
Meeting yang lumayan alot ahirnya selesai. Tanpa menunggu Arga meninggalkan ruangan meeting menuju ruang pribadinya.
Pemandangan yang cukup manis dimana sang istri sampai tertidur disofa dengan ponsel yang masih menyala dengan tampilan game yang masih on.
"Maaf bikin kamu nunggu lama sayang" bisik Arga sambil ber jongkok didepan Eugi.
Sentuhan tangan Arga yang merapikan rambut panjangnya yang berantakan mengusik tidur Eugi.
"Abang udah kelar?" Kagetnya langsung bangkit dari rebahannya.
"Maaf bikin kamu nunggu lama ya"
"Iya ga papa."
"Kenapa ga ngabari Abang biar dijemput?"
"Abang kan lagi sibuk. Lagian ga jauh juga"
"Makasih sayang udah ngertiin Abang. Ngomong-ngomong Abang lapar, kita makan siang dulu yuk!" ajak Arga
"Eugi udah bawa buat makan siang sayang, kita makan disini aja" Ujar Eugi sembari mengambil tas tentengan yang tadi dibawanya.
"Tadi sebelum kekampus Eugi masak dulu. Tapi maaf kalo menunya rumahan banget ya bang."
Arga tersenyum sembari meraih tubuh kesayangannya itu, mendekatkan wajahnya hingga hbusan nafasnya bisa Eugi rasakan.
"Apaan sie bang. Ini dikantor tau" rontanya berusaha melepaskan diri.
Cuphhh...
__ADS_1
Kecupan singkat dibibir Eugi sukses membuat blush on alami dipipinya.
"Abanggg..."
"Hahahaha... Istri sendiri juga"
"Tapi liat tempat dong. Nanti kalo tiba-tiba ada yang masuk kan malu"
"Tenang sayang. Abang udah titip pesan sama Amira didepan untuk tidak ganggu."
"Nanti kalo ada yg penting gimana?"
"Dia akan telpon dulu sayang."
"Udah ahhh, Abang lapar sayang. Kapan makannya kalo Eugi Ngomelin abang terus" ucapnya manja
Keduanya menikmati makan siang dengan wajah dan hati penuh kebahagiaan. Senyum Arga menunjukkan bahagia yang selama ini hilang dari hari-harinya.
"Biar aja. Biar ga ada yang liat-liatin."
"Maksudnya?" Goda Arga yang paham dengan maksud jawaban sang istri
"Abang ihhh... "
"Cuma Eugi sayang. Sampai maut dan kematian memisahkan." Ujarnya tiba-tiba serius menatap mata indah itu.
Dengan haru Eugi menyusup masuk kedalam pelukan lelakinya.
"Makasih sudah memperjuangkan Eugi sampai saat ketitik ini. Abang mengorbankan diri sendiri dibenci oleh keluarga demi Eugi."
__ADS_1
"Jangan bilang seperti itu sayang. Kamu memang layak untuk Abang pertahankan."
"Makasih sudah mau mempertahankan dengan semua cobaan masalah yang ada, kita akan berjuang sama-sama." ucap Arga mengecup lembut kening Eugi dengan penuh cinta.
Keduanya saling memandang dan tertawa bersamaan menyadari kecengengan yang mereka ciptakan sendiri.
.
.
.
.
.
Arga melanjutkan aktivitas kerjanya sibuk dengan dokumen-dokumen diatas meja kerjanya, sementara Eugi masih dengan keasikannya mengetik kata demi kata yang menciptakan rangkaian kalimat-kalimat menjadi cerita. Hobby menulis yang masih dia tekuni disela kesibukannya selama ini.
"Kita pulang sekarang sayang?" ujar Arga tanpa disadari Eugi.
"Abang sudah selesai?" tanyanya balik
"Besok bisa dilanjut lagi."
Eugi membereskan barang-barang bawaannya dan bersiap pulang.
Berjalan tanpa melepaskan genggaman tangannya, beberapa pasang mata yang masih berada dikantor memperhatikan sang pemilik perusahaan dengan wajah yang bahagia yang jarang mereka lihat. Perusahaan sudah berjalan beberapa tahun sebelumnya, tapi tahun ini Arga baru memutuskan untuk stay dikota kembang itu. Sebelumnya dia hanya mengontrol lewat orang kepercayaannya dan kadang dia terjun langsung mengecek sendiri. Para karyawan mengenalnya dengan sosok yang tegas dan dingin.
Pernikahan yang sangat tertutup membuat para penghuni kantor tidak semua mengetahui sosok Eugi yang menjadi nona bos mereka.
__ADS_1
Pemandangan yang sangat langka melihat sang bos dengan wajah yang ceria membalas sapaan mereka.