
Entah ada apa dengan Angga yang tampak uring-uringan di ruangannya. Menyadari Eugi yang tidak ada dicafe membuatnya sedikit dingin dalam bersikap. Dia lebih memilih diam didalam ruangannya, tidak seperti biasa dia rela mengambil alih beberapa pekerjaan.
"Maaf pak Angga, ada yang sedang mencari anda" panggil Cahya pelan diruangannya setelah mengetuk dan mendapat ijin masuk.
"Siapa?"
"Sepasang suami istri pak" Jawab Cahya yang memang tidak mengenali sepasang pasutri yang mengunjungi cafe dan mencari keberadaan Angga.
"Baik, saya sebentar keluar."
Cahya yang sedikit kikuk dengan sikap bosnya hari ini segera meninggalkan ruangan yang sepertinya memeiliki aura yang sangat panas.
Angga perlahan bangkit dari duduknya menuju tamu yang sedang menunggunya.
"Mami, papi?" Angga menghampiri kedua orang tuanya yang tiba-tiba muncul dicafenya.
"Cafe kamu oke juga ya" Seru papi
"Mau makan atau minum mi?"
"Kamu ga sibuk? Mami dan papi tadi hanya mau mampir sebentar. Kebetulan tadi papi ada meeting di hotel X dan sekalian aja mampir. Mami dan papi juga belum pernah maen kemari."
"Kalo dibilang sibuk pasti ada aja yang buat dikerjain tapi jarang-jarang mendapat kunjungan dari tamu terhormat" Ucap Angga mengandung candaan.
Kedua orang tua itu hanya tersenyum menanggapi ucapan anakknya. Yaghh, seorang Angga yang hangat, ditambah lagi orang tuanya yang sangat lemah lembut. Keluarga yang adem.
Angga memanggil Cahya untuk membawakan daftar menu.
Dengan pelayanan yang sangat ramah gadis itu menghampiri meja mereka.
"Gimana bos kamu kejam ga?" tanya mami tiba-tiba pada Cahya yang sedang menunggu list pesanan orang terkasih dari sang bos.
__ADS_1
"Hmm...Tergantung sikon nyonya hehehe" Balas Cahya sedikit gugup karena dipelototin oleh Angga
"Haahh, berarti galak dong?"
"Ga kok, pak Angga itu bos idaman bagi kami disini"
"Jujur aja, jangan takut karena dipelototin" Mami Angga mulai usil.
"Benar nyonya, Pak Angga baik dan galak sesuai porsinya kok, heheh"
Mami dan papi Angga sedikit terkekeh mendengar jawaban dari karyawan anaknya itu.
Ahirnya pesanan mereka fix dan itu membuat Cahya sedikit lega terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mami pak bos yang sedikit membuatnya gagu seketika. Gadis itu buru-buru meninggalkan meja sebelum tatapan Angga semakin mematikan.
Obrolan panjang pun berlangsung diantara anak dan orang tua itu. Keluarga yang sangat harmonis.
"Oh iya Ga, gimana kabar temen kamu Sarah? Lama mami ga pernah ketemu dia"
"Kok malah cari kerjaan freelance?"
"Tahun ajaran baru dia mau kuliah lagi mi. Kebetulan dapat jalur beasiswa dan dia sudah lulus tes"
"Wahhh, jarang-jarang ada anak seperti itu loh. Fikirannya terhadap pendidikan sangat tinggi"
"Sebenarnya agak berat melepas dia dari cafe ini, anaknya pintar, rajin, dan juga loyalitasnya sangat tinggi, tapi Angga juga ga bisa menahannya mi. Dia punya perhitungan sendiri "
"Anaknya yang mana?" Sambung papi
"Kebetulan hari ini dia jadwal off."
Tampak wajah kedua orang tua itu mengerti dan tidak banyak bertanya. Melanjutkan makan mereka sambil bercerita banyak.
__ADS_1
***
Di apertemen
Eugi menikmati semilir angin yang cukup terasa menerpa kulitnya dengan berdiri di balkon apertemen yang menyuguhkan pemandangan kota. Sudah lebih dari 30 menit gadis itu menatap kedepannya.
"Apa yang sedang kamu fikirkan sayang" suara serak khas bangun tidur tiba-tiba sangat dekat ditelinga ya. Tangan Arga memeluknya dari belakang, sampai-sampai badan mungil milik Eugi benar-benar terbungkus oleh pelukan Arga.
"Ga ada bang. Hanya ga bisa tidur aja."
"Kita keluar yuk. Siapa tau mencari hawa segar diluar bisa bikin mood kamu baik" Ajak Arga sembari mengecup lembut pucuk kepala Eugi.
"Sayang..."
"Hmm" Arga
"Apa Abang benar-benar serius dengan omongan yang kemarin?"
"Serius...Emang kapan Abang pernah main-main dengan ucapan? Apa Eugi ga yakin sama Abang?"
"Bukan ga yakin. Tapi Eugi lagi mikir gimana reaksi keluarga Abang"
"Eugi Natali, dengarkan Abang. Hubungan ini bukan untuk main-main buat Abang. Abang mencari pasangan hidup bukan hanya untuk senang-senang saja."
Gadis itu malah berbalik langsung memeluk Arga. Dengan lembut Arga membalas pelukannya.
"Maaf..."
"Untuk apa sayang?"
"Terimakasi bang. Makasi buat cinta yang sangat banyak buat Eugi"
__ADS_1
Sambil tetap dalam dekapannya, Arga tersenyum menanggapi gadisnya. Hatinya sangat bahagia meski perjuangan didepannya akan banyak tantangan.