
Pagi ditempat kerja
"Pak Angga, boleh bicara sebentar?" Pinta Eugi melihat wajah Angga yang lumayan bersahabat.
"Ada apa Gi? Kita bicara diruanganku" ajaknya sambil menuju ruangan yang tidak terlalu besar yang mana itu adalah ruang kerja Angga.
Sambil menata kalimat yang akan dilontarkannya dia membetulkan posisi duduknya.
"Tumben kamu pagi-pagi dah ngajak kencan berdua?" Angga membuka pembicaraan dengan kata-kata konyolnya.
"Pak Angga bisa aja..."
"Eugi, diruangan ini hanya ada kita berdua, dan sudah sering aku ingatkan, berat rasanya mendengar kata pak dari mulut kamu. Kesannya aku udah tua banget gitu..."
"Tapi yang ingin saya bicarakan urusan pekerjaan..."
"Kelihatannya serius..." ucap Angga mulai menatapnya.
"Saya mau mengundurkan diri..." suara Eugi tertahan sambil menyodorkan sebuah amplop berisikan surat pengunduran dirinya
"Whattt..." Angga dengan tatapan ga percaya dengan apa yang dindengarnya barusan.
"Masalahnya apa? Apa gaji kamu kurang? Apa ada masalah dengan teman-teman kamu?" Tanya Angga memborong sekaligus pertanyaan.
Eugi hanya menggelengkan kepalanya menjawab semua pertanyaan Angga.
"Ga ada masalah sama sekali. Saya mau kuliah lagi pak Angga. Kemarin pengumuman dan saya lulus dengan jalur tes beasiswa penuh."
"Masih ada waktu 3 bulan sebelum jadwal kuliah jadi bisa untuk nyiapin orang menggantikan saya."
Angga masih terdiam belum merespon apa-apa. Keputusan Eugi sangat membuatnya kaget dan belum percaya. Sosok manis yang sangat giat dalam bekerja, disiplin soal waktu dan yang terpenting jujur. Angga sudah sangat nyaman dengan formasi karyawannya saat ini. Tapi Eugi memutuskan hal yang tidak diduganya sama sekali.
"Terus biaya hidup kamu setelah resign gimana? Biaya kuliah kamu? " Angga sedikit kuatir
"Saya bisa bekerja freelance pak. Kebetulan ada yang menawarkan untuk mengajar private."
"Okeee...biar aku fikirkan dulu" ujar Angga sambil membolak balik amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.
***
Eugi melangkah keluar dari ruangan Angga masih belum puas dengan jawaban akan aku fikirkan. Wajahnya masih menanggung beban.
"Gimana" selidik Cahya
"Pak Angga bilang masih di fikirkan dulu"
__ADS_1
"Sebenarnya ga ada pilihan buat bilang ga, cuma ga tau tuh orang. Kadang rada aneh..."
Keduanya tanpa banyak bicara kembali melakukan tugas masing-masing setelah sepasang mata elang Angga melihat kearah mereka.
Masih dalam pergumulan luar biasa Eugi yang sedang menyediakan pesanan tampak tidak konsentrasi.
"Silahkan bu, pak..." sembari meletakkan pesanan dimeja.
"Mbak...kan saya pesannya tanpa keju, ini kok atasnya keju semua." Protes wanita itu lumayan keras sehingga mengundang Angga mendekati meja.
"Maaf bu...akan segera diganti" ujarnya tanpa banyak basa-basi.
Tatapannya mulai berbeda pada Eugi yang sedang tidak dalam konsentrasi penuh.
***
Beberapa kali Eugi melakukan kesalahan hari itu. Dan itu diluar kebiasaannya. Kemurungan menyelimuti wajahnya yang tampak sedang menyimpan banyak masalah. Biasanya Eugi dengan leluasanya bercerita segala masalahnya. Tapi tidak kali ini.
Masih menunggu angkutan umum dihalte yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Tiba-tiba mobil putih berhenti tepat disampingnya.
"Hayo pulang sama aku aja Gi..." suara Angga muncul setelah kaca mobil diturunkan
Bukan hal baru bagi Eugi nebeng pulang dengan bosnya itu. Kalo kebetulan bisa pulang barengan, Angga selalu mengajaknya dan kebetulan jalan pulang mereka searah.
"Keliatannya hari ini kamu ga bersemangat?" Suara Angga memecah diam setelah Eugi duduk disebelahnya.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku" pinta Angga tanpa menoleh dan masih fokus dengan jalanan yang lumayan macet. Meski di cafe Angga sosok yang tegas, tapi hatinya sangatlah peka. Tapi entah kenapa pria tampan itu selalu saja menjadi korban wanita. Beberapa kali kisahnya dihianati oleh perempuan.
"Arga memberikan pilihan yang sulit mas, disaat aku mendapatkan jalan untuk masa depanku. Kelulusanku mengancam hubunganku sama Arga. Kalo aku memeilih kuliahku maka aku harus menyiapkan hati untuk kehilangannya."
"Kelahiran, kematian, jodoh, sudah punya pasangan masing Gi, berdoa minta sama Tuhan yang terbaik buat kamu..."
Kalimat Angga benar-benar nyejukin hati.
"Kalo memang Arga mau ninggalin kamu, Angga siap kok jadi penggantinya..." Sambil tersenyum Angga melontarkan kalimat yang terdengar konyol ditelinga Eugi.
"Mas apaan sihhh..."
"Kan sama-sama A..." balasnya dengan tawa yang sangat lepas.
Perjalanan yang lumayan macet tak terasa terlewati dengan obrolan santai. Mobil Angga tepat berhenti didepan gerbang kosannya.
"Makasi untuk tumpangannya mas..." Eugi sembari membukan seatbelt.
"Gi...kata-kata mas tadi ga becanda loh" cegahnya menahan langkahku untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
Tatapan Angga kali ini tampak serius.
"Mas mau menggantikan posisi Arga dihati kamu." Tambahnya meyakinkan sembari meraih tangan Eugi kedalam genggamannya.
"Jangan seperti ini mas..." Eugi menarik tangannya.
Angga merasakan penolakan halus Eugi membuatnya melepas genggamannya.
"Sekali lagi makasi mas atas tumpangannya" ucap Eugi seraya keluar dari mobil.
Angga masih memandangi punggung Eugi yang perlahan hilang dari pandangan matanya. Menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, Angga memegang kemudi untuk meninggalkan tempat itu.
***
Dirumah yang cukup mewah bak istana kawasan perumahan Dago Pakar Angga memarkirkan mobilnya dan bergegas memasuki rumah.
Diruang keluarga sudah ada mami dan papinya yang sedang menikmati malam sebelum tidur mereka.
"Baru pulang sayang..." sapa mami yang melihat kedatangannya membuatnya mengurungkan niat masuk kekamarnya.
"Mami dan papi kapan sampainya?"
"Sore tadi nak, gimana kabar kamu?"
"Seperti yang mami dan papi lihat. Am fine..."
"Angga, papi harap kamu sudah mempertimbangkan untuk mengelola perusahaan kita. Papi sudah semakin tua dan waktunya pensiun. Papi juga pengen menikmati masa tua dong..." Papi mulai membahas yang sudah pernah dibahas.
"Masalah cafe kamu kan bisa dipegang oleh orang kepercayaan kamu dan kamu masih bisa menjalankan tanpa harus berada disana setiap harinya" Mami menambahkan
"Akan Angga fikirkan pi..."
"Jangan cuma bilang difikirkan, pokoknya dalam tahun ini kamu harus mengambil alih perusahaan kita." Tegas papi
Pembicaraan berlangsung cukup panjang malam itu. Dari hal yang ringan sampai berat dan berahir dengan "akan Angga fikirkan."
Jawaban paling mujarab menghentikan permintaan dua orang tua yang sangat disayang oleh Anggara.
Malam yang semakin larut menuntut Angga untuk meminta ijin untuk kekamarnya. Mata dan tubuhnya ingin segera di istirahatkan setelah seharian bergelut dengan cafe, beberapa projeck yang sedang dia kerjakan, membangun kerajaan bisnisnya sendiri tanpa sepengetahuan mami dan papinya. Karena Angga tidak mau suksesnya hanya karena kesuksesan papinya.
Setelah membersihkan diri, sosok Angga merebahkan tubuhnya dikasur yang cukup besar dan nyaman kembali mengingat penolakan halus Eugi terhadapnya. Lagi-lagi dia merasakan penolakan yang mana mungkin Eugi hanya menganggapnya kekonyolan seoarang Anggara.
Perasaan yang berawal hanya karena kasihan berubah menjadi sayang bahkan sekarang bisa dikatakan dia mencintai gadis gigih yang tak kenal lelah demi masa depan terbaiknya.
"Eugi Natali"
__ADS_1
Angga mengeja nama itu dengan mata yang terpejam. Berharap gadis itu akan datang dalam hiasan tidurnya