Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
mencarinya tanpa henti


__ADS_3

" Dimana saya bisa menemui anak itu?" tanya Pak Handoko kembali bersemangat seketika, demikian juga ibu Handoko yang serasa kembali mendapatkan angin segar.


" saya yang akan membawa sisca kemari Pak, bapak tunggu saja di sini." jawab Pak Zein menenangkan kedua orang Tua yang sedang gundah itu.


" iya Pak, terima kasih...maaf sudah merepotkan Pak Zein Dan bapak kepala sekolah." kata ibu Handoko


" tidak apa apa bu, kami akan senantiasa membantu ibu sebisa kami." jawab bapak kepala sekolah sesaat sebelum Pak Zein berlalu menjemput sisca.


Bapak kepala sekolah kembali berada diantara kedua orang Tua Tiara.


" maaf bapak, ibu kalau boleh saya bertanya, apa alasannya Tiara harus segera dinikahkan? yang saya tahu Tiara gadis yang cerdas yang sangat berniat untuk mengejar pendidikan tinggi." tanya kepala sekolah tidak enak hati.


" saya ingin yang terbaik untuk anak saya Pak, sebelum kuliah saya ingin ia menikah dahulu agar ada yang mengawasinya ketika jauh dari kami."


" oh...tapi ternyata Tiara berfikiran lain ya pa?"


" begitulah..."


" anak sekarang sebaiknya jangan dipaksa pak, mereka kadang punya pemikiran sendiri untuk hidupnya."


"bagaimanapun saya merasa punya hak untuk mengatur hidup Tiara Karena dia anak saya satu satunya, ternyata ia memilih meninggalkan saya." jawab Pak Handoko lemah.


" yang sabar ya Pak, pasti nanti ketemu. Kadang anak anak memang terlalu emotional. Tapi nanti kalau mereka kepentok masalah pasti akan kembali kepada bapak dan ibu."


Pak Zein sudah kembali ke ruangan kepala sekolah diikuti seorang anaknperempuan seusia dengan Tiara. Pak Handoko dan ibu Handoko terlihat sangat berharap pada informasi yang akan di berikan oleh sisca.


" Sisca...ini papa dan mama Tiara, apa yang kamu ketahui katakan saja pada beliau ya." kata Pak Zein di depan bapak kepala sekolah Dan kedua orang Tua Tiara. Sisca hanya mengangguk perlahan.


" Nak... Tiara ada menghubungi kamu kemarin?"tanya Pak Handoko perlahan.


" nggak Pak, Tiara nggak pernah berkomunikasi dengan saya selain kalau di sekolah pak."

__ADS_1


" apakah selama di sekolah di ada bercerita tentang sesuatu mengenai hidupnya setelah lulus sekolah?"


" nggak ada Pak, ia hanya bercerita kalau ia ingin kuliah di Jakarta UI. Dia ingin jadi dokter katanya."


" jadi dia ingin ke Jakarta?"


" sepertinya begitu Pak, tapi saya nggak tahu kalau ia malah pergi dari rumah."


" Tiara ada bercerita tentang acara pertunangannya?"


" nggak pernah Pak, memangnya Tiara akan bertunangan?"


" Iya, tapi batal karena ia kabur semalam."


" maaf Pak, saya tidak tahu."


"selain denganmu, kemungkinan Tiara akan meminta bantuan pada siapa lagi?"tanya Pak Handoko


" selain kepadamu, kepada siapa Tiara senang berbagai cerita tentang dirinya?"tanya mama Tiara sambil menatap sendu pada sisca.


" yang saya tahu Tiara tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun tante, ia lebih suka menyimpan sendiri kesedihannya." jawab Sisca perlahan.


"Apa dia tidak pernah menyinggung soal rencana pertunangannya? atau bercerita sedang jatuh cinta pada siapa?" tanya mamanya sekali lagi.


" tidak tante, Tiara tidak ada cerita tentang masalah pertunangan maupun percintaan, yang saya tahu Tiara sangat berambisi untuk bisa masuk ke UI, ia benar benar ingin kuliah kedokteran." jawab Sisca


" bisakah kamu menghubungi kami kalau suatu saat Tiara menghubungimu?" tanya mama Tiara sambil memegang jemari sisca penuh harap.


" bagaimana Tiara akan menghubungi saya tante, Tiara tidak pegang handphone sama sekali, saya juga heran kenapa ia tidak mau bawa handphone."jawab Sisca bingung, karena sampai saat inipun Tiara tidak mengetahui nomer ponselnya.


" saya yang awalnya tidak mengijinkan dia memiliki handphone, karena saya masih berfikir ia tidak membutuhkan alat itu." jawab Pak Handoko

__ADS_1


" siapa tahu Nak, ia mengirim surat atau apapunlah itu caranya, jika suatu saat nanti kamu dapat informasi tentang Tiara tolong hubungi tante ya..." kata mama Tiara dengan wajah sedihnya.


" iya tante, nanti sisca akan kabari tante. "


" terima kasih Nak, maafkan kami sudah merepotkan mu."


" tidak apa apa tante, saya tidak merasa repot kok."


Akhirnya Pak Handoko dan istri berpamitan kepada kepala sekolah dan Pak Zein meskipun mereka tidak mendapatkan hasil yang mereka harapkan. Raut wajah murung bu Handoko tidak bisa di sembunyikan meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya. Bagaimanapun kekhawatiran akan keselamatan anak perempuannya di luar sana tidak begitu saja bisa ia abaikan.


Dalam perjalanan pulang menuju rumahpun ibu Handoko hanya bisa diam tanpa berbicara pada suaminya. Hatinya begitu galau mengetahui kenyataan tentang anaknya yang belum ada kabar sama sekali. Sementara itu pak Handoko juga kalut dengan pemikirannya sendiri. Keangkuhannya mulai goyah, keyakinannya akan bisa menemukan anaknya dalam waktu dekat mulai memudar, dan ia mulai menyadari akan arti kehilangan, penyesalannya mulai datang silih berganti, seandainya ia tidak maksakan kehendaknya mungkin perasaan sakit yang seperti hari ini ia rasakan tidak akan pernah ia dapatkan. Air matanya perlahan mulai menetes membasahi pipinya. Istrinya yang mengetahui suaminya menangis tidak bisa melakukan apapun, hanya usapan lembut di lengan suaminyalah yang mewakili ribuan kata hiburan yang tak mampu ia ucapkan. Hanya untaian dia dari seorang ibulah yang kini ia panjatkan dalam diam untuk keselamatan putrinya.


Di sebuah rumah yang mungil dimana kini Tiara tinggal, yang ada hanya sebuah kebahagiaan. Dimana yang dahulu rumah itu selalu sepi karena hanya diisi oleh seorang Duda yang tidak selalu berada di rumah, kini telah di huni 3 orang dan setiap hari selalu ada yang berada di rumah itu. Ya.. Tiara dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia tinggal. Ia mulai mengenali beberapa tetangganya yang sering ia temui sambil berbelanja. Meskipun mereka tinggal di perkampungan, mereka tidak saling ingin tahu urusan satu sama lain, mereka hanya sebatas tahu kalau Tiara adalah kerabat dari pemilik rumah itu.


" mbak Tiara mau belanja apa hari ini?" tanya ibu yang tinggal Persis di samping rumah saat mereka sedang berbelanja bersama


" nggak tahu nih bu...masih bingung." jawab Tiara


" iya...ibu juga bingung mau masak apa, kayaknya bosen masak itu lagi itu lagi." jawab sang ibu dengan senyumannya


" cari yang gampang aja lah bu, lagipula masak yang aneh aneh juga nggak bisa." jawab Tiara


" mbak Tiara bisa aja, hari gini kok susah mau masak apa, kalau nggak bisa tinggal buka YouTube, pasti semua beres." jawab tukang sayur ikut ikutan nyamber.


" iya mang, kalau ada Internet nya, Tiara kan nggak punya ponsel."


" hadduhhh...mbak Tiara kok aneh, selama ini kemana aja? sudah segede gini nggak pegang ponsel?"


" hehehehe...memang gak pegang kok mang, dulu sih di larang bapak, meskipun saya dulu pernah juga minta."


" ohh....begitu, jujur saya heran mbak, masih ada orang yang gak pegang ponsel. Padahal setahu saya, anak kecil kecil aja ponselnya lebih bagus dari pada enak bapaknya." jawab tukang sayur sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2