
Dengan perasaan ragu ragu dan setengah takut karena hari sudah benar benar gelap Tiara berdiri tempat di gerbang desa. Tak banyak penduduk desa yang melintas pada jam seperti itu, hanya beberapa saja yang terlihat lalu lalang, itupun tidak ada yang menaruh rasa curiga terhadap Tiara yang tengah berdiri di pinggir jalan karena ia tersamarkan dengan topi lebar yang ia pakai. Gaun indah yang ia kenakan untuk acara pertunangannya pun ia tutupi dengan jacket yang cukup besar.
Meskipun takut, Tiara sudah kepalang tanggung harus tetap menunggu Sandy, ia tidak mungkin kembali pulang ke rumahnya kalau tidak ingin di nikahkan paksa oleh ayahnya. Di tengah perasaan galaunya tiba tiba ia merasa ada tangan yang menariknya ke belakang hingga ia hampir terjatuh kalau saja so penarik tangannya tidak segera memeluknya, hampir saja ia berteriak kalau tidak segera di bekap mulutnya.
" Nggak usah berteriak, ini aku Sandy." kata Sandy sambil memperhatikan Gaya berpakaian Tiara.
" mas Sandy ngagetin aku, aku sudah ketakutan setengah Mari, aku pikir mas Sandy nggak sayang." kata Tiara
" Maaf, aku menunggu hari benar benar gelap untuk menghampirimu, aku sudah sayang beberapa jam yang lalu tapi aku bersembunyi. Ayo kita harus segera tinggalkan tempat ini sebelum ada yang mengenali kita." ajak Sandy sambil menggandeng tangan Tiara lembut.
" iya mas, kita tetap akan berpakaian seperti ini kan?"tanya Tiara
"tentu saja. aku tidak ingin ada satu orang pun yang mengenali kita saat ini, setelah kita melewati kota ini kamu bisa melepas jacket Dan topimu." kata Sandy
Keduanya berjalan bergandengan menuju pangkalan ojek yang terletak agak jauh dari desa mereka. Meskipun Tiara merasa lelah karena harus berjalan Kaki namun Karena tangannya di genggam erat oleh Sandy maka lelahpun tidak ia rasakan, bahkan detakan jantungnya yang berdegub keras mampu membuatnya selalu tersenyum gembira.
" kenapa dari tadi kamu senyam senyum sendiri begitu?"
" nggak papa kok." elak Tiara
" nggak papa bagaimana? dari tadi kamu aku lihat senyum terus, kamu belum gila kan?" tanya Sandy sambil tersenyum menggoda.
" ih.... mas Sandy nyebelin, senang ya kalau aku gila? iya Aku memang sudah gila mau apa?"
" wadduh...berarti aku bawa lari orang gila dong ini?"
"Iya, aku senang sampai jadi gila." kata Tiara
" kenapa senang?"
" ya karena aku bisa kabur dengan orang sableng."
"kamu..."
" kenapa?nggak suka kan kalau aku bilang as Sandy sableng?aku juga gak suka kalau di bilang gila."
" maaf...maaf...jangan marah dong, nanti cantiknya luntur lo." kata Sandy sambil tersenyum
" gak mempan gombalan receh macam itu."
" ya...bisaku masih yang recehan Tiara, belum bisa ngasih yang banyakan...." kata Sandy terpotong dengan suara jeritannya sendiri.
" kok di cubit? sakit dong Tiara." kata Sandy sambil mengusap lengannya.
__ADS_1
" Bodo amat, mulai sekarang jangan panggil aku Tiara." kata Tiara sambil cemberut
" lo...bukannya nama kamu Tiara? lalu aku di suruh panggil apa? Siti?" goda Sandy
" maunya di panggil Sayang aja."
Sandy tertegun mendengar ucapan Tiara. Hatinya ikut bergetar saat ia meremas tangan Tiara lembut sambil berkata dan menatap mata Tiara.
" Sayang....aku benar benar merasa mimpi melalui hari ini denganmu." kata Sandy lembut
Tiara tersenyum mendengar Sandy mengabulkan keinginannya.
" mas Sandy, aku sudah buktikan padamu kalau aku benar benar serius mencintaimu, aku harap kamu tidak mempermainkan perasaanku kelak. Jangan pernah mengecewakanku." pinta Tiara sendu
" Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, meskipun saat ini kamu belum halal untukku."
" maksudnya?"
" aku akan berusaha dengan berbagai cara agar kamu bisa segera halal untukku, aku. takut tidak bisa menahan diri."
"caranya?"
" aku akan berusaha untuk memantaskan diriku di sampingmu."
" belum Tiara, aku belum pantas, aku harap kamu bersabar menungguku."kata Sandy menekankan
" aku akan menunggumu selama kamu selalu berada di sampingku."
" iya, aku akan mengusahakan itu, aku harap kamu juga membantuku untuk selalu mengingatkanku jika aku khilaf."
"iya mas." jawab Tiara mantap, baru kali ini ia bisa merasakan berbicara dengan Sandy dengan perasaan serilex ini.
Mereka menemukan tukang ojek yang sedang mangkal di pinggir jalan seorang diri, terpaksa mereka berboncengan bertiga dengan Tiara yang duduk di urutan paling belakang, karena hanya ada satu motor dan Sandy tidak ingin Tiara terhimpit dirinya dengan tukang ojeknya.
,
Setibanya mereka di terminal, mereka melihat bus yang akan membawa mereka pergi meninggalkan kota itu akan segera berangkat, maka dengan segera Sandy membeli tiketnya dan segera masuk ke dalam bus itu. Mereka duduk berdampingan di kursi penumpang yang hanya berisi dua seat mau tidak mau mereka akan semakin sering bersentuhan dalam perjalanan nanti.
" Sayang...kamu lapar nggak?"
" nggak. Kenapa?"
" bagaimana kalau kita beli makanan dulu untuk bekal di perjalanan?"
__ADS_1
" Aku bawa makanan kecil kok, bisa di pakai selama kita dalam perjalanan." kata Tiara sambil mengeluarkan kotak dari dalam tas yang dari tadi dia bawa. Dibukanya kotak bekal yang berisi cake berwarna coklat gelap. Tiara memang sangat menyukai brownies kukus buatan mamanya.oleh Karena itu ia membawa cake itu cukup banyak dalam kotak bekalnya.
" kamu bawa apa saja dalam tasmu itu." tanya Sandy menjadi penasaran.
" baju ada beberapa buah, buku tabungan, perhiasan juga sedikit uang tunai."
" kamu ambil punya orang tuamu?" tanya Sandy terkejut
" nggak mas, aku ingat pesan paman dan bibimu, aku hanya membawa apa yang jadi milikku pribadi, kecuali gaun yang aku pakai ini, ini mama yang beli."
" bagaimana kamu punya uang, tabungan dan perhiasan."
"aku selalu menyisihikan yang saku yang di berikan papa, tapi mereka tidak pernah tahu itu, jadi diam diam aku punya uang, tabungan pribadi dan perhiasan, karena pada dasarnya kan aku nggak boros, tapi aku selalu menerima pemberian uang dari papa juga mama. Nggak banyak sih yang aku punya, tapi lumayan untuk modal awal hidup kita nanti di tempat baru."
" Tiara..., kamu sungguh sungguh mencintai aku?"
" iya mas, jangan ragukan itu, apakah bukti yang aku kasih masih kurang?."
" kalau memang kamu cinta sama aku, please aku minta tolong, jangan pernah kamu pakai apa yang kamu bawa hari ini, biarkan aku sebagai laki- laki yang bertanggung jawab untuk hidupmu saat bersamaku."
" tapi mas, ini beneran barang pribadiku, orang tuaku bahkan tidak tahu menahu soal ini semua."
" Aku harap kamu mengikuti kata kataku, aku ingin bertanggung jawab terhadap wanitaku." kata Sandy yang langsung membuat Tiara pipinya memerah Karena malu malu mau.
" Iya mas...aku nurut apa kata mu, memangnya mas Sandy sudah punya pekerjaan?"
" alhamdulillah sudah. Meskipun penghasilannya tidak banyak, tapi pasti cukup untuk kita berdua jika kamu bisa mengaturnya."
" kerja di mana mas?"
" di pompa pengisian bahkan bakar."
" oh...syukurlah, Mas di posisi apa?"
" sebagai pengawas. Dalam Dua minggu ini mas beberapa kali juga diajak untuk menemani bagian keuangan setor uang ke bank."
"oh...artinya kerjaan mas Sandy nggak begitu berat ya, beda dengan waktu kerja di toko papa, mas Sandy kadang harus ikut mindahin barang barang berat."
" iya, tapi ini penuh resiko, mas kadang mengawal uang yang cukup besar, ada rasa khawatir sebenarnya."
"iya juga ya mas."
Akhirnya bus yang di tumpangi merekapun bergerak meninggalkan kota mereka saat hari sudah semakin malam. Mereka akan tiba di kota tujuan besok pagi.
__ADS_1