
Eugi yang terbangun lebih dulu dengan sangat pelan dan hati-hati beranjak agar Arga tidak terbangun.
Membersihkan wajahnya kemudian meninggalkan kamar untuk menyiapkan sarapan sebelum meninggalkan Arga untuk bekerja.
Wajahnya beberapa hari terahir terlihat sendu, pagi ini tampak ceria. Langkahnya ringan keluar apartemen mencari sesuatu untuk sarapan karena tidak ada stok bahan makanan dikulkas. Biasanya sebelum Arga datang selalu mengabari jadi Eugi menyiapkan. Berbeda dengan kedatangannya kali ini.
Di Apartemen
Arga terbangun dan terkejut dengan ketidakberadaan Eugi disampingnya.
Seketika dia bangkit mengecek ke kamar mandi, kamar yang satunya, dapur bahkan dibalkon dan tak juga menemukannya.
Wajahnya gusar sedikit memucat. Fikirannya sudah entah kemana-mana.
Suara telpon Eugi terdengar dikamar yang artinya ponsel itu sedang tidak bersama tuannya.
Ceklekkk...
Suara pintu terbuka wajah sumbringah Eugi muncul dengan beberapa tentengan ditangannya. Arga dengan lega menghampiri gadisnya dan mengambil alih bawaannya.
"Abang udah bangun..."
"Kok ga bangunin abang yank. Kan bisa keluar bareng"
"Ga papa, abang kelihatan capek. Eugi ga tega mau bagunin." Ucap Eugi sembari menyiapkan sarapan.
Keduanya menikmati sarapan sambil ngobrol santai. Percakapan yang saling sambung menyambung, membicarakan banyak hal.
"Nanti kerja abang antar ya."
Eugi hanya mengiakan. Sembari merapikan meja kemudian menuju wastafel.
Tangan kekar Arga hangat memeluknya dari belakang.
"Abang... masih belum selesai sayang..." Eugi berusaha melepaskan pelukan Arga
"Biarkan seperti ini..."
Eugi berbalik menghadap lelaki itu. Menatapnya mata elang yang sangat teduh. Perlahan entah siapa yang memulai wajah keduanya saling mendekat hingga bibir mereka menyatu. Eugi merasakan gerakan lembut dilakukan Arga membuatnya menikmati ciuman pagi yang cerah itu. Cukup lama ciuman itu berlangsung sampai keduanya seakan kehabisan nafas. Kembali Eugi memeluk Arga dan dengan lembut dia hanya mengecup puncak kepala gadisnya.
"Eugi mau mandi dulu bang" pamitnya dengan wajah bersemu merah.
"Ikuttt..."canda Arga
"Huuusshhh..." Eugi mengerucutkan bibirnya buru-buru beranjak meninggalkan Arga sebelum lelaki itu kembali menyerangnya.
Arga hanya tertawa melihat gadisnya pergi dengan wajah malu-malunya.
***
Seperti yang dijanjikan Arga mengantar kekasihnya menuju tempat kerjanya. Wajah keduanya penuh bahagia. Sepanjang perjalanan Arga menggenggam tangan Eugi seakan enggan melepasnya.
"Selamat bekerja sayang"ucapnya mengecup kening Eugi sebelum gadis itu beranjak meninggalkannya.
"Abang akan pulang ke apartemen. Nanti makan siang abang jemput ya..."
__ADS_1
Arga masih menatap langkah Eugi hingga memasuki cafe kemudian memutar kemudi menuju apartemen.
Didalam cafe
"Kayaknya lagi ada yang bahagia nie...??? Siapa tuh???" Todong Cahya didepan pintu.
Eugi hanya memainkan sebelah matanya dengan wajah yang semakin membuat Cahya penasaran.
Apartemen...
Arga merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. "David"
Nama itu segera dihubunginya. Sekretaris yang multitalen sekaligus orang kepercayaannya yang bisa melakukan banyak hal.
"Hallo pak..."
"David, bagaimana kondisi disana?"
"Sejauh ini masih terkendali pak. Beberapa file barusan sudah saya kirimkan ke email bapak. Mohon untuk di cek..."
"Iya, sebentar saya cek."
"Tolong persiapkan masalah kantor di Bandung. Dalam 2 hari ini saya akan pulang, persiapkan untuk rapat, karena ada bebarapa hal yang akan saya sampaikan..."
"Dokumen-dokumen yang saya minta tolong diurus segera ya..."
"Baik pak"
"Saya rasa itu dulu. Kalo ada apa-apa segera kabari saya..."
Arga mematikan telponnya dan beralih kenomor lain. Kali ini Bram Setiadi sahabatnya sewaktu mengambil Master di University of Ghent sewaktu di Belgia.
Tuuuuttt....tuuttt...tuttt...
"Hallo bro... apa kabar? Gue ga mimpi nie dihubungi sama bos besar?" Suara di sebrang terdengar nyaring..
"Loe bisa aja. Kabar gue baik. Lagi dimana nie..."
"Gue lagi di kantor. Maklum masih merintis bro..."
"Chat alamat ya, kebetulan gue lagi di Bandung."
"Wahhh... oke okee gue tunggu ya..."
Tak lama pesan Bram diterima. Tanpa membuang waktu Arga langsung beranjak menuju alamat yang dimaksud.
Tidak banyak kesulitan dalam mencarinya dengan adanya share locations. Cukup 20 menit Arga sudah sampai di kawasan perkantoran yang cukup besar.
"Saya Arga mau bertemu dengan pak Bram" ucap Arga di resepsionis yang memandang kagum dengan ketampanan seorang Arga dengan kaca mata hitam yang masih dia kenakan.
"Bapak sudah buat janji sebelumnya"
"Sudah..."
"Baik... sebentar pak..."
__ADS_1
Resepsionis itu meminta Arga menunggu sebentar.
"Maaf pak, ada tamu bernama pak Arga ingin bertemu dengan bapak" ucap resepsionis itu sopan.
"Ohh iyaaa, tolong suruh tunggu sebentar ya, saya akan segera turun."
"Baik pak..."
Resepsionis itu menghampiri Arga yang sedang memainkan ponselnya.
"Maaf pak, tuan Bram akan segera turun. Mohon menunggu sebentar."
Tak butuh waktu lama sosok sahabat muncul disaat lift kantornya itu terbuka sempurna.
Keduanya saling berpelukan. Sahabat yang sudah lama tak bertemu melepas rindu.
"Loe ga banyak berubah Ga. Awet banget..." Bram sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Loe yang makin subur bro... ga nyangka perubahan loe sedrastis ini."
"Iyaaa nie, asupan gizi dari bini gue cocok..."
"Apa??? Loe dah merried" Arga sedikit ga percaya.
"Dah ada 2 jagoan lagi... Sepulang dari Belgia gue disambut perjodohan dari orang tua gue. Sebulan gue kenal ahirnya kita mutusin menikah dan bersyukur sampai hari ini gue menikmati dan bahagia dengan rumah tangga gue..."
"Hebat loe...sukses karir sukses yang lainnya juga..." puji Arga
"Kita ngobrol sambil ngopi ya... banyak cerita nie..." ajak Bram yang langsung di iyakan oleh Arga.
Keduanya meninggalkan kantor Bram menuju coffeshop yang ga jauh dari kantor Bram.
Keduanya benar-benar memanfaatkan waktu buat bertemu. Cerita panjang lebar. Jarang-jarang bisa ngobrol panjang lebar. Mulai dari mengenang cerita, keluarga, karir bisnis mereka bahas.
"Rencana gue akan pindah kantor, tepatnya menambah pusatlah Bram. Karna hati gue ada dikota ini."
"Segitu cintanya sampai harus pindah kantor Ga?"
"Yahhh bisa dibilang begitu. Kesannya gue bodoh ya...tapi Gue mengormati segala keinginannya. Gue ga mau membatasi potensi dirinya. Dia gadis mandiri yang ga mau memanfaatkan duit gue doang. Gua kasi dia fasilitas,gue beliin Apartemen agar dia nyaman tapi semua ditolak, gue bekalin dia ATM. Tiap bulan gue udah budget buat dia sampai hari ini tidak sepeser pun dia tarik dan itu sudah berjalan 3 tahunan Bram."
"Masih ada cewek kayak gitu jaman sekarang?"
"Yahhh... gue memiliki salah satunya."
"Sekarang dia lulus buat kuliah disini jalur beasiswa. Satu sisi gue ga mau mematahkan cita-citanya. Setelah gue putusin buat stay disini ahirnya dia menerima lamaran gue. Sempat diambang perpisahan. Tapi gue ga siap buat kehilangan dia. Cukup menguras perasaan mengambil keputusan ini Bram."
"Jalanin aja Ga... kita ga bisa menolak yang namanya takdir. Selagi loe nyaman..."
"Jujur, gua pernah mencoba melirik wanita lain dibelakangnya. Mencoba perjodohan dari orang tua gue. Tapi adanya gue diporotin, mereka hanya mau harta gue. Untuk itu gue meyakinkan hati gue, dia adalah yang terbaik buat gue."
"Berarti selama ini loe LDR ama dia?"
"Begitulah..."
"Berat juga kisah loe bro. Ternyata ga semulus bisnis loe."
__ADS_1
Arga hanya tersenyum mendengar kalimat terahir Bram. Memang pada kenyataannya berat.