleh rem dadakan oleh Angga.
Hampir saja seorang pejalan kaki tergilas rata jika saja Angga tidak langsung menginjak rem.
Eugi dengan tubuh gemetar masih menutup matanya. Sementara Angga yang sadar, tiba-tiba memukul setir dengan kencang.
"Maafin mas Gi" ucap Angga seraya meraih tubuh gemetar Eugi kedalam pelukannya. Meski gadis itu menolak, Angga terus saja memeluknya. Hingga pemberontakan berubah menjadi isakan tangis yang semakin menjadi.
"Kenapa mas Angga melakukan ini? Eugi sangat takut mas."
"Maafin mas"
Setelah Eugi tenang, Angga melepaskan pelukannya dan mengusap lembut wajah sembab Eugi yang penuh dengan air mata.
"Mas ingin bicara serius dengan kamu. Kita ke taman itu ya? Sebentar aja " ucap Angga sambil menunjuk sebuah taman.
" Eugi mau pulang mas" Ucap Eugi tanpa menoleh sedikitpun pada Angga.
Badannya masih terasa gemetaran akibat rasa takutnya. Rasa trauma atas kecelakaan yang membuat papanya meninggal masih terus terngiang dalam bayangannya.
Hal yang Angga tidak pernah tau akan trauma itu.
"Eugi mau pulang mas. Tolong antar saya pulang" pinta Eugi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Melihat kondisi Eugi yang shock membuat Angga ahirnya putar balik. Kali ini dengan kecepatan yang rendah.
Sesekali dia melirik kearah Eugi yang masih diam. Tatapannya kosong kearah menatap keluar.
"Eugi, mas minta maaf. Bukan maksud bikin kamu takut. Mas hanya bingung"
"Apapun alasannya yang pasti itu bukan hal yang baik untuk dilakukan mas. Bukan dengan harus ngebut-ngebutan seperti itu. Kamu bukan seperti Angga yang saya kenal"
Lagi-lagi Angga tiba-tiba menghentikan mobilnya di peinggir jalan. Pelahan membuka seatbelt yang dikenakannya. Dia memiringkan duduknya hingga dengan leluasa menghadap Eugi.
"Gue cinta, gue suka, gue sayang sama loe Gi" ujarnya lantang
Deggghhh
Eugi langsung berbalik menatap Angga.
"Mas sadar yang mas katakan?"
"Yaghh, saya sadar dan saya sadar sudah terlambat menyadari perasaan ini. Tapi kamu harus mengetahuinya Gi, meski dihati kamu sudah ada orang lain."
"Jangan bicara omong kosong mas Angga"
"Hak kamu untuk percaya atau ga. Semua kata-kata yang aku ucapin ke kamu, semuanya benar adanya Gi. Meski kamu selalu menganggapnya bercanda. Dan aku sadar semuanya ga mungkin setelah bertemu Arga, setelah melihat kamu amat mencintainya, begitu pedulinya dia terhadap kamu sampai dia rela berkorban untuk kamu untuk stay di kota ini."
"Dari mana mas tau kalau Arga akan stay disini?"
"Semua tentang kamu ga luput dari mata dan telingaku Gi."
Eugi terdiam dan membuang pandangannya
"Tapi percaya sama mas. Mas bukan orang yang egois. Cukup dengan kamu tau perasaan mas. Mungkin berat bagi saya dengan semua ini, tapi rasa yang ada buat kamu cukup dengan melihat kamu bahagia"
"Sekarang mas sudah plong, semua yang menjadi beban hati mas sudah keluar. Maaf untuk tadi sudah membuat kamu takut. Mas yakin Arga yang terbaik buat kamu. Mungkin mas terlalu pengecut untuk iklas saat ini. Jadilah adik yang manis buat mas. Cukup dengan menjadi adikku mas bisa menyayangi kamu lebih dari sebagai kekasih."
Tanpa terasa air mata Eugi jatuh begitu saja mendengar penuturan Angga yang begitu menyentuh hatinya. Angga sosok yang sangat baik sejauh yang dia kenal. Dan hari ini sosok baik itu sedang merasakan luka dihatinya. Tapi Eugi tidak bisa memberikan obat buat luka itu.
"Mas Angga..." Peluk Eugi
"Maafin Eugi yang tidak bisa membalas rasa kamu. Eugi mencintai orang lain mas. Eugi sayang sama Arga."
"Mas ngerti Gi. Mas akan doain kebahagiaan yang banyak buat kamu. Ada Arga yang mencintai kamu dengan tulus, ada mas yang sayang sama kamu. Mungkin butuh waktu buat mas menerima semua ini. Tolong bantu mas dengan tidak berubah dari sikap kamu yang dulu."
"Maafin saya mas..."
"Sudah, tidak baik calon pengantin Arga menangis seperti ini."
Angga tampak sudah kembali menjadi sosok hangat yang Eugi kenal. Meski hatinya masih butuh proses penataan.
Eugi memilih diam dengan Angga yang masih fokus pada jalanan. Keadaan terasa kaku memang dan cukup mengganggu perasaan Eugi yang sedang memikirkan apakah Arga menghubunginya. Karena ponselnya yang tertinggal pada saat Angga menculiknya.
__ADS_1