Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
aku nekat mas


__ADS_3

Tiara berusaha untuk konsentrasi pada ujian sekolahnya, Karena ia merasa mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya mengenyam pendidikan. Tidak mungkin baginya meneruskan kuliah disaat ia sedang berada pada masa pelariannya nanti atau jika nanti ia tertangkap dan terpaksa menerima pernikahannya dengan Stefan akan tidak mungkin juga baginya menjalani pendidikan di tengah kehidupan pernikahan, pasti akan sangat merepotkan.


Waktu yang hanya tersisa dua minggu terasa sedemikian singkat, bahkan ia merasa waktu demikian cepat berlalu, hingga tak terasa besok adalah malam yang sangat ingin Tiara hindari sepanjang hidupnya kali ini. Sementara itu Sandy juga telah mendapatkan pekerjaan di kota yang akan mereka jadikan tempat pelarian. Sandy di terima kerja di sebuah pompa bensin sebagai supervisor. Selama dua minggu ia menjadi karyawan di tempat itu, ia telah mendapatkan simpati dari pemilik perusahaan itu karena kejujurannya dan ketekunan yang di tunjukkan Sandy. Hingga akhirnya hari yang di nanti oleh Sandy tiba, ia meminta ijin kepada atasannya untuk tidak masuk kerja satu hari, karena ia berencana akan menjemput Tiara.


" Kamu itu kerja belum ada sebulan kok mau ijin bolos San...nggak Salah?"


" maaf Pak, ini sangat penting, saya hanya minta ijin sehari saja."


" ada keperluan apa kenapa sepertinya penting sekali?"


" mau jemput adik saya Pak, dia sendirian di rumah, sekarang ujian sekolahnya telah selesai jadi rencananya akan saya bawa sekalian hidup di sini biar kedepannya nanti saya tidak sering pulang kampung."


"begitu? kamu punya adik? laki- laki- apa perempuan?"


" perempuan Pak."


" baiklah...saya kasih kamu ijin tapi bener ya...hanya satu hari ya."


" iya Pak, terima kasih."


Sementara itu di rumah tuan Handoko sudah sangat ramai orang, bahkan beberapa karyawan nya di minta untuk membantu mempersiapkan perhelatan, mulai dari tenda, dekorasi bahkan tata lampu sudah di persiapkan begitu matang, sedangkan ibu ibu sudah sibuk dengan kericuhan pekerjaan di dapur mempersiapkan menu menu yang akan mereka hidangkan malam nanti, rupanya acara pertunangan Tiara akan di gelar dengan besar besaran. Diantara ibu ibu yang terlihat tampak di sana Bibinya Sandy. Memang sudah menjadi kebiasaan di kampung mereka setiap ada salah satu warga yang memiliki hajat, maka warga yang lain akan dengan senang hati membantunya walaupun tanpa di minta. Demikian juga dengan Bibinya Sandy. Kesempatan itu juga membuat beberapa warga saling berbincang satu sama yang lainnya.


"Bu...kok sudah beberapa hari saya tidak pernah melihat Sandy ya, biasanya dia pasti terlihat di luar rumah kalau pagi." tanya salah seorang ibu yang sedang mengelap daun untuk membungkus kue.

__ADS_1


" o...iya, ponakanku itu pergi ke kota lain, untuk cari kerjaan baru, maklumlah anak muda mungkin ingin pandangan baru."


" ohh...saya kira karena patah hati, terus nggak keluar rumah bu."


" patah hati bagaimana sih bu?"


" bukannya Sandy itu kekasih non Tiara bu?"


" wah... kalau urusan anak muda yang begitu itu malah saya kurang tahu."


" masak nggak dengar bu? sepertinya hampir sekampung ini tahu lo.."


" Kalaupun itu benar, harusnya Sandy nggak perlu patah hati, karena ia harus sadar diri, siapa dia dan siapa Nona Tiara." kata Bibi tegas.


" Seharusnya bukan itu alasan yang dipakai Sandy, tapi kalau memang itu benar adanya ya saya kurang tahu bu, saya hanya menyayangkan saja kalau Sandy berfikir sependek itu."


" kenapa bu?"


"Walaupun pendidikan Sandy tidak tinggi, hanya tamatan SMA, bukan berarti ia tidak bisa berfikir dewasa dan bijaksana. Sebagai laki- laki- dia harus bertanggung jawab."


percakapan mereka terhenti ketika Pak Handoko berjalan menuju ke arah mereka, sepertinya sedang mencari istrinya di dapur. Saat melewati Bibi Sandy beliau tiba tiba berhenti dan bertanya


" Apa kabar Sandy bu?"

__ADS_1


" entahlah tuan, sudah dua minggu dia pergi belum ada surat yang datang mengabarkan kondisinya."


"lo... memangnya dia pergi kemana?" tanya tuan Handoko Pura Pura kaget. Berita kepergian Sandy meninggalkan desa semenjak mengundurkan diri dari tokonya sudah tentu terdengar olehnya, namun kemana Sandy pergi dia tidak pernah peduli, justru ia sangat senang karena Tiara bisa berkonsentrasi dengan tunangannya Karena ketidak adaan Sandy.


" entahlah Pak, Sandy hanya bilang akan mengirimkan surat kalau semuanya sudah jelas, ia kerja di mana. mungkin saat ini ia masih cari cari pekerjaan."


"oh... begitu." Kata Handoko sambil manggut mangut dan meneruskan langkahnya mencari istrinya.


" o iya, kamu tahu istriku dimana?"


"Nggak tuan. Saya belum ketemu Nyonya." jawab Bibi lugas


Handoko meneruskan mencari istrinya. Sementara itu di kamar yang terkunci Tiara memasukkan beberapa barang yang akan ia bawa sore nanti, ia memang tidak membawa banyak baju agar tidak terlalu merepotkan dan mencolok, bahkan ia hanya membawa tidak lebih dari Lima pasang baju. Semua barang barangnya ia masukkan ke dalam tas rangsel yang biasa dia pakai sekolah.


Hari sudah semakin sore namun masih cukup terang, matahari masih menampakkan sinarnya sehingga Sandy belum berani keluar dari tempat persembunyiannya. Ia sudah siap menunggu Tiara di jalan keluar desa. Sementara itu Tiara di kamar ya masih sedang dirias oleh perias yang sengaja mamanya panggil untuk mempercantik dirinya. Tiara sempat berdebat dengan perias ya Karena ia ingin tatanan rambutnya dibuat see simple mungkin, ia tidak ingin di sanggul sanggup Karena ia tidak suka jika rambutnya di sasak. Akhirnya jadilah tatanan rambut sesuai dengan keinginan Tiara.


Mama Tiara memastikan semua keperluan riasan tiara sudah beres baru kemudian keluar dari kamar Dan bersiap manunggu Tami dari pihak calon besannya. Tuan Handoko terlebih lagi ia tampak sibuk memastikan acara akan berjalan sesuai dengan keinginannya, bahkan ia melakukan pengecekan sendiri untuk meyakinkannya.


Hari sudah mulai gelap, tamu tamu sudah mulai berdatangan, seluruh warga desa seolah ikut merayakan acara besar yang di gelar oleh orang terkaya di desa itu, bahkan seluruh pejabat desa maupun kecamatan juga ikut ia undang. hiruk pikuk pesta sangat terasa di rumah Tiara sehingga jalanan menjadi lebih lengang.Ini membuat kesempatan Tiara terbuka sangat lebar. Dengan memakai jacket besar ia mengendap endap keluar dari rumahnya melalui jendela kamar yang langsung menghadap taman, dari situ ia mengendap endap menuju pintu belakang pekarangan rumahnya. Tiara sempat berpapasan dengan Salah satu pengawal papanya namun ia tidak menyadaringa Karena Tiara menutupi wajahnya dengan masker.


Meskipun dengan detak jantung yang tak beraturan karena takut ketahuan orang yang mengenalinya dan takut ketemu dengan orang jahat karena jalanan kampung sangat sepi, Tiara benar benar nekat menyusuri jalan kampung untuk menuju tempat diaman dia dan Sandy berjanji bertemu.


Saat Tiara sampai pada gerbang desa, ada rasa ragu-ragu hinggap di hati Tiara, Karena ia tidak melihat keberadaan Sandy sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2