
Keributan di ruang tamu rumah tuan Handoko kembali terdengar ketika salah seorang pengawalnya kembali melaporkan pekerjaannya yang gagal mendapatkan informasi tentang keberadaan Tiara saat ini. Tuan Handoko benar benar marah dan sangat kesal di buatnya.
" Bagaimana kerja kalian! hanya mencari anak ingusan saja tidak bisa, percuma aku memperkerjakan kalian, haji saja selalu minta naik tapi kerjaan sepele saja nggak bisa urus." sentak tuan Handoko pada kedua pengawal ya yang berdiri mematung di hadapannya.
" Maafkan kami tuan, kami sudah mencarinya hingga ke seluruh pelosok desa, bahkan sampai ke desa sebelah. Kami juga bahkan telah mengawasi rumah Sandy semalaman. Tapi memang non Tiara benar benar menghilang seperti di telan bumi tuan."
" kamu pikir anakku hantu? ia bisa menghilang? ngomong sembarangan." kata Pak Handoko semakin kesal.
" maafkan kami tuan, nggak ada salahny kalau kita mencari bantuan orang pintar, siapa tahu memang non Tiara memang di bawa lari makhluk halus." usual salah satu dari pengawal itu
" gila kamu. Otakmu benar benar sudah tidak waras. Kamu saja yang bodoh nggak bisa menemukan anak ingusan, pakai cari cari alasan saja." geruti tuan Handoko.
" maafkan saya tuan, itucuma usulan saja kok siapa tahu tuan mau pakai cara it." jawab nya
" jangan odoh kamu, tetap usahakan mencari terus keberadaan anakku. Siapapun yang bisa memberikan informasi benar aku tidak segan segan memberikan hadiah jadi kerja yang benar kalau mau hadiah dari saya."
"baik tuan, kita tidak akan berhenti mencari sebelum Nona Tiara kami temukan."
" bagus. kamu boleh pulang sekarang." kata tuan handoko, sepeninggal anak buahnya, Pak Handoko hanya mampu memijit mijit keningnya karena bingung tak tahu harus bagaimana lagi.
Sementara itu di dalam kamarnya nyonya Handoko tidak berhenti menangis. Segala pikiran jelek selalu membayangi pikirannya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Tiara pergi tanpa membawa barang apapun, bahkan bajunyapun terlihat tidak berkurang sedikitpun. Membayangkan bagaimana anaknya akan menjalani hidup di luar sana tentu saja merupakan hal yang mengerikan baginya. Namun sebagai Ibu ia tidak bisa melakukan apapun sehingga hanya tangisnya sajalah yang keluar tanpa henti hentinya. Tuan Handoko yang baru saja memasuki kamarnya melihat bagaimana istrinya masih sangat terpukul dan bersedih kembali angkat suara.
__ADS_1
" Ma...tolong jangan menangis terus, aku jadi nggak bisa mikir."
" lalu aku harus bagaimana pa? anak kita satu satunya menghilang tanpa membawa apapun. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana ia menjalani hidupnya di luar sana, bagaimana seandainya ia bertemu dengan orang jahat lalu dia...dia....di jerumuskan ke dalam..." tangis nyonya Handoko semakin keras tak mampu meneruskan kata katanya.
" iya..aku tahu ma..tapi kamu menangis seperti apapun nggak akan mengubah keadaan, kalau kita tidak mencari tiara sekarang, yang pasti larinya akan makin jauh."
" lalu mau papa aku harus bagaimana pa?"
" kita cari sama sama ma.." kata Pak handoko
" dimana?"
" kita ke kota, kita tanya saja pada sekolah, siapa teman dekat Tiara, siapa tahu ia tahu keberadaan anak kita, tidak mungkin tiara pergi tanpa bantuan dari orang lain."
Walaupun dalam hati nyonya Handoko ingin menyalahkan suaminya namun sebisa mungkin ia tahan karena Hal itu tidak akan menyelesaikan masalah mereka Kali ini, justru akan semakin menambah masalah baru.
" selamat siang Pak, saya Handoko orang Tua siswa kelas XII." kata Pak Handoko memperkenalkan diri kepada kepala sekolah sesaat setelah mereka bisa menemuinya di ruangan kepala sekolah siang itu.
" iya bapak, apa yang bisa kami bantu?" tanya bapak kepala sekolah sambil mempersilahkan sepasang suami istri tersebut duduk di kursi ruang Tamu yang berada di ruangan kepala sekolah yang tidak begitu luas.
" Saya ingin meminta bantuan pihak sekolah untuk mencari anak saya yang menghilang kemari malam." kata Pak Handoko to the poin yang langsung membuat terkejut bapak kepala sekolah.
__ADS_1
" maaf bapak, anak bapak hilang? bagaimana ceritanya?"tanya bapak kepala sekolah ingin meyakinkan dirinya.
Secara singkat Pak Handoko menceritakan apa yang terjadi, bapak kepala sekolah mulai memahami apa yang terjadi, dan bisa memahami situasi yang terjadi pada keluarga kedua orang Tua murid di depannya..
" Lalu bantuan apa yang bapak Dan ibu harapkan dari kami?" tanya kepala sekolah it hati hati
" Bisakah bapak memberikan nama dan alamat teman teman akrab anak saya selama di sekolah?" pinta nyonya Handoko
" Saya akan minta wali kelasnya atau guru yang dekat dengan putra putri ibu, kalau boleh tahu anak ibu ini di kelas apa dan namanya siapa?"
" anak saya Tiara Ayu prasanti, kelas XII IPA 2, wali kelasnya bapak Zein." jawab nyonya Handoko cepat
" baiklah ibu, tunggu sebentar ya, saya akan minta bapak Zein untuk datang ke sini." jawab kepala sekolah, beliau segera menelepon seseorang untuk memanggilkan bapak Zein segera ke ruang kepala sekolah.
Selama proses menunggu kehadiran bapak Zein, bapak kepala sekolah mulai menanyakan tentang Tiara dan bagaimana sikapnya sebelum nekat pergi dari rumah kemarin malam. Semua di jelaskan oleh ibu Handoko tanpa ada yang di tutupi. Tak beberapa lama terdengar ketukan dari arah pintu yang tertutup. Tentu saja itu ketukan dari bapak Zein. Bapak kepala sekolah mempersilahkan bapak Zein untuk masuk dan memperkenalkan dengan kedua orang Tua Tiara. Namun Pak Zein langsung bisa mengenali kedua orang yang ada di depannya karena beberapa kali mereka sempat bertemu untuk kepentingan perwalian kelas yang rutin diadakan di sekolah itu. Secara singkat bapak kepala sekolah menjelaskan masalah yang tengah kedua suami istri itu hadapi, dan tentu saja itu sangat mengejutkan bapak Zein selaku wali kelasnya.
" yang saya tahu Tiara itu anaknya ramah dan baik hati, jadi temannya banyak, saya juga tidak melihat perubahan sikap Tiara di hari terakhir kemarin ia sekolah, semua seperti biasa saja, Tiara sangat ceria, tidak seperti sedang ada masalah." jawab Pak Zein
" bisakah kami mendapatkan nama teman Tiara yang paling dekat?"
" Yang saya tahu Tiara temannya banyak, tapi mungkin....Sisca bisa membantu kita." jawab Pak Zein tiba tiba
__ADS_1
" Sisca siapa?" tanya kepala sekolah
" Sisca itu anak dari pemilik kantin sekolah pak, yang saya tahu keduanya terlihat cukup akrab, bahkan mereka terlihat sering jalan berdua." jawab Pak Zein