
Sepasang kekasih itu memutuskan untuk keluar apertemen. Menikmati kebersamaan dengan mengunjungi mall yang cukup besar dan terkenal dikota kembang itu.
Sepanjang jalan tautan tangan keduanya seakan enggan untuk dilepas. Tak perduli beberapa pasang mata memandang iri dengan kemesraan pasangan itu.
"Yang ini bagus sayang" ucap Arga sembari menarik Eugi memasuki salah satu butik yang cukup besar dan yang pasti harganya juga bukan kalangan seorang Eugi.
Gadis itu merasa enggan untuk melihat apalagi untuk membelinya.
Arga sadar akan sikap Eugi.
"Sayang, untuk hari ini tolong tidak menolak. Kalo Eugi tidak mau memilih, jangan salahkan pilihan Abang nantinya" ucapnya dengan mata memohon.
Sedikit ragu ahirnya Eugi mengiakan. Sebenarnya ada rasa tidak nyaman menerima tapi demi menjaga perasaan Arga, ahirnya dia menerima.
"Udah cukup bang. Ini sudah banyak" tolak Eugi saat Arga ingin memasuki butik yang lain.
"Baiklah, berarti sekarang kita ke toko itu." ucap Arga sembari mengajaknya ke toko perhiasan yang cukup menyilaukan mata.
"Selamat sore tuan, nona, ada yang bisa kami bantu? Mari silahkan duduk dulu" Sapa pelayan toko cukup ramah.
"Saya mau pesan sepasang cincin"
"Wahhh, akan ada hari bahagia tuan?" Sang pelayan sok ramah sambil mengeluarkan beberapa koleksi tokonya
Eugi sempat tak percaya jika Arga sedang mengajaknya ke toko perhiasan dan menginginkan cincin couple.
"Eugi suka yang mana sayang?"
__ADS_1
Eugi yang masih tidak percaya sedikit terkejut dibuat Arga yang menyentuh hidung mancungnya.
"Aa-aapa bang?"
"Jangan melamun sayang. Ini kamu suka yang mana?" Ulangnya
Setelah melihat sesaat mata Eugi tertuju pada cincin yang modelnya sangat sederhana. Dihiasi dengan batu permata kecil yang indah. Tampak sangat simple tapi tampak begitu cantik.
Dipintu masuk seseorang yang sangat mengenal Eugi sedikit bertanya dalam hati dengan keberadaan Eugi yang tak sendiri di tempat itu.
"Pak Angga?" Sapa Eugi ketika menyadari keberadaan Angga yang pura-pura tak melihatnya. Arga yang tadi serius ikut menoleh kearah mata Eugi.
Angga yang merasa namanya dipanggil menghampiri Eugi dengan kaku, meninggalkan maminya yang sedang berbincang dengan pelayan toko
"Wahhh, kebetulan sekali bisa ketemu disini" sapa Angga berusaha ramah
"Lagi sama siapa pak?"
"Kalian sendiri?" Tanya Angga
"Lagi nyari cincin buat pernikahan kami pak Angga" Jawab Arga sedikit tidak suka dengan keberadaan Angga.
"Wahhh, selamat ya Gi. Kalo gitu saya mau ke mami dulu yaghhh" pamitnya dengan gemuruh hati yang kacau.
Dia akan menikah kenapa rasanya aku yang gemetar yaghhh? Kok hatiku rasanya tidak bisa terima. Ada apa ini?
Arga masih memperhatikan gelagat Angga yang sedikit berbeda. Sesama lelaki Arga paham dengan melihat reaksi wajah Angga yang seketika berubah setelah mendengar kalimat singkatnya. Tapi sosok kekasihnya menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja membuatnya lega.
__ADS_1
Setelah mendapat kesepakatan yang mana menjadi pilihan mereka, Eugi ijin ke toilet meninggalkan Arga yang masih dengan urusan transaksi pembayaran.
"Kita pulang sekarang bang?" ajak Eugi setelah melihat Arga sudah menunggunya.
Arga tersenyum sembari menghampiri kesayangannya itu. Merangkulnya mesra sembari meninggalkan toko.
***
Sesampainya di apertemen, Eugi merapikan stok bahan makanan kedalam kulkas setelah sebelumnya mencuci dengan bersih. Kemudian merapikan belanjaannya yang lumayan banyak kedalam lemari.
Tampak Arga yang sudah segar dengan rambut basahnya keluar dari kamar mandi dengan dada telanjangnya yang memamerkan roti sobek yang begitu indah dipandang.
Eugi spontan memalingkan wajahnya yang tampak memerah.
"Kenapa berpaling gitu?" Goda Arga
"Abang..."
Bukannya menjauh Arga malah mendekati kekasihnya yang tampak menunduk. Arga malah memeluknya dari belakang membuat Eugi semakin ga karuan.
"Eugi belum mandi, maen peluk-peluk aja" protesnya
"Biarin.." balas Arga
Eugi berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga. Perasaannya campur aduk. Jantungnya seakan berdetak lebih kencang dari biasanya. Bagaimana tidak, pemandangan itu sangat menggoda dan ada rasa takut.
Arga hanya bisa tergelak melihat gadisnya menunjukkan wajah malu-malu membuat dirinya semakin ingin cepat-cepat menghalalkan kekasihnya itu.
__ADS_1
Sambil menunggu Eugi dengan ritual kamar mandinya, Arga membuka laptop dan mulai mencek berkas-berkas yang dikirimkan David sang asisten melalui email untuk diperiksa.
Setelah ponselnya aktif setelah seharian sengaja dinonaktifkan, banyak notifikasi yang berlomba-lomba ingin dilihat oleh pemiliknya. Banyak notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan. Beberapa hanya sekedar dilihatnya tanpa membalas. Ada juga yang membutuhkan balasan.