Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
kemesraan paman dan bibi


__ADS_3

Suara ketukan pada pintu Itu terdengar semakin keras ketika sandy dan bibi menghentikan pembicaraannya.


" siapa yang datang San, apa mungkin pamanmu?"tanya bibinya


" sepertinya nggak mungkin Bi..paman tidak akan mengetuk pintu seperti Itu, biar sandy yang akan bukakan pintunya." kata sandy sambil bangun dari balai balai tempatnya duduk.


Saat pintu di buka, sandy melihat Pak Leman sedang berdiri di depan pintu dengan senyum di wajahnya.


" Boleh aku masuk san?" tanya Pak Leman pada sandy yang tidak terlalu terkejut melihat kehadiran pria setengah baya Itu, setelah pertemuannya siang tadi bersama Àyu.


" boleh, silahkan masuk." kata sandy sambil bergeser ke kiri dan Pak Leman melangkah masuk kedalam rumah melewatinya begitu saja.


" oh...kamu dek Leman? ada apa? tumben mampir ke gubukku." sapa bibi begitu melihat Pak Leman memasuki rumahnya.


" Iya mbakyu, suamimu ada?" tanya Pak Leman pada bibi


" Belum pulang dari sawah, ada keperluan apa?" tanya bibi sambil mempersilahkan Pak leman duduk di balai balai tempat sandy duduk tadi.


"Begini mbakyu, sebenarnya aku tidak enak hati menyampaikan hal ini, tapi bagaimana lagi..." kata Pak Leman sambil melirik pada sandy sekilas


" katakan saja, ada apa?" kata bibi tidak sabar


" Aku hanya ingin memberitahu keponakanmu yang tampan ini, agar menjauhi non Tiara, karena bagaimanapun tuan Handoko tidak menyukainya, aku takut terjadi apa apa dengan keselamatan kalian sekeluarga." kata Pak Leman sambil menatap wajah Sandy yang tiba tiba rahangnya mengeras menahan emosinya.


" Maksudnya bagaimana dik Leman?" tanya bibi


" Tuan Handoko meminta saya mengawasi keponakanmu dan non Tiara, dan saya yakin tuan Handoko tidak hanya memerintah saya, saya tidak bisa melindungi keselamatan kalian, jika suatu hari nanti tuan Handoko mengambil tindakan kasar." kata Pak Leman


" Aku tahu maksudmu Pak, dan terima kasih sudah mengingatkanku, asal kamu tahu bukan saya yang mendekati Tiara, tapi Tiaralah yang mendekati saya." kata sandy tegas dengan matanya yang tajam menatap Pak Leman.


" Apapun Itu alasanmu Nak, tuan Handoko tidak akan mau tahu, itulah sebabnya saya datang hari ini."kata Pak Leman sambil memandang wajah Sandy.


"Terima kasih dik, kamu sudah memberitahu kami, sebagai orang tua kami tidak bisa melarang ataupun menyuruh. Kamu pasti juga tahu, kalau non Tiaralah yang ingin dekat dengan sandy, bukan sebaliknya." kata bibi bijaksana


" Iya, aku juga tahu Itu, sebagai laki laki aku juga bisa melihat semua Itu, karena Itu aku hanya akan berbicara saja agar kalian bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang ada, kalau memang hubungan anak anak ini sudah tidak bisa di kendalikan." jelas Pak Leman


" Iya dik, aku tahu. Terima kasih kamu sudah peduli dengan keluargaku."


" aku pamit dulu mbakyu, sandy..kamu harus jaga dirimu. karena yang kamu lawan bukan orang sembarangan."kata Pak leman sambil menepuk nepuk pundak sandy perlahan dan segera berlalu dari rumah gubug yang di huni Sandy.

__ADS_1


" Nak..."


" Maafkan saya bibi.." kata sandy sambil menunduk


" Apa yang kamu katakan? kamu laki laki bukan?" kata bibi dengan nada marah


" Bi..."


" Apa hanya karena kamu miskin lalu kamu tidak punya keberanian memperjuangkan kebahagiaanmu?" tanya bibi dengan nada keras.


" Bi..."


" Katakan pada bibi sekarang, kamu mencintai non Tiara apa tidak?" tanya bibi kesal


" Bi..."


" katakan terus terang. Bibi ingin dengar langsung dari mulutmu." kata bibinya


" Aku Nggak tahu Bi, ini cinta apa bukan." jawab sandy ragu ragu


" Apa yang kamu rasakan ketika berdua dengannya?" tanya bibinya penasaran.


" katakan saja, jangan tiba tiba berubah gagu." kata bibinya sambil memukul kepala sandy perlahan. sandy hanya bisa meringis menahan rasa sakit di kepalanya sambil mengusap usap kepalanya.


" Aku malu, deg degan, senang, juga takut." jawab sandy


" Senangnya seperti bagaimana?" tanya bibinya sambil tersenyum


" Senangnya seperti...ya senanglah bi....nggak bisa di jelaskan." kata sandy malu malu.


" Itu namanya kamu jatuh cinta bodoh, dasar nggak peka."


" Nggak peka bagaimana? belum tentu juga tiara menyukai aku bi..kenapa aku jadi yang di pojokkan?"


" Nggak suka bagaimana? sudah kelihatan jelas kalau neng tiara Itu naksir berat sama kamu, bagaimana sih jadi laki laki?" tanya bibinya kesal


" Nggak mungkin Bi..." sanggah sandy


" apanya yang nggak mungkin?" tanya bibi gemas.

__ADS_1


"Tiara Itu..." kata sandy sambil menatap wajah bibinya yang sedang tersenyum mengejek ya.


" Cantik, baik, pinter, pergaulannya bagus. apalagi?" tanya bibi semakin memojokkannya.


"Bi..."


" Jadi laki laki Itu harus pemberani, tunjukkan kelebihanmu. Bukan kekuranganmu yang lebih kamu tonjolkan. Jangan memikirkan aku dan pamanmu, Kami bisa jaga diri sendiri." kata bibinya bersemangat.


" Bi.. aku tidak ingin kalian celaka hanya karena melindungi aku." kata sandy dengan nada prihatin.


" Sudahlah sandy, kamu sudah dewasa sekarang, bibi tahu kamu pasti tahu yang terbaik untuk hidupmu, kamu sama sekali tidak pernah menyusahkan kami." kata bibinya.


Tak berapa lama tiba tiba pamannya masuk kedalam rumah dan menyaksikan bibi dan keponakannya yang saling berpelukan tentu saja menjadi heran dan bertanya tanya


" loh...ada apa ini? kenapa pakai acara berpelukan segala?" tanya paman sambil memandang wajah keduanya.


" Aduh...bapak...bikin jantungan saja, kalau datang Itu salam dulu atau bagaimana begitu lo..., ini main selonong saja." kata bibi sambil mengomel dan melepaskan pelukannya pada keponakannya dan segera menjauhkan badannya dari sandy.


" loh...kok jadi bapak yang salah, kalian yang saking asiknya pelukan sampai nggak menyadari ada orang masuk rumah, kok malah bapak yang disalahin sih?" kata paman sambil tertawa


" Bilang saja kamu cemburu Pak sama keponakanmu sendiri." jawab bibi sambil mengerlingkan matanya pada paman. sandy yang melihat keakraban paman san bibinya hanya tersenyum saja. walaupun tidak hidup berlebihan paman dan bibinya sangat mesra dan harmonis, mereka terlihat sangat bahagia.


" ya nggak mungkinlah bu...cemburu kok sama keponakan sendiri." sanggah pamannya


" eh... siapa tahu, sadar kalau kalah ganteng." jawab bibi


" loh...dia ganteng kan karena keturunan dari kakakku." jawab paman nggak mau kalah


" Hmmm...nggak mau kalah sama yang muda."sindir bibinya sambil tersenyum sinis.


" ya jelaslah...sebelum darah gantengnya sampai ke sandy, darah gantengnya lewat ke aku dulu."


" Iya Pak, ibu percaya, kalau bapak nggak ganteng mama mau ibu menikah sama bapak. Ini mau di buatin minum apa? sebelumnya sana mandi dulu, habis dari sawah kok langsung masuk rumah." kata bibi pada paman.


" seadanya saja bu, biasanya bagaimana. bapak mandi dulu ya..nanti cerita ya kenapa kalian sampai berpelukan seperti tadi.


" aduh...masih dibahas lagi pelukannya. Iya nanti ibu ceritain. sekarang yang penting bapak mandi dulu." kata bibi sambil mendorong badan bapak menuju kamar mandi. Sandy tersenyum melihat kemesraan paman dan bibinya, dalam hatinya ia juga menginginkan kebahagiaan seperti Itu untuk kehidupan rumah tangganya kelak.


Tanpa ia sadari sandy malah berandai andai dengan kehidupan berumah tangga padahal belum jelas siapa pasangannya kelak, begitu menyadari kebodohannya ia hanya mampu memukul kepalanya sendiri perlahan sambil tertawa

__ADS_1


__ADS_2