Hati Pengganti

Hati Pengganti
part 41


__ADS_3

Setelah menginap di rumah sakit dan mengetahui kondisi kehamilan sang istri, Arga benar-benar berubah sangat posesif dari hari-hari sebelumnya. Meskipun sebelumnya sudah terbilang posesif. Untuk saat ini kadar posesif nya bertambah berkali kali lipat.


Sedikit bertanya dalam hati dengan kehadiran sosok baru di apartment.


"Sayang, kenalkan ini bi Mar."


"Bi Mar, kenalkan ini Eugi, istri saya. "


Arga memperkenalkan keduanya. Eugi tersenyum ramah tapi masih dengan pertanyaan "siapa"


"Abang minta bi Mar untuk bantu-bantu, sekalian kalo abang ga ada Rugi ada yang nemenin."


"Biar abang tenang kalo sedang ga ada atau lagi di kantor sayang" lanjutnya


"Abang... " peluk Eugi yang sudah berkaca-kaca


"Heiii... kok jadi mewek?? "


"Ga kok... Makasi sayang" ucap Eugi menyembunyikan wajahnya.


Mungkin efek hamil muda yang membuat Eugi sedikit lebih sensitif.


Deringan ponsel Arga mengurai pelukan keduanya.


"Kok tumben Mel pagi-pagi telpon? "


"Diangkat gihhh bang, siapa tau penting"


"Hallo Mel... " Ucap Arga setelah men-scroll icon hijau


"Bang... " suara di seberang menunjukkan keadaan tidak baik-baik saja


"Ada apa Mel??? Coba bicara yang tenang


" Ppapa bang... "


"Papa kenapa? coba kamu yang tenang! "


"Papa kritis... "


"Kritisss??? kenapa bisa??? "


"Kemarin malam masuk rumah sakit, sehabis bertengkar sama mama. Sepertinya jantung papa. Sampai pagi ini belum ada perubahan, dan dokter bilang kondisinya benar-benar kritis dan harapannya kecil"


Arga tampak memejamkan matanya sembari mengontrol fikirannya untuk tetap tenang.


"Kenapa sayang? " Tanya Eugi sembari meletakkan gelas yng masih berisikan susu di meja


"Papa terkena serangan jantung. Mel bilang kemarin malam setelah ada pertengkaran dengan mama."


"Trus sekarang bagaimana keadaannya?? "


"Katanya kondisi papa kritis dan harapannya kecil. Mel minta kita pulang, tapi kondisi kamu juga tidak memungkinkan untuk penerbangan sayang. Abang ga bisa ninggalin kamu dalam kondisi saat ini. "


"Abang, yang terpenting abang dulu bs ketemu papa. Ga apa-apa Eugi tinggal. "


"Ga sayang, abang ga bisa ninggalin kamu"


"Abang, itu papa loh yang sedang sakit. Eugi masih bisa di temenin sama bi Mar. Kalo ada butuh apa-apa bisa minta tolong David."


"Tapi... "


"Abang ga boleh mikir macam-macam. Pulanglah, papa sedang butuh dukungan kamu bang. Siapa tau dengan semua ini hubungan abang dengan papa bisa membaik. Kasian mama dan Mel bingung disana."

__ADS_1


.


.


.


.


.


Dalam dilema panjang ahirnya Arga memutuskan untuk berangkat pulang meski dalam kondisi tidak tenang meninggalkan sang istri. Ada rasa berat untuk melangkah **** itu hanya keluar dari pintu.


"Sayang, percaya semua akan baik-baik saja" ucap Eugi memberikan kekuatan pada Arga


Dengan lembut Arga mengecup kening, mata, hidung dan berakhir dibibir merah jambu sang istri.


" Abang akan cepat pulang" ucapnya sembari memeluk erat tubuh mungil Eugi.


"Iya sayang, kami akan menunggu" Eugi berucap sembari meletakkan tangan suaminya di perutnya yang masih rata.


Arga sedikit berjongkok memeluk serta mencium perut Eugi dengan senyuman.


"Papa tinggal dulu sayang, papa akan cepat pulang" bisiknya sendu


"Udah bang, David sudah nungguin diluar" Ucap Eugi mengahiri drama keberangkatan.


Benar saja, diruang tamu David sudah menunggu untuk mengantarkan Arga ke bandara.


"Bi Mar, saya titip istri saya ya. "


"Baik tuan... "


"Hati-hati sayang ya, salam buat mama, papa, Memel"


Serasa berat sekali melagkahkan kaki, sekali lagi pria dengan tubuh tinggi atletis itu memeluk Eugi, mengecup pucuk kepalanya berkali-kali seakan ga mau terpisah.


"Hati-hati pak David"


"Baik nona... " balas David sambil menarik koper kecil tuannya.


.


.


.


.


.


Meski berat berpisah, tapi Eugi tidak boleh egois. Kondisi pernikahannya memang tidak mendapatkan restu dari papa Arga, tapi bagaimana pun Arga bukan hanya miliknya seorang.


Baru ditinggal sebentar tapi rasanya sangat berat. Ada rasa yang mengganjal seakan tidak rela.


"Non, makanannya sudah mateng, silahkan makan dulu. Daritadi non belum makan apa-apa. "


"Iya bi, sebentar Eugi keluar ya" balasnya malas beranjak dari balkon


"Atau bi Mar bawakan kemari? "


"Ga usah bi, saya akan ke dalam. "


Eugi beranjak menuju meja makan, merasa ga enak pada ART nya yang sudah beberapa kali memanggilnya untuk makan. Dihadapannya sudah tertata beberapa hidangan tapi tiba-tiba selera makannya benar-benar hilang.

__ADS_1


"Bi Mar, sini makan sama saya" ajak Eugi


"Makasih non, saya makan sebentar lagi" tolak nya merasa tidak nyaman


"Saya malas makan sendirian bi. Ga apa-apa, sini duduk makan sama saya"


Dengan langkah terpaksa Bi Mar duduk dengan gugup.


"Bi, jangan sungkan gitu sama Eugi. Bi Mar dan Eugi itu sama, jangan memberikan jarak dengan kita tinggal diatap yang sama. Kalo ada Bang Arga pasti juga akan seperti itu."


"Tapi saya ga enak non duduk makan di meja yang sama"


"Kenapa ga enak? "


Bi Mar hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Eugi.


"Hayuk atuh dimakan bi, sayang buang-buang makanan. Eugi juga ga akan habis. " ucap Eugi seraya menambahkan sepotong rendang ke piring bi Mar yang dari tadi hanya dengan sayur dan tempe goreng.


"Makasih non".


.


.


.


.


.


Selesai makan Eugi langsung masuk ke kamarnya. Matanya langsung tertuju ke ponsel yang tergeletak diatas meja rias nya. Dengan tatapan kecewa belum ada kabar juga dari sang suami. Ditelpon masih belum aktif, chat masih centang 1.


"Pak David... " Sapa Eugi ketika sambungan telpon tersambung


"Iya ada apa non?? "


"Maaf menggangu malam-malam, status penerbangan bang Arga gimana tadi? "


" Tadi saya tinggal sudah flight non"


"Ga ada perubahan kan? Tadi sewaktu sudah di pesawat juga telpon saya. Seharusnya kalo dilihat dari jam terbang, harusnya sudah landing beberapa jam yang lalu. " jelas Eugi


David terdiam diseberang sana, memikirkan perhitungan sang majikan.


"Coba saya cek ke maskapainya dulu ya non, nanti akan saya kabari"


"Iya Pak David. Kabarin saya segera ya"


Sambungan telpon berahir, wajah Eugi sedikit panik. Fikirannya sudah tidak tenang.


Mencoba merebahkan tubuh dengan fikiran yang lelah tiba-tiba pintu kamar di ketuk.


"Iya bi, masuk aja bi Mar. "


" Ini susunya non... "


"Taroh aja dimeja bi"


"Maaf non, tapi tuan Arga pesan kalo dibuatkan susu harus segera langsung di minum. " ucap Bi Mar pelan


Tanpa banyak protes Eugi meneguk susu dalam sekali nafas.


Bi Mar yang melihatnya tersenyum karna tugasnya terlaksana kan dengan baik.

__ADS_1


"Makasi bi Mar" Ucap Eugi sambil mengembalikan gelas kosongnya.


Kembali memikirkan Arga yang belum juga bisa dihubungi, Eugi berbaring sambil memainkan ponsel pintar nya. Berharap sang suami segera mengabari keberadaannya saat ini.


__ADS_2