
Meeting di tutup dan Pak Kuncoro segera meninggalkan kantor setelah Sandy menyerahkan kunci Mobil beliau yang sempat ia bawa semalam. Hari ini beliau memilih bekerja di luar kantor sambil menunggui anaknya yang masih opname di rumah sakit bersama istrinya.
" San, tolong kamu pastikan laporan hari ini beres ya, nanti kamu bisa kirimkan resume nya lewat wa ke saya, format nya kamu nanti bisa minta ke Sisca." kata Pak Kuncoro
" baik Pak." jawab Sandy sambil mengangguk.
" Sisca, kamu jangan lupa selain hard copy, kamu juga simpan file softcopynya juga."
" baik Pak" jawab Sisca
" Saya juga ingin kamu bantu Sandy kalau dia ada kesulitan ya. Saya akan sibuk di luar kota untuk beberapa bulan kedepan, jadi kemungkinan besar Sandy yang akan mengurus semua urusan kantor, selama saya tidak ada."
" siap Pak." jawab Sisca sambil tersenyum manis dan melirik ke arah Sandy.
Sandy segera mengerjakan pekerjaan yang di tugaskan kepadanya di bantu Sisca setelah kepergian Pak Kuncoro, untuk sementara ruangan Pak Kuncoro menjadi ruangan kerjanya selama ruangan miliknya belum selesai di buat, meskipun awalnya ia sempat menolak memakai ruangan itu,namun Pak Kuncoro meyakinkan ya untuk memakai ruangan itu.
Sandy benar benar di sibukkan dengan angka angka yang di tunjukkan Sisca. Beberapa kali ia terpaksa meminta Sisca untuk menjelaskan ulang agar ia bisa memahami laporan yang ada di depannya. Saat menjelaskan semua Hal yang belum di ketahui sandy mau tidak mau Sisca berdiri sangat dekat di samping Sandy, bahkan sesekali tubuh siscapun menyenggol lengan kekar Sandy, sehingga aroma parfum yang cukup menggoda penciuman Sandy dan belahan dada Sisca langsung tertangkap oleh mata Sandy karena blouse yang Sisca pakai memiliki belahan yang cukup rendah, sehingga mau tidak mau Sandy melihat aset Sisca yang terlihat jelas di matanya.
Sebagai laki- laki tentu saja Sandy sedikit tergoda, apalagi Sisca sangat cantik dan terlihat pintar, akan sulit bagi siapapun untuk tidak tergoda, namun bagaimanapun juga Sandy sadar ia sudah punya Tiara yang tengah menunggunya di rumah, dengan oengorbanan yang sudah ia tunjukkan kepadanya.
" mbak Sisca...maaf saya merepotkan ya." tanya Sandy sengaja mengalihkan posisi Sisca dengan bertanya
" oh...nggak papa mas, tapi jangan panggil saya mbak dong mas, rasanya gimana gitu." jawab Sisca sambil tersenyum dan menegakkan badannya di samping Sandy sehingga pemandangn yang cukup memusingkan Sandy sudah tidak ada lagi.
" saya harus panggil apa?"
" Sisca saja, jangan pakai embel embel mbak."
" nanti nggak sopan dong mbak?"
" Nggak, kata siapa? "
" Baiklah. Kalau memang itu maunya Sisca."
" Nah... gitu lebih baik. "
"Kalau laporan laporan ini sudah lengkap semua saya akan buat laporan resumenya untuk Pak Kuncoro, boleh saya minta format resumenya Sis?"
" saya kirim via Wa saja ya Mas."
" iya, kirim ke nomer saya 0811xxxxxxx"
" baik mas, saya save ya."
"iya, oh...tolong kamu simpan nomer saya buat kamu saja ya, jangan sampai kemana mana,dan maaf hubungi saya kalau soal pekerjaan saja, saya nggak mau nanti kalau istri saya salah paham." kata Sandy
__ADS_1
" oh...mas Sandy sudah menikah? kok nggak pakai cincin?" tanya Sisca terkejut.
" iya, saya nggak suka pakai cincin, takut hilang, jadi saya simpan saja di rumah." jawab Sandy
" memangnya istrinya mas Sandy cemburuan ya?"
" Nggak juga, cuma saya saja yang nggak mau ada masalah sama dia di belakang hari."
" wah...mas Sandy ternyata sangat mencintai istrinya ya, atau jangan jangan mas Sandy termasuk suami yang takut istri."
" takut sih nggak Sis, hanya menghargai saja, karena aku juga akan marah kalau istriku ada lelaki yang dekat selain aku."
" okey mas, nggak masalah." jawab Sisca sambil mengirimkan format resume laporan yang di minta Sandy melalui ponselnya.
" Kalau begitu saya kembali ke meja saya mas, kalau ada yang butuh di tanyakan lagi saya siap bantu."
" okey, terima kasih ya Sis."
Menjelang Isya semua pekerjaan Sandy telah selesai, seharusnya pekerjaan Sandy bisa selesai jauh lebih awal, karena ini adalah hari pertama maka Sandy masih membutuhkan adaptasi dengan semua tugas tugasnya. Sisca setia membantunya hingga ia selesai semua, sehingga mau tidak mau keduanya jadi pulang terlambat.
" Maaf ya Sis, kamu jadi terlambat pulang garĂ gara saya."
" gak papa mas, saya juga gak keburu buru kok."
" kamu terlambat hampir 2 jam lo dari jam pulangmu yang normal."
" naik angkot."
" loh ..bareng aku saja ya, aku bawa Mobil kok hari ini."
" gak usah Sis, nanti malah merepotkan."
" gak kok, Ayo..bareng saja, sekalian biar saya tahu rumah mas Sandy."
"memang rumahmu di mana?"
" di daerah pakuwon Mas, Mas Sandy di mana?"
" aku di daerah kertajaya."
" nah...itu searah kok, sudah bareng aku saja Mas." ajak Sisca bersemangat.
"bener nih aku nggak ngerepoti kamu?"
" nggak mas, yang ada aku malah seneng."
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju tempat parkir dimana Mobil Sisca terparkir di sana. Mobil Honda jazz putih metalik menjadi kendaraan mereka sore itu. Sisca memberikan kuncinya kepada Sandy karena dia ingin Sandy yang mengemudikan mobilnya. Dan keduanya kini tengah meluncur di tengah keramaian jalan kota Surabaya.
" mas Sandy kenapa nggak bawa kendaraan."
" Nggak punya kendaraan, apa yang mau di bawa?" jawab Sandy
" mas Sandy bisa aja."
" beneran kok, saya nggak punya kendaraan."
" masa sih, jadi selama ini mas Sandy kalau kerja naik angkutan umum?"
" iya."
" loh...nanti kalau tiba tiba Pak Kuncoro minta mas Sandy untuk nyusul kemana gitu kan repot."
" nggak repot, ada aplikasi, sekarang gampang."
" iya juga sih."
" mas...beneran mas Sandy sudah menikah?" tanya Sisca penasaran. Karena memang Sandy tidak seperti kayaknya pria yang sudah menikah.
" ya beneran lah...masa bohong?"
" mas Sandy aneh ya, banyak orang yang menyembunyikan pernikahannya, ini malah mas Sandy sengaja memberitahukan statusnya yang gak lajang lagi."
" kenapa harus di sembunyikan?"
" ya biar bebaslah."
" ini saya juga bebas meskipun sudah menikah."
" beda mas." jawab Sisca namun Sandy memilih diam tidak ingin mendebatnya. Sandy tahu Sisca hanya sedang memancingnya saja, makanya ia tidak ingin menanggapinya, ia malah menepikan Mobilnya dan memilih turun meskipun jarak ke rumahnya masih lumayan jauh.
" loh...mas kok berhenti? kan kertajaya masih jauh."
" iya, saya ingat kalau tadi istri saya meminta saya membelikan sesuatu di minimarket itu saat pulang."
" oh .. begitu? ini saya tungguin ya?
"nggak usah Sis, tinggal aja, nanti aku pulangnya gampanglah."
"beneran nih saya tinggal? saya tungguin nggak papa kok, aku nggak buru buru juga."
" iya, tinggal saja, terima kasih ya, sudah merepotkan."
__ADS_1
" iya mas, nggak merepotkan kok."
Sandy memasuki minimarket begitu ia turun dari Mobilnya, ia tidak menunggu Sisca jalan terlebih dahulu. Sengaja ia melakukan itu karena tidak ingin Sisca mengajaknya berbincang lebih lama lagi. Sandy juga tidak ingin Sisca tahu dimana ia tinggal, setelah dirasa aman, Sandy segera naik angkutan umum melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Sandy tidak ingin melakukan apapun yang bisa membuat Tiara Salah paham.