
Saat jam pulang sekolah Pak Handoko sudah menunggu Tiara di depan gerbang sekolahnya dengan berdiri dan bersandar pada pintu mobil. Tatapan matanyà yang tajam langsung menghujam mata putrinya yang sedang berjalan menghampirinya meninggalkan teman temannya. Tanpa banyak bicara Pak Handoko segera masuk ke dalam mobil diikuti dengan Tiara. Mobil yang di kendarai Pak Handoko perlahan bergerak meninggalkan sekolah Tiara, dan di dalam perjalanan tak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulut Pak Handoko hingga pada akhirnya Tiara lah yang membuka pembicaraan, karena mang biasanya memang begitu, Tiara lah yang selalu cerewet membuka pembicaraan ketika mama atau papanya terlihat diam.
" pa....ada apa, sepertinya papa sedang marah, Tiara berbuat salah ya, sampai sampai papa marah begini?" tanya Tiara perlahan
" menurutmu bagaimana?" tanya Pak Handoko sambil melirik putrinya.
" Tiara nggak tahu pap, karena Itu Tiara tanya ke papa." jawab Tiara dengan nada manjanya
" Siapa tadi pagi yang menemui kamu di sekolah?" tanya Pak Handoko sambil menoleh sebentar pada putrinya sebelum kembali berkonsentrasi pada kemudinya.
" siapa maksud papa? " tanya Tiara pura pura tidak tahu arah pembicaraan orang tuanya untuk menyembunyikan rasa terkejutnya karena ia telah dimata matai.
" Nggak usah pura pura bodoh Tiara, kamu nggak pantas berbohong kepada papamu sendiri hanya gara gara laki laki." ketus Pak Handoko sambil menghembuskan nafasnya kasar.
" berbohong? maksud papa apa sih? Tiara benar benar nggak ngerti maksud papa lo." kata Tiara masih dengan ekspresi bingung ya.
" papa tanya sekali lagi Tiara...Siapa pria yang menemuimu tadi pagi? " tanya Pak Handoko
"ya pasti teman sekolah Tiara lah pa...sekolah Tiara kan campur antara laki laki dan perempuan."jawab Tiara Makin mantan untuk mempermainkan papanya.
" Tiara jangan bohongi papa ya, sekarang kamu jujur sama papa, kenapa pria Itu menemuimu di sekolah?" tanya Pak Handoko berusaha menekan emosinya.
" pria? siapa sih maksud papa, Tiara benar benar nggak ngerti."tanya Tiara
" Siapa lagi kalau bukan pria miskin Itu. Sandy." akhirnya kata Itu keluar juga dari mulut Pak Handoko
" mas Sandy? menemui aku di sekolah? kata siapa?" tanya Tiara semakin ingin mengecoh papanya
__ADS_1
" nggak perlu kamu tahu siapa yang bilang yang jelas ada yang bilang tadi ada pria yang menghampirimu dan ciri cirinya sama seperti Sandy."jawab papanya dengan jelas.
" oh...jadi papa lebih percaya orang lain daripada anak sendiri? dan sejak kapan papa membayar orang untuk mengawasi Tiara. Memangnya Tiara tawanan?" tanya Tiara semakin berani melihat papanya mulai melunak.
" Kamu ini di tanya orang tua malah balik bertanya."jawab Pak Handoko kesal.
" lagipula papa ini lucu sekali, dari pada uang papa di pakai bayar informant untuk ngawasi Tiara kan lebih baik uangnya do sumbangin ke orang miskin pap...lebih manfaat. Lagi pula seandainya mas Sandy datang ke sekolah untuk menemui Tiara, dia bisa apa? di sini banyak orang kan?" tanya Tiara sambil mengusap lengan papanya yang berada pada kemudinya.
" Tiara .....papa minta sama kamu, jangan terlalu dekat dengan Sandy, ingat papa ingin menjodohkanmu dengan Stefan." kata Pak Handoko
" kenapa papa memilih Stefan sebagai calon suamiku? apa alasannya?" tanya Tiara mulai menahan kesal di hatinya.
" karena dia Anak rekannya papa, dan apa kuràngnya dia, dia ganteng, pintar, kaya dan yang utama keluarganya jelas dari orang terpandang." jelas papa dengan wajah berbinar bahagia
" tahu dari mana Stefan pintar? memangnya papa dosennya Stefan?" tanya Tiara kepada Papanya
" papa...bukan niat Tiara untuk kurang ajar ya...ternyata penilaian papa terhadap manusia hanya sebatas Itu. Tiara tidak percaya papa bisa berbuat begitu." kata Tiara sambil membuang pandangannya ke luar jendela.
" Tiara. ..kamu tahu papa hanya ingin yang terbaik untukmu karena engkaulah satu satunya anak dan kebahagiaan kami, orang tuamu." kata Pak Handoko pada putrinya
" tapi pa...bukan begitu cara papa membahagiakan Tiara. Kalau papa hanya mementingkan gengsi dan keuntungan dalam mencari pasangan untuk anak, kenapa papa anaknya cuma satu? harusnya papa punya anak yang banyak, biar untung banyak juga." kata Tiara sambil menatap jalanan di depannya.
" jangan ngelunjak Tiara, jaga bicaramu pada papa." sentak Pak Handoko kembali dan Tiara hanya bisa menunduk, baginya akan sangat percuma membantah keinginan papanya pada saat seperti ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah Tiara memilih diam dan tidur untuk meredakan kekesalan hatinya. Pak Handokopun juga memilih berdiam diri.
Mobil yang di kendarai Pak Handoko memasuki halaman rumah yang berdiri megah. Tiara segera turun dari mobil dan bergegas menuju kamarnya, di ruang tamu ia berpapasan dengan mamanya, Tiara segera menyapanya namun hanya sebatas sapaan sambil lalu, dan ia segera memasuki kamar pribadinya. Hal ini tentu saja membuat heran mamanya.
" pa...anakmu kenapa? datang datang kok wajahnya kesel begitu?" tanya mama sambil mengambil tas di tangan suaminya
__ADS_1
" tadi sempat berdebat di mobil sama papa, sudah biarkan saja, nanti juga baik sendiri." jawab papa sambil berlalu menuju kamar diikuti istrinya.
" berdebat soal apa sih pa.." tanya istrinya penasaran.
" aku bilang dia akan aku jodohkan dengan Stefan, dengan berbagai alasan. Tapi dia menolaknya." jawab papa
" papa juga sih...masih terlalu pagi untuk membicarakan perjodohan Tiara, harusnya biarkan mereka saling mengenal dulu." kata mama sambil meletakkan tas suaminya pada meja do kamar mereka
" terlalu pagi bagaimana? keburu anakmu di pacari sama si Sandy." jawab Pak Handoko
" kenapa papa berpikir begitu?" tanya mama terkejut.
" kamu ini memang bener bener nggak tahu atau pura pura bodoh?" tanya Pak Handoko sambil bersedekap
" maksudmu bagiamana sih pa..?" tanya mama mulai emosi
" satu kampung ini nih ma..sudah membicarakan kelakuan anak kamu yang sering jalan berdua atau sengaja menghampiri Sandy. Masa kamu ibunya malah tidak tahu? kemana aja selama ini?" tanya Pak Handoko sinis
" omongan orang kampung kok di urusin pa.."
" maksudmu bagaimana?"
" kalau papa terlalu bereaksi keras gara gara omongan orang kampung dengan langsung menjodohkan Tiara dengan Stefan saat ini, bisa saja Tiara akan jadi semakin nekat beneran pacaran dengan Sandy, tapi kalau papa tidak terlalu peduli dengan masalah Itu, Tiara pasti maunya sekolah gak akan macam macam." jawab mama
" Itu kata kamu. Bagaimana kalau malah Sandy yang kemudian nekat ngerjain anak kamu, rela nggak anakmu di sentuh laki laki itu " jawab Pak Handoko kesal
" Menurutku Tiara juga gak sebodoh Itu pa..kasihlah dia kepercayaan."
__ADS_1
" Nggak bisa, aku nggak mau menyesal belakangan.