Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
sikap gentle sandy


__ADS_3

mereka bertiga sudah duduk melingkar menghadap meja kecil satu satunya yang ada di rumah Itu. Saat bibi menyajikan masakan ikan hasil pancingan sandy siang tadi pamannya terlihat sangat antusias


" Wah... sepertinya enak nih, ada ikan. Kamu habis mancing san?"tanya paman sambil menerima nasi yang diambilkan oleh istrinya.


" Iya paman, tadi siang." jawab sandy pendek


" Loh...kamu nggak kerja? kok malah mancing?"tanya pamannya sambil melihat wajah ponakannya.


"jatah Libur paman." kata sandy sambil menerima nasi yang di berikan oleh bibinya.


" Dapat banyak?" tanya pamannya tanpa mengangkat wajahnya.


" Hanya beberapa, sudah keburu sore soalnya." jawab sandy sambil mulai mengunyah makanannya.


" lah... kamu nggak bilang sama paman, seharusnya kan bisa paman temani mancingnya, pasti dapat lebih banyak, kamu kan tahu pamanmu ini jago kalau cuma masalah pancing memancing." kata pamannya menyombongkan diri.


" lah..kalau bapak yang menemani ya nggak jadi mancing." jawab bibinya sambil duduk dan mengambil makanan untuknya sendiri.


" loh...kenapa? biasanya juga kan Kita mancing bareng." kata paman bingung


" sekarang beda Pak, sandy sudah ada temannya." kata bibi sambil tersenyum dan melirik sandy yang kasih menunduk pura pura tidak mendengar pembicaraan paman dan bibinya.


" oh ya... siapa?" tanya paman penasaran.


" Siapa lagi Pak, bukannya sudah tersiar berita di seluruh penjuru desa kalau keponakanmu yang ganteng ini sedang dekat dengan bidadari di desa ini." kata bibi sambil melirik sandy sekali lagi.


" Oh ya? non Tiara menemanimu memancing?"tanya pamannya terkejut.


" Iya paman." jawab sandy dengan nada di buat sebiasa mungkin.


" jadi benar berita Itu, kalau kamu ada hubungan dengan non Tiara?" tanya pamannya serius hingga menghentikan kunyahannya dan memandang wajah keponakannya.


" Hubungan apa paman?" tanya sandy berusaha menganggap tidak ada apa apa.

__ADS_1


" kamu beneran pacaran dengan non Tiara?" tanya pamannya memastikan lagi


" ah..paman apa apaan sih, kami hanya berteman paman, nggak lebih." kata sandy dengan nada penuh penekanan.


" hahaha... ponakanmu ini merasa dia kasih anak SD Pak, jadi dia memang butuh teman main." kata bibinya sambil tertawa melihat sandy sepertinya merasa terpojok dengan pertanyaan pamannya.


"kamu ini bagaimana sih san...Mana ada pertemanan macam Itu." kata pamannya sambil menggelengkan kepalanya.


" paman...kami memang hanya berteman, nggak lebih. Kenapa orang orang bisa berfikir lain." tanya sandy menyerah juga.


" Sandy..., gak ada pertemanan antara.pria dan wanita yang seusia denganmu ini murni berteman. Teman apa?Teman main gundu,? kamu nggak lihat teman temanmu yang seusia denganmu sudah banyak yang menikah bahkan sudah punya anak." kata bibinya dengan lembut


" Tapi nggak mungkin Non Tiara suka aku bi?" bantah sandy meyakinkan paman dan bibinya


" Kata siapa nggak mungkin? kamu saja yang kurang peka." bantah bibinya yakin.


" kurang peka bagaimana sih bi?" tanya sandy tidak terima


" coba kamu pikir, ngapain non Tiara mau susah susah menemani kamu memancing? apa enaknya? mending dia diam di rumah nggak kepanasan di pinggir sungai Mana kotor lagi, kalau memang dia nggak suka sama kamu, nggak mungkin dia mau berkorban begitu." kata bibinya gemas


" dan kamu percaya? kamu bodoh sekali." cibir bibinya


" bi... "


" kenapa kamu nggak peka juga san, kasihan non Tiara kalau kamunya sebagai lelaki nggak peka begini." ejek bibinya terus terang


" Iya san, Masa kamu kalah sama paman? waktu bibimu naksir paman, paman saja langsung tahu lo.." goda paman pada istrinya.


" eh...kapan aku naksir bpak? bukannya kebalik ya?" kata bibi langsung menoleh pada suaminya tidak terima.


" Nggak usah malu lah bu mengakui perasaanmu padaku di depan ponakanmu dia sudah dewasa." kata paman sambil tersenyum


" Enak saja bapak yang naksir duluan sama aku, buktinya rela nongkrong berjam jam hanya mau menunggu aku lewat." ejek bibinya sambil kalungkan mukanya dan pasang wajah angkuhnya.

__ADS_1


" tapi kan kamu juga mencari berbagai alasan untuk bisa lewat jalan tempat aku nongkrong sama teman temanku." elak pamannya


".eh... kan memang Itu satu satunya jalan desa, ya pastilah aku harus lewat situ." kata bibinya nggak mau kalah


" tapi emang ibu suka juga kan bapak tungguin di situ." goda paman pada istrinya


" nggak....., sebel tahu..kaya orang nggak ada kerjaan saja, nongkrong di pinggir jalan."kata bibi sambil mencibir suaminya.


" sekarang masih sebel nggak?"tanya paman


"Nggak juga." jawab bibi melunak


" cinta kan sama Bapak." kata paman menggoda istrinya


" Ya jelaslah...orang sudah mau di nikahi." jawab bibi sambil tersenyum malu malu.


" Lihat san...perempuan Itu begitu, awalnya pura pura nggak mau, padahal sesungguhnya dia Itu hanya menunggu action Kita. Apalagi non Tiara yang sudah jelas jelas memberi tanda ke kamu." kata pamannya


" paman... aku dan Tiara Itu beda.."


" cinta nggak melihat Itu Nak, kalau kamu juga cinta kamu harus perjuangkan. Beda cerita kalau kamu tidak ada rasa padanya. kamu harus katakan juga." kata pamannya memberi nasehat


" aku tidak ingin menyusahkan pan dan bibi." kata sandy pelan


" Apa hubungannya dengan kami?" tanya pamannya bingung dengan jawaban sandy


" Pak Handoko tidak akan tinggal diam paman, ia pasti akan melakukan berbagai cara untuk mencegahnya, termasuk menyakiti paman dan bibi." kata sandy pada pamannya sambil memandang wajah pamannya yang masih terlihat gagah dan tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi.


" kamu jangan berfikir begitu, hanya Tuhan yang bisa menentukan nasib seseorang, bukan Handoko, apalagi kekayaannya." kata pamannya serius, dan ia nampak tidak menyukai kalimat sandy yang terlihat tidak percaya diri.


" Tadi Pak leman datang untuk memperingatkan ponakanmu Pak." kata bibi pada suaminya


" jangan pedulikan omongan leman, dia memang dibayar Handoko untuk Itu. Percayakan semuanya pada Tuhan. asalkan kamu tidak berbuat yang melanggar perintahNya maka yakinlah semua pasti akan baik baik saja." kata pamannya

__ADS_1


" Itu yang membuat aku pelukan sama ponakanmu Pak, dia hanya butuh dorongan dari kita." kata bibinya sambil mengusap punggung sandy dengan Sayang. Paman dan bibi Sandy meqmang bukanlah orang kaya di kampungnya, tetapi mungkin beliau adakah hanya segelintir orang yang sama sekali tidak terikat dengan keluarga Handoko. paman dan bibi Sandy memilih memberdayakan sawah miliknya sendiri untuk menyokong kehidupannya di bandingkan harus memilih bekerja pada keluarga Handoko. Terlebih dengan kesombongan Handoko dan istrinya, beliau memilih menjauh berhubungan dari mereka, namun ketika Àyah dan ibu sandy yang berada di Kota tiba tiba meninggal dunia, dan sandy memilih tinggal dengan pamannya di desa, maka sandy memutuskan bekerja pada Handoko karena memang ia tidak terbiasa mengolah sawah, jadilah keluarga kecil Itu memiliki hubungan dengan Handoko. pertemuan tidak di sengaja antara sandy dan Tiara memang benar benar murni kehendak Tuhan, yang akhirnya membuat mereka harus terlibat dan berurusan dangan Handoko. Namun paman dan bibi Sandy cukup bijaksana dalam menghadapi masalah yang akan mereka hadapi di kemudian hari yang berhubungan dengan kedekatan Tiara dan sandy.


Demi kebahagiaan keponakan yang kini telah mereka Anggap sebagai anak sendiri, mereka rela menghadapi resiko apapun yang akan datang di hadapan mereka.


__ADS_2