Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 36


__ADS_3

Suasana yang berbeda dipagi hari. Sosok mama sudah sibuk didapur dimana semua orang masih belum pada bangun.


"Selamat pagi ma, kok bangun pagi sekali?" sapa Eugi


"Iya, mama sudah biasa bangun subuh"


"Kok udah bangun sayang, Arga masih tidur ya?"


"Eugi juga sama ma, sudah kebiasaan bangun pagi."


"Apa Arga baik-baik aja Gi?" tanya mama kuatir


"Baik kok ma. Tadi malam langsung istirahat, soalnya bang Arga seharian banyak kerjaan dikantor."


oo ko


"Udah ya ma, berhenti menyalahkan diri sendiri." Eugi mencoba memberikan support.


Mama mertua yang dia kenal dulu sangat berbeda dengan yang ada dihadapannya sekarang. Saat ini Eugi merasakan hangat bersama seorang ibu, hal sudah lama tidak dia rasakan.


"Wahhh, lagi buat apa nie?" Melisa ikut bergabung


"Cuma buat sarapan aja kok kak, sama bekal buat bang Arga"


Tak lama sosok Arga muncul dengan pakaian sudah rapi.


"Pagi semua. Pagi sayang..." Ucap Arga sembari mengecup keningnya tanpa sungkan.


Eugi sedikit memerah wajahnya karna malu dilihat mertua dan iparnya.


"Bisa romantis juga bang?" Goda Melisa


"Sama istri harus itu..."


"Ciee yang udah istri"


"Udah, Eugi malu tuh digodain terus. Hayo sarapannya dimakan dulu, nanti keburu dingin." mama Laura menengahi.


"Hari ini ada acara apa sayang?" tanya Arga pada Eugi


"Ga ada acara penting kok bang. Hari ini mungkin Eugi dirumah aja."


"No no no, hari ini aq pinjam mobil ya bang. Kita mau jalan atau apalah. Pokoknya no stay at home. Mau ya ma?"


"Mama ikut aja"


"Eugi???"


Yang ditanya malah melirik Arga untuk meminta persetujuan.


"Terserah Eugi aja. Lagian sama Memel sama mama juga." Balas Arga memberikan kebebasan memilih.


"For the firstime Gi, we must having fun"


"Iya Gi, nanti pas lunch time kita samperin Abang"


"Eugi ikut aja"


"Ya udah berangkat dulu sayang, ma, Mel"

__ADS_1


"Jagain bini gue, jangan sampe lecet" canda Arga


"Isshhh, bucin akut loe"


"Ya dah, Abang berangkat sayang" pamitnya sekali lagi sambil mengecup kening sang istri tanpa peduli adik dan mama nya mulai sewot.


.


.


.


.


.


Selesai sarapan dan setelah Arga berangkat ketiga wanita itu masih asik bercerita satu sama lain. Wajar saja, ini adalah pertemuan pertama bagi mereka. Mama Laura benar-benar berbeda dari yang sebelumnya dia tau. Wanita yang lemah lembut dan tampak begitu mencintai kedua anaknya meskipun bukan terlahir dari rahimnya.


"Ma, apa mama sebaiknya bilang ke papa kalo sedang disini?" Ujar Melisa


"Ga perlu Mel, dia ga akan peduli. Mama sudah lelah. Mama sudah lega mengeluarkan semua unek-unek mama, mama sudah pasrah, yang penting buat mama adalah kalian, anak-anak mama, menantu mama."


Ada wajah kekecewaan yang teramat dalam. Rumah tangga yang berusaha dipertahankan tidak seperti yang diharapkan.


"Mama, ada kami yang akan selalu support mama. Mel yakin Abang sudah memikirkan untuk kita kedepannya."


"Makasih sayang, setelah semuanya kalian masih mau menerima mama yang bukan ibu kandung kalian."


"Jangan selalu seperti itu ma, mama akan tetap menjadi mama kami walaupun kenyataan sudah terbuka. Hanya mama yang berhak menjadi ibu buat kami."


"Ya udah, kita jalan sekarang yuk"


.


.


.


.


.


Banyak hal yang mereka lakukan, benar-benar have fun. Mulai dari perawatan seluruh tubuh dan berbelanja.


"Biasanya kalo pengantin baru itu kan nempel terus kayak perangko. Biar malam ini bang Arga klepek-klepek sama bininya" goda Melisa


"Kak Melisa apaan sih?"


"Ga usah malu Gi, wajar juga kan, ga usah malu ihh... By the way rasanya gimana Gi?"


"Kak Melisa ihhh. Belum ada yang gituan kak. Pas kelar acara Eugi lagi dapet"


"Oww, pas dong kalo gitu."


Godaan gencar dilakukan oleh Melisa. Mama hanya bisa tersenyum melihat kejahilan putrinya itu.


Perawatan ahirnya selesai. Rasanya benar-benar segar dan badan terasa ringan. Wewangian yang menenangkan membuat tubuh mereka segar kembali.


Tak terasa waktu berjalan. Seperti kesurupan mereka kalap memborong belanjaan.

__ADS_1


Seperti janji waktu sarapan pagi, Jam makan siang mereka nyamperin Arga buat makan siang. Tapi sebelum On the way yang mau disamperin malah nyamperin deluan via telpon.


"Iya bang..." Balas Eugi setelah panggilan tersambung.


"Kalian lunch duluan aja ya, ga usah nyamperin Abang. Kebetulan Abang masih ada meeting diluar."


"Oh gitu"


"Have fun ya sayang"


"Abang jangan lupa makan siangnya jangan telat ya"


"Iya sayang, Love you, bye..."


"Bye, Love you"


"Kata bang Arga ga usah nyamperin dia ma, soalnya lagi ada meeting diluar katanya."


"Ohh gitu, ya udah kita makan dulu yuk. Udah siang juga"


Melisa melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Mencari tempat makan yang dirasa cocok.


Tanpa sadar mobil sudah berhenti diparkiran.


"Kayaknya makanan disini lumayan enak, pilihan variannya juga banyak. Tadi sempat googgling bintangnya lumayan bagus."


Eugi sedikit kikuk, gimana nggak, cafe yang dimaksud adalah cafe tempat dia bekerja sebelumnya. Harapannya tidak akan bertemu dengan Angga.


"Eugiii..." teriak seseorang yang sangat dikenalnya.


"Loe apa kabar? makin seger aja pengantin baru" Goda Cahya


"Cahya... Kabar gue baik, seperti yang loe lihat. Kenalin Kak Mel, ini Cahya. Cahya ini kak Melisa adiknya bang Arga. Dan ini mama mertua gue"


Mereka saling berjabat tangan dan berbagi senyum. Cahya sedikit pertanyaan yang ditunjukkan lewat sorot matanya saat Eugi mengenalkan mama mertuanya.


"Jadi Eugi sebelumnya bekerja dicafe ini ma, kak Mel."


"Ya udah, silahkan duduk dulu, saya bawakan buku menu" ujar Cahya kemudian


"Tanpa buku menu kayaknya kita udah tau nie menu specialnya."


.


.


.


.


.


Sesekali bercerita sambil menunggu pesanan mereka.


"Eugi ke toilet bentar ya ma, kak Mel"


Bughhh...


"Eugiii???"

__ADS_1


__ADS_2