Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
bimbang


__ADS_3

Ada rasa ketidakpuasan di hati Sandy mendengar penjelasan dari Tiara, namun ia harus puas mendengarnya karena bel sekolah sudah berbunyi dan menandakan tiara harus masuk ke kelasnya. Meskipun Tiara sudah menjelaskan dengan jujur namun hati Sandy merasa tidak yakin kalau Tiara akan tetap memilihnya dan meninggalkan kedua orangtuanya dan kenyamanan hidupnya demi untuk pergi bersamanya. Untuk saat ini Sandy hanya bisa menunggu waktu untuk bisa membuktikan ucapan Tiara. Akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah dan tidak bekerja hari ini karena pasti ia sudah terlambat datang. Sesampainya di rumah dia hanya tiduran di kamarnya tanpa melakukan hal apa apa


" Sandy, kamu sakit? kenapa nggak kerja?"tanya bibinya yang tiba tiba telah berdiri di depan pintu kamarnya


" nggak bi, Sandy baik baik aja kok." jawab Sandy ogah ogahan sambil beranjak duduk dari posisi rebahannya.


"kalau baik baik saja kenapa nggak kerja, kenapa juga jam segini sudah sampai rumah?" tanya bibinya tidak percaya dengan jawaban keponakannya Itu.


" Sandy lagi males bi..." jawab Sandy akhirnya.


" males? kenapa? kamu berantem dengan non Tiara?" tebak bibi sambil tersenyum lembut dan memandang wajah keponakannya lebih teliti, seolah sedang mencari sesuatu di sana


" nggak bi, memangnya Sandy laki laki macam apa berantem dengan perempuan." elak Sandy dengan senyumannya


" lalu?"tanya bibinya sambil tetap menatap keponakannya


" apanya bi...." tanya Sandy pura pura


" ceritakan ke bibi apa yang membuat kamu kesel begitu?" perintah bibinya mulai dengan sifat keingintahuannya.


" nggak ada yang bisa di ceritakan bi..." jawab Sandy enggan menjelaskan perasaannya.


" kamu sudah tanyakan tentang acara tunangan yang terjadi semalam? non Tiara menjawab apa?" tanya bibinya penasaran


" nggak ada acara tunangan bi, kata Tiara Itu hanya acara makan malam bersama temannya Pak Handoko." jelas Sandy kepada bibinya sesuai dengan jawaban yang didapatnya dari Tiara.


" lalu kenapa bisa ada kalimat keluar akan terjadi tunangan yang tersebar di seluruh warga kampung?" tanya bibi


" Tiara juga tidak tahu bi, hanya memang sepertinya Pak Handoko berencana menjodohkan Tiara dengan anak temannya Itu." jawab Sandy sambil memalingkan wajahnya enggannjika bibinya meneliti ekspresi wajahnya.


" lalu non Tiara bagaimana?"tanya bibinya kembali semakin penasaran.


" maksud bibi bagaimana?"tanya Sandy balik

__ADS_1


" non Tiara bersedia di jodohkan dengan anak teman papanya itu?"tanya bibinya penasaran


"katanya sih Tiara nggak mau bi." jawab Sandy


" bagaimana kalau dipaksa oleh orangtuanya nanti?" desak bibinya


"katanya dia akan memilih kabur dari rumah."jawab sandy


" benarkah? berarti rencana awal Kita bisa dijalankan kalau nanti di butuhkan." kata bibinya dengan senyum merekah


"bi..." kata Sandy merasa tidak nyaman dengan sikap bibinya


" ada apa lagi? apa yang kamu bingungkan sih?" tanya bibi heran dengan sikap Sandy yang nampak plin plan.


" Sandy gak tega kalau Tiara harus hidup susah denganku." kata sandy lemah namun masih terdengar oleh bibinya


" lalu?" tanya bibi dengan nada yang tidak senang


" lalu kamu akan mengorbankan cinta kalian, dan akan meminta Tiara menerima perjodohan itu?" tanya bibinya dengan nada mulai tinggi


" entahlah bi.....sandy bingung, sandy nggak tahu lagi harus bagaimana nanti." jawab Sandy mengambang


" begini ini yang paling bibi benci dari lelaki, kenapa selalu takut memulai sesuàtu kalau merasa kalah modal."ujar bibi sinis


" bukan begitu bi..." bela Sandy


" bukan begitu bagaimana? kenyataannya memang begitu. Sudahlah... terserahlah apa maumu, bibi pusing mikirin jalan pikiranmu."jawab bibinya dan bersiap meninggalkan kamar Sandy.


" kok bibi bicara begitu?" tanya Sandy


" bibi Itu lagi kesel Sandy, kamu Itu laki laki, jelas jelas kamu cinta, non Tiara juga cinta sama kamu bahkan dia rela pergi ninggalin keluarganya demi kamu. Kenapa kamu malah ragu ragu?" kata bibi sambil geleng geleng kepala.


"bi...." kata Sandy memelas

__ADS_1


" sudah cukup, bibi nggak mau lagi dengar omongan kamu, bibi capek, nggak nyangka ya bibi pikir kamu Itu laki laki hebat ternyata...nggak beda jauh dengan mereka di yang ada luaran sana." kata bibi meremehkan ponakannya.


" bi...aku takut nggak bisa membahagiakan Tiara kedepannya nanti.Aku takut dia akan menyesali keputusannya kelak." jawab Sandy mengungkapkan perasaannya.


"terserah kamu kalau kamu mau hidup dalam ketakutanmu sendiri, kamu yang akan menjalani hidupmu sendiri." kata bibinya


" bi...."


" Sandy...nggak akan ada orang yang tahu besok kedepannya Kita akan hidup bagaimana dan seperti apa, bahagia dan sengsara Itu kita sendiri yang menciptakannya, kenapa kamu sudah takutkan hal Itu sekarang?" tanya bibinya sambil mendekat kembali ke arah keponakannya yang sedang galau.


" bagaimana kalau nanti Tiara pada akhirnya tidak sanggup hidup miskin denganku?" tanya Sandy


" kalau ia pingin hidup kaya, ia tinggal terima saja jodoh yang di siapkan orang tuanya, nggak usah milih kamu, yang jelas dari awal pemuda yang miskin." jawab bibinya tegas


"Sandy takut nanti dia lama lama bosan hidup susah dengan Sandy bi...."kata Sandy lagi


" berusahalah untuk jadi laki laki yang menyenangkan wanita, kaya atau miskin semua sudah ada yang atur, memangnya kamu yakin seandainya Tiara hidup dengan pria yang dijodohkan Itu yang sudah jelas kaya Raya, dia tidak akan bosan?" tanya bibinya sambil menatap mata keponakannya.


" bi...."


" sudahlah San...jangan merisaukan hal yang belum tentu kejadian.Jadi laki laki Itu jangan pengecut." kata bibinya sambil menepuk pundaknya


" apa yang harus aku lakukan bi?" tanya Sandy akhirnya


" Tergantung kamu sendiri, mau bagaimana, tetap jalan memperjuangkan cintamu atau mau menyerah." jawab bibinya


" Menurut bibi aku harus bagaimana?" tanya Sandy


" tanyakan pada hati kecilmu sendiri, baru nanti kamu tentukan kamu harus bagaimana." jawab bibinya


" setidaknya berilah aku saran bi..." pinta Sandy sambil memelas


" Tidak bisa San, hanya kamu sendiri yang akan menentukan pilihanmu, bibi dan pamanmu hanya akan membantu dan mendukung semua keputusanmu." jawab bibinya, lalu dia keluar dari kamar pria Itu untuk membiarkannya berfikir sendirian. Sandy tampak tertunduk mendengar semua perkataan bibinya yang sangat menusuk, sekaligus menghantam keras hatinya, dia bisa merasakan betapa pengecutnya dirinya jika tidak bisa menghargai pengorbanan yang siap dilakukan oleh Tiara untuknya, untuk cinta mereka. Setiap kata yang diucapkan bibinya memanglah benar adanya dan tidak ada sedikitpun kesalahan disana. Sandy memang merasa dirinya terlalu takut dan fokus pada kekurangannya sehingga ia sampai melupakan kelebihannya.

__ADS_1


__ADS_2