
" lalu papa mau melakukan tindakan apa?" tanya mama sambil menatap lembut wajah suaminya.
" segera siapkan acara pertunangan Tiara dengan Stefan." perintah Pak Handoko yang langsung membuat istrinya tampak terkejut.
" Papa jadi ngaco kan, memangnya keluarga Stefan sudah menyetujui rencana mu Itu? Kita ini pihak perempuan lo pa, bukan pihak penentu keputusan lo ." kata istrinya lembut
" tentu saja mereka setuju ma, bahkan mereka yang memintanya, aku yang meminta mereka menundanya setidaknya setelah Tiara mendapatkan Universitas dahulu." kata Pak Handoko
" kenapa papa jadi terburu buru seperti ini? ada apa sebenarnya?" tanya istrinya tampak tidak setuju dengan keputusan suaminya.
" aku Nggak mau kejadian siang tadi terulang lagi." jawab Pak Handoko lagi
"kejadian apa?" tanya istrinya
" aku mendapat laporan si Sandy Itu mendatangi Tiara ke sekolah, dan saat aku telp toko, saat Itu memang Sandy tidak ada di tempat, menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Pak Handoko pada istrinya dengan nada yang mulai meninggi.
" papa....jangan gegabah seperti ini, Kita harus selidiki dahulu, Stefan benar benar layak untuk Tiara atau tidak, jangan asal menyetujui rencana pertunangan ini." kata istrinya bijaksana.
" maksudmu apa ma, perlu di selidiki apa lagi, Kita sudah tahu bibit bobot dan bebetnya mereka." jawab Pak Handoko heran.
" papa tahu kan, sebagai anak kota, kaya raya pula,apa yang tidak bisa Stefan lakukan? apakah pantas anakmu yang masih bersih dan polos itu kamu berikan begitu saja pada Stefan." kata istrinya
" ma... "
" aku mau anakku dapat yang terbaik pa, bukan hanya karena memandang kekayaannya saja aku lebih setuju kalau Tiara menemukan jodohnya sendiri. Dan Itu akan sangat mungkin jika Tiara berpendidikan baik." jawab istrinya mulai berargumentasi.
" Itu kalau tidak ada rumput pengganggu seperti Sandy." jawab Pak Handoko cepat.
" jangan begitu pa...bisa saja kan kalau mereka Itu hanya berteman saja, apa salahnya?" tanya istrinya
" bertemanpun rasanya aku nggak rela ma.." jawab Pak Handoko
" kenapa?" tanya istrinya kembali
" untuk apa? apa untungnya buat Tiara? memang ada gitu pertemanan antara laki laki dan perempuan tanpa ada maksud lain? mama jangan naif." kata Pak Handoko sambil tersenyum sinis pada istrinya.
" papa... aku hanya tidak ingin kamu memberikan Tiara pada lelaki yang salah. Kita tidak tahu bagaimana sifat Stefan." jawab istrinya yang akhirnya menolak berdebat dengan suaminya.
" menurutmu Sandy dan Stefan lebih baik siapa?" tanya Pak Handoko kembali.
" tergantung dari mana papa melihatnya. kalau masalah harta dan pendidikan jelas Stefan pemenangnya, tetapi kalau masalah sopan santun sepertinya Sandy yang menang pa.." jawab istrinya cepat.
" apa maksud kamu?" tanya Pak Handoko tidak terima
__ADS_1
" mama hanya memperhatikan saja bagaimana cara Stefan menatap Tiara malam Itu." jelas bu Handoko pada suaminya yang merasa tidak salah
" apa yang kamu lihat?" tanya Pak Handoko
" Mata Stefan terlalu nakal untuk ukuran pria seumurannya. Itu menurutku lo..sebagai perempuan, mata Itu boleh do bilang mesum pa..." jawab bu Handoko tegas
" kalau menurut papa Itu masih kategori wajarlah karena ini baru pertemuan pertama buat mereka, dan pasti Stefan sudah tahu kalau Tiara adalah calon istrinya." jawab Pak Handoko
" ya... kalau papa merasa Itu wajar mama bisa ngomong apa, hanya saja ini terlalu cepat, mama nggak ada bayangan akan punya menantu saat ini." jawab istrinya lagi
" lalu kamu maunya bagaimana?"
" ya mauku biarkan Tiara sekolah dahulu, biarkan ia mengejar mimpi mimpinya, anakmu Itu bukan perempuan yang bodoh, Sayang kalau hanya jadi ibu Rumah tangga."
" apa salahnya jadi ibu Rumah tangga kalau suaminya mampu mencukupi semua kebutuhannya?"
" ibu Rumah tangga yang berpendidikan baik akan mampu mendidik anak anaknya jauh lebih baik daripada ibu Rumah tangga yang kurang berpendidikan meskipun di balut dengan uang yang banyak." kata istriny
" maksudmu apa ma?"
" papa pasti tahu maksudku, uang tidak bisa menipu pa...menurutku pendidikan Itu penting sekali, Itu akan mempengaruhi pembawaan seseorang."jawab istrinya
" nanti setelah Tiara menikah dia bisa kuliah sesuai keingannya."
" mereka bisa menunda kehamilan."
" pa,.., Kita tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga orang lain meskipun Itu rumah tangga anak kita sendiri."
" lalu menurutmu bagaimana? aku Nggak mau Tiara dekat dekat dengan Sandy"
" kenapa kamu setakut Itu sih pa..papa punya dendam dengan keluarga Sandy?" tanya istrinya
" tentu saja aku takut, kamu tahu kan bagaimana rupa Sandy?" jawab Pak Handoko mengalihkan pertanyaan isteinya?
" tahu, ia pemuda yang tampan, hanya saja sayangnya dia hanya pegawaimu bukan anak rekan bisnismu."
" kenapa kamu jadi ikutan sinis seperti Tiara begitu?"
" nggak sinis pa...aku hanya bicara apa adanya saja."
" sudahlah ma...segera siapkan makan siang, aku dan anakmu sudah lapar." kata Pak Handoko akhirnya
" aku kira papa sudah kenyang karena masih ada tenaga untuk marah marah."
__ADS_1
" ma...kamu ini.."
" maaf pa... hanya bercanda kok, papa bersih bersih dulu ya, mama siapkan makanan sekalian panggil Tiara keluar kamar ya." kata istrinya yang hanya dijawab dengan anggukkan kepala saja. Nyonya Handoko meminta salah satu pembantunya untuk menyiapkan makanan di meja makan sementara ia mendatangi kamar Tiara. Saat membuka kamar anak gadisnya Nyonya Handoko melihat Tiara yang sedang tidur tertelungkup dengan seragam sekolah dan sepatu yang belum di lepas.
" Tiara.... " kata mamanya sambil mengusap rambut panjang anaknya
" kenapa seragam sekoiahmu dan sepatunya tidak di lepas dahulu sebelum tiduran, jelek sekali sikapmu Nak, jorok sekali anak gadis ini." kata mamanya sambil berusaha bersikap biasa. Namun tidak mendapatkan reaksi apapun dari anaknya
" kenapa sih? kamu marah sama mama ya? mama ada salah?" tanya mamanya yang akhirnya membuat Tiara berbalik dan menatap wajah mamanya sambil menggelengkan kepalanya.
" mama nggak ada salah sama Tiara."
" lalu kenapa kamu mendiamkan mama?"
" nggak, tiara nggak mendiamkan mama kok, Tiara hanya lagi kesel sama papa."
" kenapa? coba cerita ke mama"
" papa pasti sudah cerita ke mama kan? untuk apa lagi mama tanya sama Tiara.?"
" cerita soal apa ya? mama nggak ngerti nak. "
" mama jangan pura pura lah.. Tiara tahu kalau mama dan Papa mau menjodohkan Tiara dengan Stefan kan?" tanya Tiara
" menurutmu bagaimana dia?" tanya mama sambil tersenyum dan mengerlingkan matanya pada anak gadis semata wayangnya
" apa maksud mama?"
" dia ganteng kan? kaya juga lo"
" ih...kaya begitu kok di bilang ganteng, mama matre ya ternyata." kata Tiara sambil mencibir
" sini mama kasih tahu" kata mamanya.sambil duduk dipinggir tempat tidur Tiara
" perempuan Itu memang harus matre untuk merawat kecantikannya, kamu tahu kan untuk cantik butuh biaya?" tanya mama sambil tersenyum genit.
" apaan sih ma.."
" mama hanya mencoba untuk menyadarkan kamu saja kok, jadi jangan salahkan kalau perempuan Itu matre, memang kamu mau diajak hidup kere? nggak kan?" tanya mama
" tapi ya nggak gitu gitu amat kali ma..."
" Iya.., mama tahu Nak, tapi kamu harus ingat nggak ada orang tua di dunia ini yang ingin anaknya hidup sengsara. orang tua dimanapun selalu ingin memberikan yang terbaik.untuk anak anaknya. apapun akan dilakukan untuk anaknya, ingat Itu, jadi jangan sepenuhnya menyalahkan papamu ya."
__ADS_1