
Tiara tersenyum mendengar komentar abang tukang sayur mengenai Tiara yang tidak pegang ponsel sama sekali. Memang menjadi hal yang sangat aneh untuk jaman sekarang seorang gadis remaja seperti dia tidak memiliki ponsel, tetapi justru karena hal itulah kini Tiara diuntungkan karena kedua orangtuanya tidak akan menemukan keberadaannya dengan mudah.
" sudah mang, aku beli bayam dan ikan bandeng aja."
" iya Neng...semuanya 39 ribu."
Setelah membayar belajaan dan menerima kembaliannya Tiara segera kembali ke rumahnya Dan segera mengolah ya sebelum sang paman berangkat kerja.
Hari itu Sandy berangkat pagi sekali karena akan menemani pemilik SPBU tempatnya bekerja ke luar kota untuk menengok usaha SPBUnya yang lain. Sedangkan Pamannya akan berangkat agak siang karena kemarin sudah masuk shift malam. Tiara segera menyiapkan sarapan pagi yang kesiangan untuk Pamannya, meskipun berulang kali sang paman menolaknya karena tidak ingin merepotkan Tiara yang pasti lelah karena harus menyiapkan keperluan Sandy sebelumnya. Namun Tiara tidak pernah menghiraukannya, ia tetap melayani sarapan sang paman karena ia sudah menganggap paman tersebut seperti papanya. Dengan melayani sang paman ia merasa sedikit terhibur dari rasa bersalahnya kepada kedua orang tuanya yang sengaja ia tinggalkan tanpa pamit.
Dengan cekatan Tiara segera mengolah belanjaannya dan menyajikannya di atas meja makan kecil di rumah itu. Tiara segera mengetuk pintu kamar sang paman yang masih tertutup meskipun hari sudah tidak pagi lagi.
" paman....makanannya sudah siap, paman makan dulu sebelum berangkat kerja." kata Tiara di depan kamar sang paman
" iya Non... sebentar." jawab Pamannya dari dalam kamar.
Tiara menunggu Pamannya di meja makan. Tak lama kemudian sang paman menghampirinya dan mereka akhirnya duduk bersama di meja makan.
" paman, Tiara sudah bilang,jangan panggil Tiara dengan sebutan non. Tiara risih." kata Tiara dengan nada manja.
" lalu paman mesti panggil apa?"
" panggil langsung nama saja , Tiara. Saya nggak mau panggilan paman membuat tetangga curiga tentang hubungan kita, aku ingin mereka berfikir kalau aku adalah keponakan paman."
" baiklah non, yang penting Tiara bahagia aja." jawab paman dan Tiara langsung tersenyum mendengarnya.
" oh ya paman, bolehkan kalau nanti Tiara pergi jalan jalan ke mall? ada yang ingin Tiara beli." ijin Tiara sambil melayani paman mengambilkan makanan.
" sebaiknya jangan Tiara, kamu boleh pergi kalau di temani Sandy."
" Tapi mas Sandy kemungkinan akan pulang malam hari ini paman."
" Sebaiknya jangan Tiara, ini kota yang asing buatmu, kalau kamu pergi bersama Sandy setidaknya kamu ada yang melindungi, bagaimanapun kamu perempuan, nggak baik pergi pergi sendiri."
" baiklah paman, aku akan menurut apa kata paman." jawab Tiara sambil menyendokkan makanannya ke mulutnya, sang paman hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala.
"memangnya kamu mau beli apa? sepertinya penting sekali."
" ponsel paman."
" ponselmu kenapa?"
__ADS_1
" aku selama ini nggak punya ponsel."
" oh ya? bagus dong...."
" kok bagus paman?"
" kok bisa samaan dengan Sandy? ia juga nggak punya ponsel."
" Dari dulu memang papa nggak pernah ngijinin Tiara pakai ponsel paman."
" alasannya?"
" mana saya tahu, karena papa sendiri juga gak punya ponsel."
"oh...begitu, lalu kamu mau beli yang seperti apa?"
" yang biasa saja paman, yang penting bisa di pakai komunikasi dengan mas Sandy aja, jadi harus beli dua nantinya."
" oh...kalau begitu ada baiknya kamu pergi berdua saja membelinya."
" iya paman. Awalnya mau saya pakai sebagai bahan kejutan."
" ngomong yang baik baik, takutnya nanti Sandy malah tersinggung, dia kan orangnya sensitive."
" Tiara....boleh paman bertanya sedikit pribadi denganmu?" tanya paman hati hati.
" boleh paman."
" Kamu yakin hubungan kalian ini tidak akan menyakiti siapapun?"
" maksud paman?"
" Suatu saat nanti pasti akan ketahuan juga kalau kamu sebenarnya kabur bersama Sandy, lalu bagaimana nasib dari paman dan Bibi Sandy di desa."
" itulah paman, saya juga khawatir akan hal itu, tapi saya hanya bisa melihat ini jalan satu satunya yang bisa saya tempuh, daripada saya harus dinikahkan dengan orang yang sama sekali saya tidak suka."
" sebegitu besarnya cintamu pada Sandy, sampai kamu rela meninggalkan semua fasilitas mewah yang kamu punya."
" entahlah paman, saya hanya merasa nyaman saat berada bersama Sandy, saya nggak tahu apa ini yang dinamakan cinta."
"kamu nggak ingin melanjutkan kuliah?"
__ADS_1
"sangat ingin. tetapi....papa sepertinya tidak mempersilahkan keinginanku."
" coba nanti kamu daftar di sini saja."
" saya nggak ingin membebani Sandy paman, biaya kuliah pasti mahal."
" kamu cari saja, nanti paman akan bantu."
" dokumen ku kan nggak ada paman, masih di sekolah semua, kalau aku ambil pasti aku akan ketahuan, pihak sekolah pasti memberitahu papa."
"benar juga"
"Sudahlah paman, biar sajalah, aku akan membantu Sandy saja dulu agar bisa memantaskan diri bersamaku. Lalu secepatnya kami akan menikah."
" berarti keinginanku kuliah harus kamu kubur dalam dalam."
" nanti aku bisa ambil kuliah kalau Sandy mengijinkan sambil mengurus keluarga kami."
" pasti akan sangat merepotkan, kuliah sambil berkeluarga."
" habis mau bagaimana lagi paman. "
" apakah orang yang akan di jodohkan denganmu itu tidak tampan?" tanya Pamannya sambil tersenyum.
" entahlah paman, mungkin tampan juga tapi aku tidak tertarik."
" alasannya?"
" entahlah. Mungkin Karena sudah ada Sandy dihatiku paman." jawab Tiara malu malu, sedangkan sang paman hanya tersenyum sambil geleng geleng kepala.
"Tapi paman harap kalian mampu menahan diri sampai tiba waktunya nanti, agar semuanya berakhir baik, kamu paham kan maksud paman?"
" iya paman, saya tahu."
" sengaja paman bicara seperti ini sama kamu karena pada umumnya perempuanlah yang pegang kuncinya, jadi kamu harus selalu sadar, jaga Sandy agar tidak melewati batas."kata paman sambil tersenyum
" iya paman, saya tahu."
" ingat Nak, paman katakan ini karena paman sudah menganggap kalian sebagai anak paman sendiri, paman ingin yang terbaik untuk kalian."
"terima kasih paman. saya akan selalu mengingat pesan paman."
__ADS_1
Keduanya menghabiskan makanan mereka masing masing. Setelah itu paman bersiap untuk berangkat kerja dan Tiara mulai membereskan rumah. Keinginan Tiara membeli ponsel harus ia tunda dahulu menunggu Sandy pulang kerja. Setidaknya apa yang dikatakan oleh paman memang ada benà rnya, kota ini masih asing bagi Tiara, jadi sangat tidak aman jika ia bepergian seorang diri.