
Warung makan yang dituju mereka adalah warung makan langganan Sandy saat jam makan siang tiba. Harganya cukup murah namun rasanya enak dan tempatnya bersih. Kesan yang di rasakan Tiara saat pertama kali masuk warung itu adalah sangat homy dan menyenangkan, karena pemilik warungnya sangat ramah dan hafal dengan para pelanggannya.
" Mas Sandy bawa siapa ini? cantik sekali."
" istri saya bu, memang cantik dia makanya saya kawinin."
"hahaha...mas Sandy bisa aja, nikahin kali mas."
" sama aja bu. Tujuannya kan kesana juga."
" ini mau makan apa?"
" saya seperti biasa, kamu mau makan apa Yang?" tanya Sandy pada Tiara
" nasi soup aja, lauknya ayam goreng."
" saya siapkan apa mau ambil sendiri mbak?"
" siapin sekalian saja bu." jawab Sandy sambil menarik tangan Tiara untuk di bawa ke meja yang terletak di sudut ruangan."
" minumannya?"
" es jeruk saja bu."
" mas Sandy teh seperti biasa?" tanya ibu pemilik warung yang di jawab Sandy dengan anggukan kepala. Tiara hanya memandang wajah Sandy sekilas dan kembali sibuk membersihkan meja yang di tempati dengan tissue makan yang tersedia di meja.
" bersih kok mejanya Yang, nggak perlu dilap lagi juga gak papa."
" sudah kebiasaan aja mas, aku kalau makan di tempat umum begini."
" Yang...Sudahlah...nggak usah dilap terus nggak enak ngelihat nya." kata Sandy sambil memegang jemari tangan Tiara.
" Mas...kenapa sih kamu selalu bilang ke orang orang kalau aku ini istrimu?"
" kenapa? kamu keberatan?"
" bukan begitu, kan kita belum menikah."
"nanti juga menikah, gak papa dari sekarang latihan menyebut kamu istriku.Nggak ada ruginya."
" kok gitu?"
" atau jangan jangan kamu yang keberatan, jadi nggak bisa cari gebetan."
" apaan sih mas?" jawab Tiara sambil cemberut, sedangkan Sandy semakin gemas reflek mencubit pipi Tiara perlahan sambil matanya tak lepas menatap wajah cantik wanita yang duduk di depannya. Tak lama ibu pemilik warung menghampiri mereka sambil membawakan makanan yang mereka pesan, sedangkan minumannya di sajikan oleh anaknya
" silahkan di makan mas dan mbak." kata ibu pemilik warung sambil menyajikan makanan mereka di meja.
__ADS_1
"iya bu, terima kasih." jawab Tiara.
"makasih ya dik." kata Sandy kepada anaknya ibu pemilik warung saat ia meletakkan minuman di meja, yang hanya di balas dengan senyuman saja.
" mas Sandy sepertinya sudah akrab di warung sini."
" jelaslah sayang...hampir tiap hari aku makan di sini."
" Mas mau aku buatkan bekal makan siang?"
" nggak usah nanti kamu kerepotan, apalagi sekarang kamu harus kursus juga, sarapan dan makan malam sudah lebih dari cukup buatku."
" baiklah kalau begitu. Aku sebenarnya nggak tega kalau melihat mas harus jajan di luar."
" nggak papa kan cuma makan siang saja."
Keduanya kemudian sibuk dengan makanan masing masing tanpa mengeluarkan suara sampai makanan mereka habis.
Tiba tiba meja mereka di hampiri oleh beberapa wanita dan mereka menyapa Sandy tanpa memperdulikan keberadaan Tiara.
" Mas Sandy....kok sudah sampai sini sih, tahu gitu tadi kita barengan." tegur salah satu dari mereka
" iya nih, kok nggak ngajak ngajak kita mau makan siang disini?" sahut yang lain dengan nada yang dibuat manja.
" mentang mentang naik jabatan, jadi lupa dia sama kita." balas yang lainnya.
" oh...maaf, tadi aku ada urusan sama istriku, begitu selesai aku baru kesini." jawab Sandy
" iya, kenalkan, ini istriku namanya Tiara." kata Sandy sambil memandang Tiara. Tiara tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada mereka.
Perempuan perempuan itu hanya mampu menerima ukuran tangan Tiara sambil melongo tanpa bisa mengatakan apapun.
" kenalkan mbak, saya Tiara istrinya mas Sandy, mbak mbak ini teman kerjanya?."
" maaf..tadi saya kira mas Sandy sendirian, ternyata sama mbak Tiara."
" nggak papa kok."
" mas Sandy sudah nikah to? aku pikir masih single." kata perempuan yang manja tadi, namun Kali ini nada suaranya tidak lagi terdengar dibuat buat.
" Masih pantas kan kalau saya mengaku single?" tanya Sandy sambil tertawa
" sudah lama nikahnya mas?" tanya salah satu dari mereka.
" belum lama kok, baru jalan 2 bulanan."
" oh..maaf ya mas, mbak kalau kami mengganggu."
__ADS_1
" nggak papa kok, mau gabung di sini?" tanya Tiara
" nggak usah mbak, tuh di sana Masih ada kursi kosong, mbak sama mas Sandy lanjutkan saja makannya, kami disana saja."
" kami sudah mau selesai kok mbak, kami sekalian pamit ya."kata Tiara sambil tersenyum
" iya mbak, sekali lagi maaf ya kalau tadi kami mengganggu."
" nggak ganggu kok"
Ketiga perempuan itu segera berlalu dari hadapan Sandy dan Tiara, mencari tempat duduk yang agak jauh dari mereka.
" Begini nih..kalau jalan sama orang yang suka tebar persona sama sini, jadi serba salah gini,dimana mana ketemunya perempuan terus." kata Tiara sambil melirik ke arah Sandy
" loh...aku nggak tebar persona Yang...emang dasarnya aja aku yang ganteng, jadi mereka yang ngejar ngejar aku." kilah Sandy membela diri
" duh...begini nih..."
" beneran Yang...aku nggak pernah tebar persona."
" sstt...iya, aku percaya, sudah nggak usah di bahas di sini, malu kalau ada yang dengar." sela Tiara sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Sandy yang melihatnya hanya tersenyum, ia mulai memahami sifat Tiara yang tidak ingin urusan pribadi mereka diketahui banyak orang termasuk soal perasaannya. Rupanya Tiara tidak ingin orang lain tahu apapun tentang dirinya.
Selesai makan dan membayar semua makanannya Tiara dan Sandy segera pulang. Di perjalanan, Sandy mengatakan sebenarnya ia ingin membawa Tiara ke kantor bersamanya namun Tiara menolaknya, karena ia merasa hal itu sangat konyol
" kenapa sih Yang nggak mau nemenin aku di kantor?"
" memangnya it kantor punya siapa? kamu?"
" ya nggaklah.Hanya sekarang akulah penanggung jawabnya."
" alhamdulillah mas di percaya sama Pak Kuncoro, tapi bukan berarti mas jadi seenaknya sendiri."
" seenaknya sendiri bagaimana maksudnya?"
" aku ini siapa?bisa mengganggu jam kerjamu."
" nggak mengganggu sayang, mungkin nanti justru kamu bisa membantuku dengan lebih teliti."
" nggak ah Mas, kalau kamu jadi pemilik di kantormu sendiri nanti baru aku mau main ke kantor mu."
" kenapa?"
" biar aku leluasa, kalau sekarang aku pasti ada rasa nggak enak sama teman temanmu, apalagi para wanita itu."
" justru karena para wanita itu, aku ingin sesekali kamu ke kantor biar mereka nggak lagi menggangguku."
" mas nggak bisa mengatasi mereka sendiri?"
__ADS_1
" bisa sih...tapi kalau mereka lihat kamu kan seperti membiarkan bukti yang bicara."
" Ya sudah kalau memang mas ingin bawa aku ke kantor, tapi Kali ini saja ya mas, aku nggak mau di cap sebagai istri yang posesif." kata Tiara sambil melirik ke arah Sandy yng sibuk dengan kemudinya.