Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
perjodohan untuk tiara


__ADS_3

Di rumah tuan Handoko, di ruang makan mewah dengan meja makan yang besar telah tersaji berbagai jenis sayur dan lauk pauk yang semuanya terlihat sangat lezat. Duduklah tuan Handoko bersama istri dan anak perempuan mereka satu satunya. Tuan Handoko tidak melepaskan pandangannya dari wajah putrinya yang tampak tertunduk menikmati makanannya. Berulangkali terlihat dia menarik nafas dalam sebelum akhirnya membuka pembicaraannya.


" Tiara...." panggil Handoko pada putrinya dengan nada suaranya yang terdengar berat.


" Ya pa.." jawab Tiara sambil mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ayahnya yang duduk di ujung meja makan.


" Katakan terus terang pada papa, sejauh apa hubunganmu dengan Sandy."tanya papanya


" Pa...Tiara sudah bilang kan, kami hanya berteman, apa Itu salah? lagipula Mas Sandy Itu orangnya baik kok pap." kata Tiara sambil memandang wajah Papanya untuk mengetahui reaksinya.


" Tapi di lihat orang tidak pantas Tiara." kata Handoko tegas.


" Dimana tidak pantasnya papa? kita tidak melakukan hal yang salah sama sekali." bela Tiara.


" Tiara..., ini di kampung. Kamu terlihat sering berduaan dengan lelaki kamu katakan Itu tidak salah? kamu sadar kalau hal itu akan jadi omongan banyak orang, apalagi sandy Itu hanya pegawai kasar di toko Kita." kata Pak Handoko mulai bernada tinggi.


" Tapi pap...kami hanya berteman, dan asal papa tahu kami tidak sering berduaan." kata Tiara memberi penjelasan.


" Kamu sudah dewasa, tidak pantas berteman dengan pria terlalu dekat, terlebih kalian beda status sosial, papa nggak mau kamu jadi bahan omongan orang di kampung ini." kata Pak Handoko menegaskan.


" papa...kenapa berteman saja harus memikirkan status sosial?"tanya Tiara tidak mengerti jalan pikiran orang tuanya.


" Sekarang memang kamu bisa bilang hanya berteman, kamu berani jamin beberapa bulan kedepan kamu tidak akan jatuh cinta dengan sandy atau sebaliknya sandy tidak akan jatuh cinta padamu?" tanya Pak Handoko sambil menatap mata putrinya tajam. Tiara terdiam tidak menjawab sepatah katapun, ia hanya menunduk mendengar perkataan papanya dan menghindari tatapan mata papanya yang terasa menusuk jantungnya, karena detik inipun dalam hatinya yang paling dalam sudah mulai tumbuh benih benih cinta untuk sandy di sana.


" Jawab pertanyaan papamu Tiara." kata mamanya ikut angkat suara melihat putrinya yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


" Tiara Mana bisa memastikan yang belum terjadi ma..." jawab Tiara perlahan namun cukup bisa terdengar di telinga kedua orangtuanya


" karena Itu hindari dia sebelum semuanya terlambat." kata mamanya lagi, dan Tiara mengangkat wajahnya tidak terima dengan perkataan mamanya yang dirasa mengintimidasinya.


" Bagaimana mungkin Tiara bisa lakukan itu?" tanya Tiara pada mamanya.

__ADS_1


" Apanya yang tidak mungkin?" tanya mamanya dengan nada sinis.


" Gak mungkin Tiara tiba tiba menjauhi mas Sandy tanpa sebab mama. Apa nggak akan menyinggung perasaannya nanti?" jawab Tiara sambil menatap wajah cantik mamanya.


" apa perdulimu pada perasaannya?"tanya mamanya sinis


" ma...jangan bicara seperti itu" kata Tiara.


" mamamu benar Tiara, kenapa kamu memikirkan perasaan orang lain sedangkan perasaan orang tuamu tidak kamu pikirkan?" tanya papanya kali ini dengan nada yang sinis juga


" Maksud papa apa?" tanya Tiara sambil memandang papanya.


" Papa malu Nak, melihat dan mendengar kamu berdekatan dengan kuli seperti Itu, papa sengaja menyekolahkanmu ke kota dengan harapan kamu akan bergaul dengan orang orang yang sekelas dengan Kita, ini malah bergaul sama pekerja kasar macam Sandy." kata papanya sambil mengunyah makanannya pelan.


"Papa kenapa berfikir begitu?" tanya Tiara


" Kenapa? salah? papa ingin kelak kehidupanmu bersama pasanganmu jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupanmu saat ini bersama orangtuamu." kata Pak Handoko.


" Papa nggak salah, hanya saja Tiara merasa papa terlalu Gila akan harta." jawab Tiara singkat.


"Maafkan Tiara pa, ma kalau Tiara bicara terlalu kasar. Seharusnya mama dan Papa jangan memandang orang hanya dari hartanya saja."kata Tiara sambil memandang kedua orangtuanya


" Kamu itu terlalu naif, kamu tidak tahu rasanya jadi orang miskin makanya kamu bisa bicara begitu." kata mamanya sinis


" justru karena nggak pernah merasakan miskin maka Kita harus bersyukur dengan berbuat baik pada mereka, bukan malah menghinanya, Masa Kita tidak ada sedikitpun rasa empati pada kemalangan mereka pa..ma.., nggak ada orang di dunia ini yang berkeinginan hidup miskin. Coba papa mama bayangkan, kalau tidak ada mereka siapa yang akan membantu pekerjaan papa dan mama dan siapa yang akan membuat papa mama sekaya sekarang." kata Tiara


" sudah, cukup! nggak perlu kamu menggurui orang tuamu, jangan sok pintar kamu." kata mamanya sinis sedangkan papanya hanya diam sambil memandang perdebatan istri dan anak semata wayangnya.


" Papa hanya minta kamu jauhi Sandy." kata papanya sambil meneruskan mengunyah makanannya memandang kearah istri dan anaknya yang masih ingin berdebat.


" Papa akan segera mencarikan pasangan yang tepat untukmu nanti setelah kamu lulus sekolah." kata papanya sekali lagi namun Itu cukup mengejutkan bagi Tiara

__ADS_1


"Pa..." kata Tiara sambil menahan air matanya yang hampir jatuh.


" Papa sebenarnya sudah lama merencanakan perjodohanmu dengan anak rekan bisnis papa, tapi sepertinya harus segera di percepat sebelum semuanya terlambat." kata Pak Handoko


" pa..Tiara tidak setuju, Tiara tidak mau di jodoh jodohkan." kata Tiara dengan nada memohon.


"kamu tidak ada pilihan, jadi kalau kamu tidak mau meninggalkan sandy sekarang nanti kalau tiba waktunyapun kamu tetap harus meninggalkannya, sekarang terserah kamu." kata Pak Handoko


" Kenapa papa kejam sama Tiara?" tanya Tiara sambil menangis


" justru papa lakukan ini karena papa sangat mencintaimu, papa tidak ingin hidupmu menderita." kata papanya tidak mau kalah.


Tiara bangun dari duduknya dengan kasar dan berlari meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya, ia masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya membanting dengan keras pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam untuk meluapkan kekesalan hatinya dan menumpahkan air matanya pada bantal kesayangannya. Tiara tidak lagi memperdulikan panggilan mamanya yang terus menerus mengetuk pintu kamarnya dari luar. Hingga akhirnya Pak Handoko mendekati istrinya yang kasih berdiri di depan pintu kamar anaknya


" Sudah mam, biarkan dia sendiri dahulu." kata Pak Handoko sambil menyentuh pundak istrinya


" Tapi tiara belum menyelesaikan makanannya pa..." kata istrinya terlihat khawatir.


" sudahlah, nggak papa sesekali Tiara tidak makan malam." kata Pak Handoko menenangkan istrinya.


" Tapi tadi siang dia juga nggak makan lo pa.." kata istrinya lagi.


" Sudahlah..anakmu bukan bayi lagi yang harus kamu khawatirkan kalau tidak mau makan." jawab Pak Handoko sambil tersenyum.


" Papa selalu seperti Itu, namanya juga anak semata wayang Pa.." bantah istrinya tidak mau kalah.


" Inilah yang akhirnya membuat anakmu Itu keras kepala." kata suaminya sambil menatap wajah istrinya yang terlihat kasih begitu muda karena perawatan mahal yang di jalaninya.


" Mirip siapa keras kepalanya?"tanya istrinya pada Pak Handoko.


" Nggak tahu." jawab Pak Handoko sambil berlalu dari depan kamar anaknya

__ADS_1


" dih...nggak.mau mengakuinya kan?" kata istrinya mengikuti langkah suaminya kemudian.


Tidak bisa di pungkiri, Tiara memang sangat di sayang oleh kedua orangtuanya, namun walaupun begitu tidak sweet merta membuat Tiara tumbuh menjadi gadis kaya yang sombong, justru ia terlihat sering menolong orang orang di sekelilingnya yang membutuhkan bantuan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Itulah yang paling menarik dari diri Tiara yang juga sangat di kagumi Sandy diam siam.


__ADS_2