Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
diawasi


__ADS_3

Sandy menatap wajah Pak Santoso lekat, Tak terlihat amarah disana, wajah keras dan terlihat sadis di depan Sandy Itu hanya memandang Sandy seolah ia tidak berarti apa apa di depannya.


"Pak Santoso sedang mengancam saya?" tanya Sandy.


" Terserah kamu mengartikannya seperti apa, yang jelas aku hanya melakukan apapun yang majikanku inginkan, termasuk kali ini." kata Pak Santoso tanpa basa basi.


" Apa yang tuan Handoko inginkan dari saya?" tanya Sandy sambil memandang wajah di depannya dengan tatapan datar


" jauhi non Tiara." jawabnya singkat namun mampu membuat Sandy tertegun sesaat.


" Aku tidak pernah mendekati nya, justru Tiara lah yang selalu mendekatiku." jawab Sandy tegas


" mungkin awalnya begitu, tapi tadi aku melihatnya sudah lain lagi ceritanya." jawab Pak Santoso


" Apa yang kau lihat?"tanya Sandy bingung


" aku melihat Seorang lelaki yang menunggu wanita di bawah pohon rindang di depan pagar sekolah." jawab Pak Santoso sambil terkekeh, Sandy memperhatikan tawa Pak Santoso dengan tatapan datar.


" lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sandy menantang.


"tidak ada, aku hanya akan melakukan sesuatu jika disuruh tuanku, untuk kali ini aku belum di suruh untuk melakukan apa apa selain hanya mengawasinya." jawab Pak Santoso mengalihkan pandangannya di sisi jalan yang terdapat pohon rindang..


Sandy berjalan meninggalkan Pak Santoso yang kini berhenti dan memilih duduk di pinggir jalan, sedangkan Sandy meneruskan perjalanannya dan segera pulang setelah di lihatnya ada angkutan umum yang melintas di depannya. Dalam perjalanan Sandy hanya berfikir dengan semua perkataan Pak Santoso, ia tahu kini Pak Handoko benar benar mengawasinya dengan Tiara persis seperti yang dikatakan Pak leman.


Sandy langsung menuju tempat kerjanya dan kembali tenggelam dengan pekerjaannya, hingga sore menjelang dan waktunya dia kembali pulang ke rumah. Tanpa banyak bicara Sandy segera memasuki rumah pamannya setelah menyapa bibinya yang bertemu dengan dirinya di halaman rumah dan langsung menuju kamarnya untuk bersiap siap mandi. Ia ingin segera mandi untuk mengusir segala kepenatan dan lelah badannya hari ini. Saat Sandy mandi ia mendengar bibinya sedang berbincang bincang dengan seseorang, setelah di dengarkan lebih teliti Sandy tahu bahwa Tiaralah yang diajak berbincang oleh bibinya.


" non Tiara, dari mana ini. Kalau datang kesini nggak usah membawa macam macam non." kata bibi sambil menerima bungkusan kantong plastik berisi buah jeruk dan apel yang dibawa tiara sebagai oleh oleh. Memang Tiara sering melakukan hal Itu, saat ia datang ke rumah pekerja ayahnya untuk urusan apapun, ia selalu membawa buah tangan walaupun Itu hanya sekedar oleh oleh kecil.


" dari rumah bi, dan memang saya sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan mas Sandy, boleh?" tanya Tiara sopan


" boleh non, tapi Sandy baru mandi, dia barusan pulang kerja." kata bibi sambil tersenyum

__ADS_1


"Baiklah, saya tunggu di sini gak papa kan bi?" tanya Tiara


" gak papa non, silahkan di tunggu, bibi masuk dulu ya, mau teh apa sirup non?" tawar bibi


" gak usah repot repot bi." jawab Tiara


" Nggak repot non, cuma air. Bibi ke dapur dulu ya." pamit bibi sambil tersenyum


" Iya bi." jawab Tiara


Tiara menundukkan wajahnya sambil memejamkan matanya menekan rasa malu karena dirinya menghampiri pria setelah bibi masuk ke ruangan lain yang hanya di batasi dengan tirai kain seadanya. Tiara tidak peduli lagi karena sudah tidak sanggup menahan rasa rindu ingin bertemu dengan Sandy, sehingga dia tanpa ragu ragu menghampiri pemuda Itu di rumahnya.


Sandy yang mendengar ada Tiara mencarinya membuatnya segera menyelesaikan ritual mandinya agar bisa segera menemui gadis cantik itu. Sandy keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambutnya yang setengah basah dengan handuk yang masih melingkar di lehernya. Di dapur ia bertemu dengan bibinya yang sedang menyeduh teh untuk Tiara


" Di ruang tamu ada non Tiara San." kata bibinya meskipun beliau tahu Sandypun sudah pasti mendengar kedatangan Tiara.


" Iya bi, ada perlu apa dia?" tanya Sandy pada bibinya


" Nggak tahu juga, perlunya sama kamu kok, sana temui dulu." perintah bibinya


"San... jangan kasar kasar memperlakukan anak gadis orang."ingat bibinya pada Sandy


" siapa yang mau ngasarinnTiara bi?" tanya sandy heran dengan ucapan bibinya


" kamu kan biasanya begitu, kasar dan nggak punya perasaan" kata bibi.


" sekarang gak lagi bi, Sayang cantik cantik di kasari, mending di ciumi saja.," kata Sandy sambil tertawa


" husss...jangan ngawur kamu ya." kata bibinya sambil melotot matanya pada keponakannya yang tersenyum jail.


" Loh...bibi bagaimana sih? kasar nggak boleh, lembut nggak boleh, Sandy harus bagaimana lagi?" tanya Sandy pura pura bingung

__ADS_1


" ngomongnya dijaga ya, awas kalau macam macam." jawab bibi


Sandy hanya bisa tersenyum mendengar ancaman bibinya. Dia melangkah menuju ruang tamu kecil di rumah Itu. Dimana Tiara sedang menunggunya. saat melihat Tiara yang masih menunduk belum menyadari kehadirannya Sandy tersenyum. Dipandangimya wajah tiara yang memang benar benar cantik, lalu deheman Sandy mampu menarik perhatian Tiara yang masih sibuk menata hatinya sambil menundukkan kepalanya.


" Ada apa? " tanya Sandy sembari mendekati Tiara dan duduk di sampingnya


" Nggak ada apa apa, pingin ketemu saja."kata Tiara jujur


" Kamu tahu kalau kelakuanmu ini bisa membahayakanmu juga paman dan bibiku."kata Sandy sambil menatap wajah Tiara


" maksudnya bagaimana mas?" tanya Tiara bingung


" Tadi siang, Pak Santoso menegurku, katanya atas perintah papamu dia diminta mengawasi Kita." jelas Sandy


" Kita diawasi? kenapa?" tanya Tiara


" kamu benar benar tidak tahu ya? papamu tidak ingin Kita dekat." jawab Sandy


" kalau soal Itu aku sudah tahu, yang aku tidak tahu kenapa papa sampai mau repot repot meminta orang mengawasi Kita." tanya Tiara perlahan


" Pasti karena aku miskin, papamu khawatir kamu mencintai pria miskin sepertiku." jawab Sandy terus terang


" jangan bicara seperti Itu mas, nggak enak di dengarnya." kata Tiara perlahan


" Itu memang kenyataannya." sentak Sandy kasar hingga mengagetkan Tiara. Keduanya kemudian terdiam tanpa ada yang berniat membuka suaranya hingga kemudian bibi datang diantara mereka menyuguhkan minuman dan mendoan yang masih hangat


" di cicipin non mendoan buatan bibi." kata bibi mecahkan kebisuan diantara mereka


"Terima kasih bi." kata Tiara sambil mengambil mendoan hangat setelah Sandy terlebih dahulu mengambilnya. mereka sempat saling pandang sampai akhirnya Tiara menunduk menghindari tatapan mata Sandy.


" Ada apa, kenapa kalian diam diaman begitu?" tanya bibi

__ADS_1


" Nggak papa bi." kata Sandy cepat


" Ya sudah, dilanjutkan ya ngobrol nya, bibi ke belakang dulu mau menyiapkan makanan untuk pamanmu nanti." pamit bibi kepada keduanya lalu menghilang do balik tirai yang menjadi pembatas ruangan di rumah Itu.


__ADS_2