
Hari ini Sandy bertugas menemani pemilik SPBU tempatnya bekerja untuk melihat usahanya yang lain yang tersebar di pelosok kota hingga keluar kota Surabaya. Dari pagi hingga menjelang malam Sandy disibukkan melayani bosnya, Pak Kuncoro. Bahkan mereka awalnya akan memutuskan menginap di hotel semalam sebelum mereka kembali pulang ke rumah karena sepertinya waktu sehari tidaklah cukup untuk menyelesaikan semua urusan, namun ternyata istri Pak Kuncoro menelepon beliau dan mengatakan kalau anak mereka tiba tiba sakit, jadi semalam apapun mereka harus kembali pulang. Sandy bernafas lega mendengar keputusan Pak Kuncoro, mereka tidak jadi menginap malam ini. Bagaimanapun juga Ia masih belum tega meninggalkan Tiara seorang diri di rumah pamannya, karena pamannyapun sering tugas malam Dan tidak pulang.
" Sandy...kamu lagi mikir apa? kenapa diam?" tanya Pak Kuncoro selama mereka dalam perjalanan pulang.
" Ah..nggak mikir apa apa kok Pak." jawab Sandy mengelak sambil tersenyum.
"Pasti kamu lagi mikirin pacarmu ya.. aku lihat dari pagi kamu tidak menghubungi siapapun, sudah sana kamu telpon dia kalau kangen, aku kan juga pernah muda, jadi tahulah apa yang kamu rasakan gak usah malu malu." kata Pak Kuncoro sambil tertawa.
" Mau telpon pakai apa Pak, saya dan dia nggak pegang handphone." jawab Sandy tersenyum sambil tetap berkonsentrasi pada kemudinya.
" maksudnya bagaimana? kekasihmu dan kamu nggak punya handphone? Yang benar? jaman sudah secanggih ini kamu dan pacarmu gak pegang handphone? bagaimana kamu menjalin komunikasi dengannya?" tanya Pak Kuncoro terkejut karena heran.
"ya ...bertemu dan bicara, selesai." jawab Sandy
" yang benar? masak harus selalu bertemu? berapa kali dalam seminggu kamu bertemu dia?" tanya Pak Kuncoro terlihat heran.
" ya...nggak tentu Pak, tergantung kesibukan kami masing masing, pernah sampai hampir dua bulan saya nggak ketemu, nggak ada masalah." jawab Sandy sambil tersenyum santun.
" Gila....dua bulan tidak bertemu? kamu tahan?Ayo...kamu harus beli ponsel sekarang, untuk kamu dan pacarmu, pertokoan di depan nanti kita berhenti." perintah Pak Kuncoro.
" janganlah Pak...saya belum ada dana untuk beli, lain kali sajalah." bantah Sandy nggak enak hati.
"Saya yang akan membelikan untuk kalian, aku juga butuh berkomunikasi dengan kamu setiap saat setelah hari ini." kata Pak Kuncoro kemudian.
" tapi Pak... saya..."
" Sudahlah...nggak usah tapi tapian, anggap saja ini hadiah dari saya karena kamu sudah menemani perjalananku sepanjang hari ini."
" itu sudah jadi tugas saya Pak, nggak perlu bapak membelikan saya ponsel apalagi pacar saya, beneran....bapak nggak perlu melakukan itu." tolak Sandy.
__ADS_1
" nggak papa, itu...kita berhenti di toko yang paling ramai pengunjungnya, ponsel it sekarang sangat penting San..." perintah Pak Kuncoro pada Sandy
Walaupun masih merasa tidak enak hati menerima kebaikan Pak Kuncoro akhirnya Sandy menurut juga untuk membeli handphone sekaligus dua. Untuknya dan Tiara.
Meskipun bukan merk yang mahal, namun bagi Sandy ini sudah lebih dari cukup, berulang kali ia mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Pak Kuncoro.
" Kamu nggak usah berterima kasih begitu, justru harusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Kamu selalu mau melakukan pekerjaan apapun untukku padahal ini di luar tugasmu, kamu nggak pernah hitungan sama saya, jadi nggak ada salahnya saya kasih sedikit hadiah untuk kamu. Dan dengan kamu pegang ponsel begitu akan memudahkanku menghubungimu sewaktu waktu." jelas Pak Kuncoro
" nggak papa Pak, saya senang bisa membantu bapak, bapak bisa minta bantuan saya kapanpun."
Mereka berjalan berdampingan menuju Mobil dan segera melanjutkan perjalanan pulang. Saat melewati jalan yang sepi Sandy merasa kalau Mobilnya ada yang mengikuti dari belakang. Demikian juga dengan Pak Kuncoro.
" pak... sepertinya kita di kuntit orang." kata Sandy
" iya San, kamu betul." jawab Pak Kuncoro sedikit panik
" bapak nggak usah panik, saya akan coba mengatasinya sembari kita lihat mereka sendirian atau ada jawabnya."
"sial..." umpat Pak Kuncoro
" kenapa Pak?"
" kantor polisi terlalu jauh dari tempat kita saat ini."
" Bapak jangan panik, cukup perhatikan saja, rombongan mereka ada berapa orang."
"sepertinya hanya dua orang San."
"saya akan membiarkan mereka mendahului kita."
__ADS_1
"lalu."
" Kalau mereka berombongan, pasti mereka akan mengabari jawabannya, kalau mereka hanya berdua saja pasti mereka akan segera membegal kita Pak."
"bagaimana kalau mereka bersenjata?"
" untuk jaga jaga bapak pegang saja kunci stir, saya akan coba lawan dengan tangan kosong."
" kamu jangan nekat Sandy, ini sangat berbahaya."
" Saya akan coba berhati hati, yang utama bapak lindungi diri sendiri dahulu."
" baiklah, aku ikut rencanamu."
perlahan Sandy memberikan tanda agar pengendara motor di belakangnya untuk menyalipnya. Dan dari hal itu Sandy bisa melihat mereka ada dua orang yang sedang berboncengan, keduanya tampak berwajah sangar, terlihat seperti memang tidak berniat baik. Persis dugaan Sandy, beberapa meter di depan mereka kini kedua orang itu telah menghentikan motornya dan dengan sengaja meletakkan motornya dengan posisi melintang sehingga Mobil yang Sandy kendarai tidak bisa melewatinya. Sandy mulai bersiaga dan segera memberi kode pada Pak Kuncoro untuk bersiaga dengan kunci stirnya.
" Ada apa mas?" tanya Sandy berusaha tenang saat seorang dari mereka mendekati pintu pada posisi tempat duduknya.
" Berikan hartamu."
" maksudnya harta apa mas?"
"jangan banyak bicara, serahkan atau kamu pilih mati." bentaknya
" kami tidak membawa harta apapun selain Mobil ini." jawab Sandy tenang sambil membuka pintunya dan turun dari mobil.
"kami lihat kamu tadi membeli handphone langsung dua, artinya kamu punya uang, serahkan handphone tadi pada kami."
" untuk apa kami harus menyerahkan pada kalian?" tanya Sandy seolah olah tidak mengerti maksudnya.
__ADS_1
" kamu memang banyak mulut." tiba tiba orang tersebut memukul Sandy tepat ke arah wajahnya, untung Sandy bisa mengelak dengan cepat sehingga pukulan pria it hanya mengenai udara kosong bahkan Sandy langsung memberikan pukulan balasan tepat bersarang di ulu hatinya yang langsung membuat pria tersebut jatuh terpental di tanah tidak sadarkan diri, setelah memuntahkan sesuatu seperti darah. Melihat temannya jatuh pria satunya lagi segera merangsek ke arah Sandy dengan pisau yang terhunus di tangannya. Ia menyerang Sandy membabi buta namun Sandy juga dengan mudah melumpuhkannya. Setelah kedua penjahat itu dibuat pingsan oleh Sandy, maka Pak Kuncoro dan Sandy mengikat kedua orang itu dengan ikat pinggang masing masing Dan mengangkutnya untuk di bawa ke kantor polisi. Motor para penjahat itu mereka tinggalkan begitu saja di pinggir jalan yang sepi itu. Pak Kuncoro semakin menyukai karakter Sandy, ia merasa Sandy bukanlah pria sembarangan, kemampuannya berkelahi sangat bisa diandalkan, Pak Kuncoro berencana untuk menaikkan posisi Sandy di kantornya. Bahkan ia berencana menjadikan Sandy sebagai asisten pribadinya.