Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
bab 40


__ADS_3

Hari yang di khawatirkan Sandy akhirnya datang juga, di tengah orang orang yang berpendidikan tinggi dan penampilannya yang sangat rapi, Sandy mulai menjelaskan detail dari perusahaan tempatnya bekerja. Berkat bantuan dari Sisca dan dukungan Tiara yang setia mendampinginya berlatih presentasi, maka hari itu merupakan hari terbaik yang pernah ia alami, bahkan ia tidak pernah mbayangkannya. Presentasinya sangat sukses dan hampir semua peserta meeting hari itu bisa menangkap apa yang Sandy sampaikan. Keberhasilannya mewakili Pak Kuncoro tidak hanya membuat Pak Kuncoro bangga padanya,Tiara bahkan Sisca tak henti hentinya memuji kehebatan Sandy. Memang saat meeting Sisca mendampingi Sandy sedangkan Tiara menunggunya di Mobil, maka saat perjalanan pulang menuju kantor itulah Sisca bersemangat menceritakan kehebatan Sandy pada Tiara.


" mbak Tiara, mas Sandy bener bener hebat, padahal baru belajar sebentar sudah begitu luar biasa penampilannya di meeting tadi."


" benarkah? memangnya apa yang dia lakukan?"


" Mas Sandy terlihat sangat menguasai apa yang ia paparkan, nggak kelihatan kalau baru belajar beberapa hari."


" selamat ya mas, buat keberhasilan kamu hari ini." ucap Tiara sambil menatap wajah Sandy yang sibuk dengan kemudinya.


"Terima kasih sayangku...tapi nanti aku minta hadiah ya." jawab Sandy


" hadiah apa?"


" ntar juga tahu."


" mas...jangan ngomong begitu dong...masih ada aku lo.."sela Sisca


" ngomong apa?"


" aku kan belum cukup umur untuk mendengar pembicaraan pasutri."


" memang barusan aku bicara apa?"


" bicara soal hadiah kan?"


" dimana letak salahnya?" tanya Sandy sambil tersenyum


" ahh...tadi mas Sandy.....sudah ah nggak usah di bahas lagi."


" kamu aja yang mikirnya aneh aneh, malah nyalahin orang."


" Sudahlah mas....nggak usah di bahas lagi. Kita makan dulu yuk sebelum pulang ke kantor." ajak Tiara


" aku sih ngikut aja." jawab Sandy


" iya Mas. Nanti semua pengeluarannya masuk ke rekening kantor ya."


" memangnya boleh?"


" boleh kok, biasanya jug begitu kalau Pak Kuncoro selesai meeting dan menuju klien."

__ADS_1


Pak Kuncoro bukan hanya senang mendengar keberhasilan Sandy pada meeting pertamanya, bahkan ia langsung menelepon Sandy untuk mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Serangkaian tugas baru dari Pak Kuncoro tentu saja mengikuti Sandy tanpa menunggu lagi. Sementara itu Tiara juga sudah mulai di sibukkan dengan kursus menjahitnya. Hampir setiap hari Tiara berangkat pagi Dan pulang menjelang sore tidak berbeda jauh dengan Sandy.Namun Tiara tidak pernah lalai menyiapkan semua kebutuhan Sandy mulai dari kebutuhan makannya hingga pekerjaannya. Kalau di lihat sekilas mereka sudah tak ubahnya seperti suami istri, hanya urusan tempt tidur saja yang membedakannya. Semakin hari semakin dekat hubungan mereka Dan semakin harmonis. Hal ini sangat bertolak belakang dengan dengan rumah tangga papa dan mama Tiara, setiap hari mama Tiara hanya berada di dalam kamar saja, tidak ada lagi senyuman bahkan tawa yang di berikan pada suaminya, bahkan kebutuhan makan Dan bajunyapun sudah di kerjakan sepenuhnya oleh pembantu mereka. Yang ada hanya tangisan Dan suara yang saling menyalahkan.


Paman Sandy akhirnya mendatangi rumah sahabatnya yang menampung Sandy dan Tiara di Surabaya.Menjelang Maghrib beliau sampai di rumah itu Dan mulai mengetuk pintu rumahnya.


" assalamualaikum..." panggil paman sambil terus mengetuk pintu namun belum ada yang membukakan pintunya. Hingga tetangga sebelah rumah tersebut menghampirinya


" Bapak cari siapa?"


"oh...maaf, saya mencari Sandy."


" Sepertinya mas Sandy Dan mbak Tiara belum pulang Pak, mungkin sebentar lagi. apa bqpqk mau menunggu di rumah saya?"


" nggak usah, terima kasih. Saya tunggu di sini saja, Seno bagaimana? apakah ia juga pulangnya malam?"


" Pak Seno pulangnya gak tentu Pak, kadang malah nggak pulang."


"oh...begitu."


" Bapak ini siapanya mereka kalau saya boleh tahu."


" oh ..Sandy itu anak saya."


" ooo... bagaimana kalau bapak menunggu saja di rumah saya saja, sambil minum teh mungkin."


Ketika hendak berpamitan dengan paman, dari arah pagar terlihat Tiara dan Sandy sedang berjalan bersisihan memasuki pekarangan rumah.


" loh ..sudah lama paman datangnya?" tanya Sandy sambil menyalami tangan Pamannya lalu menciumnya.


"paman?" gumam SI tetangga


" iya Nak, sesungguhnya Sandy ini keponakan saya yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." jelas paman sambil tersenyum


" oh...begitu, saya pamit dahulu kalau begitu Pak, Mari semuanya."


" terima kasih ya mas, sudah menemani orang Tua kami." kata Tiara sambil tersenyum


" sama sama mbak Tiara."jawab si tetangga kemudian segera berlalu ke rumahnya.


Sandy segera mempersilahkan Pamannya masuk ke dalam rumah setelah ia membuka pintu rumahnya.


" Ayo paman, masuklah." ajak Sandy

__ADS_1


"terimakasih, bagaimana kabar kalian disini?"


" kami baik baik saja paman, Paman bisa pakai kamar itu untuk istirahat sementara saya Dan Tiara akan bersih bersih dahulu." kata Sandy


Paman Sandy hanya mengangguk dan segera menuju kamar yang ia tunjukkan, sementara Sandy mandi Tiara segera berganti pakaian dan menyiapkan minuman hangat untuk Pamannya, sekaligus menyiapkan makan malam untuk keperluan bersama. Tak lama kemudian mereka telh berkumpul di ruang tengah.


" Paman kenapa datang nggak bilang bilang" kata Sandy membuka pembicaraan.


" bagaimana caranya aku bilang? kirim surat? kelamaan San."


" iya paman, besok kita ke mall ya, saya akan belikan ponsel buat oaman agar kita bisa komunikasi dengan lancar."


" halah...gak usah, jangn hambur hamburkan uangmu, simpan untuk kepentingan lain saja."


" paman....jangan menolak, ini sebagai wujud rasa terimakasihku untuk paman yang selama ini sudah baik dan perhatian denganku."


" Nggak perlu kamu menghabiskan uangmu untuk Hal yang gak terlalu Penting Sandy."


" Paman... berkat doa paman dan Bibi, sekarang gajiku sangat lumayan, masih lebih untuk membiayai kebutuhanku Dan Tiara sebulan kalau hanya untuk membelikan ponsel untuk paman."


" alhamdulillah...paman jadi ikut senang dengarnya."


" ngomong ngomong ada apa paman tiba tiba mengunjungi kami?"


" Bibi mu yang suruh, ia kangen sama kalian, penasaran juga pingin dengar kabar kalian."


" kami juga sebenarnya kangen sama Bibi, tapi mau bagaimana lagi?" kata Sandy


" iya, aku tahu, malah sebaiknya kamu jangan pulang dulu dalam waktu dekat ini, kalaupun pulang sebaiknya kamu lebih berhati hati." kata paman


" Bagaimana kabar papa dan mamaku paman?"


" mereka baik baik aja, hanya tentu saja mereka sangat bersedih dan kehilangan non Tiara.


" mereka tidak mencurigai paman Dan Bibi bukan?"


" awalnya memang mereka mencurigai kami, tetapi makin kesini mereka sudah tidak lagi mencurigai kami, tapi bagimanapun kami tetap harus hati hati."


" maafkan saya paman, gara gara saya kalian ikut susah."


" jangan bicara seperti itu non, kami melakukan ini bukan hanya karena non Tiara, tetapi karena Sandy juga yang sudah seperti anak bagi kami." jawab paman bijak

__ADS_1


"


__ADS_2