
Pagi harinya, di saat Sandy masih tertidur lelap, Tiara sudah mulai sibuk memasak di dapur untuk sarapan mereka. Menu sederhana di pagi hari yaitu nasi goreng telur dan kerupuk udang dengan cekatan ia segera siapkan, lalapan timun dan daun selada tidak lupa juga telah di siapkan. Sambil memasak senyum Tiara tak lepas dari bibir mungilnya. Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami nasib seperti yang ia jalani sekarang. Kalau dahulu ia selalu membayangkan akan kuliah di universitas favorit selepas sekolah, kini kenyataan yang harus ia hadapi adalah ia hanya sedang memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan kekasih hatinya yang jika beruntung akan jadi suaminya nanti. Namun bagaimanapun juga Tiara masih bersyukur karena ia melakukan semua itu untuk lelaki yang ia cintai, meskipun ada rasa sedih karena ia terpaksa harus meninggalkan kedua orang tuanya.
" kok senyam senyum begitu, apa ada yang lucu dengan nasi gorengnya?" tanya Sandy yang tiba tiba sudah berdiri di sampingnya dengan handuk yang melingkar di leher ya bersiap untuk segera mandi.
" bisa nggak, jangan suka ngagetin aku? kalau aku kena kompor gimana?" kata Tiara sambil cemberut terlihat tidak suka dengan kejahilan Sandy yang mengejutkannya dengan tiba tiba sudah ada di sampingnya sambil memandangi wajahnya.
" paling teriak kalau kena panas kompor. Kenapa senyum senyum sendiri begitu?" ulang Sandy penasaran sambil menatap wajah cantik Tiara.
" nggak papa. mau tahu aja."
" memang aku mau tahu. Kenapa senyam senyum gitu?"
" rahasia."
" halah..pakai rahasia rahasia segala. "
" aku nggak papa, hanya merasa Lucu aja sih."
" Lucu bagaimana?"
" Aku dulu berharap bisa kuliah, dan disibukkan dengan berbagai persiapkan kuliah saat pagi hari, kini aku malah pagi pagi sudah sibuk masak nyiapin segala kebutuhanmu." jawab Tiara sambil tersenyum.
" kamu menyesal?" tanya Sandy perlahan
" nggaklah...nggak ada yang perlu di sesali, kalaupun aku nggak sama kamu, kali ini aku juga pasti tak mungkin menyiapkan kuliahku, mungkin aku malah akan belajar menyiapkan sarapan untuk calon suamiku. Lebih menyakitkan tahu?"
" kalau kamu mau kuliah, aku akan berusaha membiayaimu."
" nggak usah, kan dokumennya masih di sekolah, kita nggak bisa ambil sekarang, belum aman, seperti yang pernah aku bilang kan?"
"Tiara...kamu..."
" sudah mas...jangan bahas itu lagi, yang ada nanti kamu malah jadi nggak enak hati, kita fokus sama misi kita dulu ya."
" misi apa?"
" menikahiku sesegera mungkin."
" dasar." jawab Sandy sambil menyentil dahi Tiara keras.
" kok dasar? bukannya itu misi kita saat ini?" tanya Tiara sambil menggosok keningnya yang memerah.
" iya....aku tahu. Atau... sebenarnya kamu yang sudah kebelet..." goda Sandy sambil mengerling ke arah Tiara genit.
" kebelet apa?" tanya Tiara bingung
" kebelet itu...." jawab Sandy sambil tersenyum. Tiara menyadari arah pembicaraan Sandy mau tak mau pipinya menjadi merona karena menahan malu.
" apaan sih mas.., nggak ada ya aku kebelet begituan, yang ada kamu tuh yang kebelet."
__ADS_1
" ah...yang bener...yakin nggak kebelet?"
" yakinlah..."
" Tapi kok semalam ada yang ngedusel dusel aku seperti kasih kode mau ngajak...."
Sandy teriak kesakitan ketika dengan cepat cubitan Tiara sudah mendarat dipinggangnya tanpa aba aba. Mereka akhirnya saling peluk ketika Tiara masih terus berusaha mencubit pinggang Sandy sedangkan Sandy berusaha menghindarinya dengan memegang tangan Tiara.
" Sudah ah, mas mandi sana, habis itu sarapan." kata Tiara sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Sandy.
" boleh cium nggak?"
" nggak."
" dikit aja."
"nggak!"
" dikit aja Yang...."
" nggak mau!"
"Yang...." goda Sandy sambil tertawa dan berlalu menuju kamar mandi setelah mendapatkan pelototan dari Tiara. Tawa Sandy masih terdengar ketika Tiara mulai menyiapkan masakannya dimeja makan.
Selesai mandi dan berpakaian Sandy segera menuju meja makan Dan Tiara segera menyiapkan sarapan Sandy, tepat ketika akan menyiapkan nasi goreng ke mulutnya, paman datang.
" Mobil siapa didepan rumah San?" tanya paman
" sarapan sekalian paman." ajak Tiara
" paman mandi saja dulu, kalian makanlah, nanti paman makan belakangan saja."
" paman jam segini kok sudah pulang, berarti hari ini nggak kerja?" tanya Sandy
" kerja, paman seminggu ini dapat shift malam, jadi nanti jam 3 sore paman berangkat kerja."
" oh..begitu, paman...mulai hari ini aku nggak lagi tugas di SPBU."kata Sandy sambil menyendok makanannya
" lalu?"
" aku sekarang jadi asisten nya Pak Kuncoro, jadi kemungkinan juga akan sering keluar kota."
" oh ya? Tiara nggak takut kan kalau sesekali harus sendirian di rumah?"
" nggak papa paman, tinggal di kunci saja."
" oh ya paman, sekarang saya Dan Tiara sudah ada ponsel, jadi kalau ada apa apa kita bisa saling komunikasi." kata Sandy
" bagus kalau begitu, kamu simpan nomer paman ya. Kapan kamu beli Tiara?" tanya paman
__ADS_1
" bukan saya yang beli paman, untung kemarin paman minta saya nunggu mas Sandy."
"loh...kamu kemarin mau beli ponsel?"tanya Sandy heran, karena memang Tiara tidak pernah berbicara soal itu.
" awalnya mas, kemarin aku minta ijin paman mau pergi ke mall, tapi paman larang aku, minta aku nunggu mas Sandy, biar ada temannya kalau mau ke mall."
" iya, betul itu, jangan pergi sendiri, kota ini masih asing buatmu. Gak aman perempuan jalan sendiri."
" iya mas, untung aku gak jadi beli, kalau aku sudah beli bisa menanyakan." kata Tiara sambil tertawa.
" jangan pakai uangmu untuk Hal hal yang tidak terlalu penting, sebaiknya kamu tabung saja, biar aku yang menanggung keperluanmu selama bersamaku."
"iya mas, aku juga mau beli ponsel karena aku rasa kita membutuhkan ya untuk komunikasi."
" iya."
Paman tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
"betul, sekarang ponsel memang sangat kita butthurt, paman mandi dulu ya." kata paman sambil menuju ke kamarnya
" iya paman." jawab mereka hampir berbarengan.
Sandy segera menyelesaikan sarapannya karena ia ingin segera tiba di SPBU untuk segera bertemu Tyo dan cepat menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda karena kemarin ia mendampingi Pak Kuncoro. Ia segera berpamitan kepada paman dan Tiara. SPBU sudah mulai ramai ketika Sandy tiba di sana, Tyo juga telah terlihat sibuk membantu operator SPBU, namun Sandy tetap memanggilnya.
" ada apa mas?" tanya Tyo
" Yo, mulai besok kamu menggantikan posisiku ya, nanti sore Pak Kuncoro sendiri yang akan menyampaikan keputusan ini saat meeting." kata Sandy
" loh... mas Sandy mau resign?"
" nggak, Pak Kuncoro memberi tugas lain buat aku."
" oh...aku kira mas Sandy mau resign."
" masa kerja baru beberapa minggu sudah resign Yo."
" Tugas apa mas?"
" aku jadi asisten nya Pak Kuncoro."
" asisten? maksudnya bagaimana mas?"
" entahlah...pokoknya buat di suruh suruh lah...apalagi?"
" wakilnya?"
" ya nggaklah, hebat amat jadi wakilnya. Yang jelas pokoknya aku harus siap setiap saat kapanpun Pak Kuncoro butuh saya."
"oh...pengawal gitu ya mas?"
__ADS_1
" kurang lebih begitu."