Hati Pengganti

Hati Pengganti
Part 5


__ADS_3

Eugi pulang sedikit lebih telat dari biasanya. Bisa dibilang lembur. Pekerjaan yang seharusnya tanggung jawab Cahya mau ga mau harus dibereskan sebelum pulang.


"Gi...pulang bareng saya aja ya" suara Angga muncul tiba-tiba dari ruangannya.


"Iyaaa pak..." ucap Eugi tanpa protes


Setelah memastikan semua beres Keduanya melangkahkan kaki menuju parkiran dimana mobil Angga menunggu mereka.


"Maaf ya, jadinya harus lembur..."


"Ga papa mas, lembur juga kan ga gratisan" jawab Eugi sambil terkekeh


"Iya juga ya..." ucap Angga yang paham arah kalimat Eugi mengandung unsur bercanda.


Keduanya masih dengan cerita yang tidak menyurutkan senyum dari wajah keduanya.


"Makasi ya mas..." Eugi sembari keluar dari mobil yang dibalas dengan senyuman Angga.


Langkah gontai Eugi menuju kamar kos nya.


Dan langkahnya melambat melihat sosok yang sedang selonjoran di teras kamarnya. Bersandar ditembok dengan mata terpejam. Layaknya anak telantar yang tidak dipelihara oleh negara.


"Abang...?" Lirih Eugi pelan tapi cukup bisa membuat Arga membuka mata namun belum mengubah posisi duduknya.


"Sejak kapan abang disini?" Ucapnya merasa berdosa mengingat tadi siang dia janji akan menelpon tapi terlupakan olehnya.


"Sejak Eugi bilang akan menghubungi"


Artinya sudah lebih setengah hari dia menunggu Eugi.


Keduanya masuk kedalam. Eugi mencuci wajahnya agar sedikit segar, mengambil tissue dan mengeringkannya didepan cermin sekaligus meja rias kecil yang mengisi kamarnya


Tiba-tiba Arga memeluknya dari belakang, membuat tubuh mungilnya seketika merasa tegang. Pelukan yang memberikan kehangatan yang sudah lama tidak dirasakannya.


"Abang sangat rindu Eugi" ucapnya seraya mengecup kepala gadis yang dicintainya itu. Rambut ikal yang halus tergerai terasa wangi membuatnya membuat Arga enggan untuk mengalihkan dekapannya. Eugi perlahan berbalik dan kali ini dia menghadap Arga yang masih menatapnya. Gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Arga. Lelaki itupun membalas pelukannya dengan membelai lembut rambut indah itu.


Tanpa berkata-kata keduanya larut dalam pelukan yang mereka ridukan.


"Kenapa Eugi diam aja?" Ujar Arga lembut sambil menatap gadisnya


"Serasa masih mimpi abang ada disini..."


"Apa Eugi merindukan abang?"


Eugi hanya mengangguk mengiakan.Tanpa dipungkiri dia sangat meridukan kekasihnya itu.


***.


Sekitar 30 menit mereka tiba diapartemen milik Arga yang sengaja dibelinya untuk Eugi tapi gadis itu selalu menolak untuk tinggal disana. Lebih memilih kos di bedeng sederhana dengan hasil keringatnya sendiri. Karena tidak mungkin dia menginap dikosan Eugi karena itu khusus untuk putri.


Diapartemen itu mereka bisa ngobrol tanpa batasan waktu. Menghabiskan waktu bersama disaat Arga mengunjunginya dikota itu.


Sesampainya, Eugi langsung memanaskan makanan yang sebelumnya mereka beli dijalan, sementara Arga langsung membersihkan diri.


"Makan dulu bang..." panggil Eugi didepan pintu kamar melihat Arga yang sedang merapikan rambut basahnya dengan sisir.


Hanya menoleh dan dia segera beranjak menuju meja makan dengan makanan yang sudah ditata.


Eugi hanya memandangi pria itu makan dengan seriusnya. Sedangkan hanya Eugi dengan segelas coklat panas. Karena dia masih belum lapar.

__ADS_1


"Kenapa ngeliat abang kayak gitu?"


"Ga papa. Keliatan seksi kalo lagi kelaparan" ujar Eugi asal


Senyumnya kembali menghiasi wajahnya tampannya menaggapi kalimat Eugi.


Eugi masih sangat berfikir masalah yang sedang menggantung diantara mereka. Tapi Arga tampak santai belum membicarakan yang di tujuannya datang.


Setelah merapikan meja, Arga duduk santai menyandarkan tubuhnya disofa abu-abu yang ada di ruangan itu sambil mencek ponselnya. Sedangkan Eugi masih mencuci piring dan gelas yang mereka gunakan tadi.


Mata Arga menatapnya, memberikan signal agar Eugi mendekatinya. Tanpa kata dia menarik pelan tangan Eugi hingga terjatuh dipangkuannya. Eugi menolak ingin berpindah disampingnya tapi Arga lebih kuat menahannya. Kembali memeluk gadisnya.


"Jangan seperti ini bang..."


"Kenapa...? Eugi tidak suka?"


"Jangan membuat sesuatu yang akan menyakiti kita"


Kembali Arga menatap gadisnya yang saat ini telah berpindah duduk disampingnya. Arga meraih dagunya, melekatkan jidat mereka. Sangat dekat sampai Eugi merasahan nafas pria itu. Kembali Eugi menolak ketika Arga ingin meraih bibirnya yang sudah bersentuhan. Lagi-lagi dia menolak sentuhan Arga.


Arga yang sangat kecewa dengan penolakan Eugi menyandarkan tubuhnya disofa dengan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya. Matanya tertutup mengarah kelangit-langit putih ruangan itu.


"Eugi istirahatlah..." seru Arga yang bangkit dari duduknya meraih dompet dan kunci mobil diatas meja.


"Abang mau kemana" cegah Eugi


"Kemana aja, abang mau mencari angin sebentar..."


Tanpa menghiraukan panggilan Eugi dia menuju pintu keluar.


Eugi berusaha mengejarnya. Menghadang tepat dihadapannya yang sudah memegang handle pintu.


"Abang ga akan kemana-mana, mau merokok aja sebentar. Abang lagi ga bisa berfikir Gi..."


Eugi tersentak dengan kata "merokok"


Yang dia tau Arga tidak merokok. Dia tidak berteman dengan benda yang sangat dia tidak sukai itu


"Sejak kapan abang temenan sama benda itu?"


"Cuma dia yang mengerti abang..."


"Jangan ngomong kayak gitu bang..."


"Biarkan abang keluar Gi..." pintanya setengah memaksa


"Baiklah...Silahkan abang pergi...Tapi satu hal kalo abang ninggalin Eugi sekarang, jangan pernah temui Eugi lagi. Anggap ini adalah pertemuan kita yang terahir" ancam Eugi seraya meninggalkan Arga yang masih terdiam didepan pintu.


Gadis itu masuk kekamar. Merebahkan tubuhnya dengan tangis yang pecah.


Suasana hening, sangat hening. 30 menit berlalu Arga benar-benar membiarkannya sendiri. Entah dia pergi kemana. Eugi menuju kamar mandi membersihkan wajahnya yang kacau oleh air mata.


Merapikan rambutnya dengan sisir. Setelah itu menyambar tasnya yang ada diatas meja. Berniat meninggalkan apartemen.


Buuugghhh...


Daun pintu seketika menghantam tubuh Eugi yang terbuka tiba-tiba sampai terpental jatuh dilantai.


Arga yang membuka pintu terkejut dan langsung memapah Eugi duduk ditepi ranjang. Jidatnya tampak memar.

__ADS_1


"Maaf sayang..."


Arga segera mengambil handuk kecil dan mengompres jidat Eugi yang memerah. Jarak mereka yang cukup dekat membuat Eugi bisa mencium aroma tubuh Arga. Masih dengan wangi khas parfumnya yang lembut.


"Abang ga keluar sayang." Ucapnya mengerti dengan yang aku fikirkan sambil dengan penuh kasih mengompres jidat Eugi.


"Eugi bingung..." ucapnya pelan membuat Arga menghentikan aktivitasnya.


Arga dengan lembut mambawa gadis itu kedalam pelukannya. Nyaman dan damai, itu yang dirasakan oleh Eugi.


"Abang akan stay di sini agar bisa selalu bersama kamu. Kita akan tetap bersama, cita-cita kamu juga akan kamu raih. Tapi dengan satu syarat..."


"Syarat???" ujar Eugi


"Kita menikah, dan kita akan tinggal bersama selamanya" lanjut Arga


"Menikah?"


"Iya sayang. Abang akan menikahi kamu. Abang mencintai kamu dan tak ingin jauh dan kehilangan kamu"??


Eugi menatap kekasihnya dengan pandagan tak percaya. Manik mata keduanya saling bertemu dan penuh kejujuran ada disana.


Air mata tak tertahan ahirnya tumpah begitu saja dipipi Eugi. Dan dengan cepat jemari Arga menghapusnya. Seakakan tak rela pipi itu dikotori oleh air mata.


"Air mata ini ga pantas membasahi pipi kamu sayang."ujarnya lembut seraya mencium pipi itu


"Sebentar..." Arga sedikit membungkuk meraih laci nakas disamping ranjang. Mengambil kotak kecil dan mengeluarkan benda kecil yang indah dari dalamnya.


Lelaki itu berlutut tepat dihadapan Eugi yang masih duduk manis ditepi ranjang.


"Menikahlah denganku..." pintanya dengan tatapan tulus.


Eugi dengan haru memeluk lelakinya. Dengan isak yang pecah dipelukan Arga. Anggukan kepalanya membuat senyum menghiasi wajah Arga yang segera meraih jemari dan menyematkan cincin bermata putih yang berkilau dengan cantik menghiasi jari manis gadisnya.


"Makasi sayang..." ucap Arga mengecup lembut kening kekasihnya.


"Tapi sayang, bagaimana dengan keluarga kamu?"


"Eugi jangan banyak berfikir macam-macam ya...percaya sama abang. Abang akan urus semuanya. Kamu jaga kesehatan, abang akan melakukan yang terbaik buat Eugi dan buat masa depan kita..."


Lagi-lagi kata-kata Arga membuatnya tak bisa berkata selain bahagia.


"Tapi ibu kamu bang?"


"Abang udah bilang, jangan mikirin macam-macam. Percaya sama abang..."


"Sekarang sayang istirahat. Ini sudah larut..."


Eugi merebahkan tubuhnya yang benar-benar lelah. Sudah setengah 2 dini hari.


Arga mematikan lampu mengambil bantal dan menuju sofa yang ada dikamar itu. Sebelumnya mengecup lembut kening gadisnya.


"Bang... tidurlah disamping Eugi" pinta gadisnya memberikan ruang di ranjang yang cukup besar itu.


"Eugi ga papa???"


Gadis itu menggeleng. Arga berbaring disamping Eugi. Tangan kekarnya menjadi batalan kepala gadisnya yang memeluknya erat seakan takut akan berpisah lagi dengannya.


Keduanya tertidur dalam peluk yang tak lepas hingga pagi datang dengan mentari yang menyinari setiap penjuru.

__ADS_1


__ADS_2