Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
bahagia bersamamu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Tiara lebih banyak diam jika tidak ditanya oleh Sandy. Ia masih terlihat canggung duduk berdekatan dengan pria tersebut, terlebih kali ini, karena guncangan perjalanan sesekali badan mereka saling bersentuhan sehingga sesekali mereka saling pandang dalam jarak yang sangat dekat. Rasa malu Dan canggung sangat jelas terlihat dari interaksi mereka.


" kenapa diam? menyesal?" tanya Sandy membuka pembicaraan.


" hmm...apa ? " tanya Tiara gugup mendengar pertanyaan Sandy yang tiba tiba.


" menyesal?" ulang Sandy pada Tiara


" Apanya?


" menyesal meninggalkan orang tuaku dan memilih ikut dengan aku?"


" kok mas Sandy nanya begitu?"


" soalnya dari tadi kamu terlihat diam dan melamun terus."


" Aku nggak menyesal."


" Masih ada waktu kalau kamu menyesal pergi denganku, aku bisa antarkan kamu kembali pulang mumpung belum terlalu jauh.."


" aku sudah bilang, aku nggak akan pernah menyesalinya."


" kamu yakin?"


" sangat yakin. Kenapa sih mas Sandy nggak percaya sama kata kata aku?"


" Karena..pasti nanti kamu akan sangat menderita bersamaku."


" darimana mas tahu kalau aku pasti akan menderita?"


" kamu sudah terbiasa hidup enak dan selalu di layani, tapi denganku kau tidak akan mendapatkan semua itu."


" aku pasti akan bahagia jika mas Sandy selalu mencintai aku."

__ADS_1


Sandy terdiam mendengar Kata kata Tiara, hanya matanya yang tidak lepas memandangi wajah cantik yang duduk di sampingnya, tanpa bisa di cegah lagi kemudian tangan Sandy terulur dan menyentuh pipi lembut Tiara, dan ia mulai membelainya perlahan, perlahan namun pasti wajah Sandy mendekati wajah Tiara Dan akan menciumnya.


" Mas..." cegah Tiara sambil melihat ke Kiri kanan sambil menahan dada Sandy di depan dengan tangannya, karena memang bus dalam keadaan penuh meskipun masih ada beberapa bangku penumpang yang terlihat kosong. Untung hari sudah malam, sedangkan lampu di dalam bis tidak sedang dinyalakan. Jadi apa yang mereka lakukan tidak terlihat oleh penumpang yang lain.


Sandy menyadari apa yang telah terjadi, buru buru ia segera menarik kepalanya dan kembali duduk pada kursinya dengan benar.


" maafkan aku Tiara, aku nggak sengaja." ucap Sandy sambil mengusap wajahnya kasar sambil meredakan gejolak di hatinya.


" nggak papa mas..aku maklum kok."


" tolong jangan pernah bosan mengingatkan aku kalau aku keterlaluan Dan mulai terlalu jauh ya. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku."


" iya, aku akan selalu berusaha ingat semua janji kita pada Bibi dan paman, aku nggak mau mereka kecewa, karena mereka sudah percaya pada kita." jawab Tiara pelan


" iya, aku sangat menyayangi mereka seperti oràngtuaku sendiri. Aku juga tidak ingin mengecewakan mereka ."


" mas...kenapa kita tidak menikah saja dahulu, setidaknya kita tidak akan kena dosa."


" Tiara...aku ingin Restu dari orang tuamu, karena itu aku akan berusaha memantaskan diri dahulu denganmu."


" kita akan berusaha dan terus berdoa, aku percaya kalau Tuhan akan membantu kita kalau memang niat kita baik."


" bagaimana kalau itu makan waktu yang sangat lama?"


" aku akan bersabar."


" benarkah?"


" kau meragukanku? justru harusnya aku yang bicara seperti itu padamu. Mungkinkah kamu sabar menungguku?"


"terima kasih mas. Aku akan sangat sabar menunggumu.." kata Tiara sambil menyandarkan kepalanya di pundak Sandy. Sedangkan Sandy meraih jemari Tiara Dan mengecupnya lembut. Hanya melakukan Hal itu saja kedua remaja itu jantungnya sudah berdebar debar tidak karuan. Sandy hanya berharap Tiara tidak mengetahuinya, tentu saja harapan itu sia Sia saja, apalagi saat ini kepala tiara berada dekat dengan dadanya. Karena itulah kini Tiara tengah memandangnya sambil tersenyum.


" Nggak usah malu mas, aku juga deg degan. Bagaimanapun kamulah pria pertama yang pernah berada di sampingku sedekat ini, Dan berani memegang tanganku seperti ini, karena kamulah yang aku cinta." kata Tiara

__ADS_1


" benarkah?"


" iya."


" kamu juga wanita pertama selain Bibi dan ibuku yang pernah menyentuhku dan yang aku sentuh."


Tiara Dan Sandy kembali saling memandang. Pandangan mereka jatuh pada bibir keduanya Dan seperti di beri aba aba keduanya menjilat bibir mereka masing masing. Sandy Dan Tiara menyadari kekonyolan mereka akhirnya tersenyum sambil memalingkan wajah mereka.


"Mas...di Surabaya nanti kita mau tinggal dimana?" tanya tiara membuang kecanggungan diantara keduanya.


" untuk sementara, kita tinggal di rumah sahabat paman ya. Beliau sangat baik, sudah seperti saudara bagi paman Dan Bibi, beliau selama ini tinggal sendiri setelah istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu." kata Sandy sambil membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman karena perjalanan mereka masing cukup jauh.


" Apakah beliau tidak punya anak?" tanya Tiara


" punya, tapi meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama istrinya. Padahal sebentar lagi akan menikah saat itu, paman sangat sedih saat it kehilangan orang orang yang di sayangi dalam waktu bersamaan."


" kasihan..." kata ayu perlahan membayangkan perasaan sang paman.


" nasib seseorang nggak pernah ada yang tahu. Tapi...aku minta kamu nanti jangan kaget ya sesampainya di sana."


" kenapa?"


"dirumah itu hanya ada Dua kamar saja, jadi kalau yang satu sudah di pakai paman, artinya kamu tidur sekamar denganku.Tapi jika paman sedang kerja malam aku bisa memakai kamarnya, jadi kamu bisa tidur sendiri." jelas Sandy, Dan tentu saja Tiara tampak sedikit terkejut, namun itu tidak berlangsung lama. ia hanya mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban.


" Jadi...penting bagi kita untuk selalu dalam kondisi sadar ya."


" memangnya kita sering pingsan?" tanya Tiara sambil tersenyum mengejek.


" iya, kalau di dekatmu aku pasti mudah pingsan." jawab Sandy tegas.


" mana ada pingsan yang di sengaja?"


" Ada. Mau lihat?" tiba tiba Sandy Pura Pura pingsan Dan terjatuh tepat di dada Tiara. Tentu saja Tiara berusaha sekuat tenaga untuk membangunkan badan tegap Sandy agar tidak melakukan itu hingga akhirnya ia jengkel karena usahanya berakhir sia sia, Dan akhirnya Tiara mencubit perut Sandy dengan sangat keras. Jeritan Sandy tentu saja mengundang perhatikan penumpang yang lain. Ada yang ikut tersenyum ada juga yang mencibir bahkan mengatakan mereka lupa daratan, ada juga yang hanya menatap mereka dengan ekspresi datar. Tentu saja itu membuat Tiara malu Tiara malu setengah mati. Namun apa yang bisa ia lakukan kecuali hanya terdiam sedangkan Sandy meminta maaf kepada penumpang yang karena telah menganggu perjalanan mereka semua.

__ADS_1


Tiara Pura Pura tidur untuk mengurangi rasa malunya. Sedangkan Sandy hanya tertawa pelan dengan sesekali menggodanya dengan berbisik di telinga ya. Namun Tiara tak mau menanggapinya, akhirnya ia benar benar tertidur di samping Sandy dengan kepalanya menyandar pada bahu tegap Sandy. Dan Sandy memeluknya erat agar Tiara tidak kedinginn selama perjalanan, dalam posisinya Sandy dengan leluasa mencium kepala Tiara. Harum rambut Tiara dengan segera mengantarkan Sandy ke alam mimpi juga.


__ADS_2