Hati Selembut Sutera

Hati Selembut Sutera
bab 35


__ADS_3

Tiara paham jika Sandy sedang menghindar dari kejaran rekan wanita sekantornya. Awalnya Tiara hampir merasa cemburu namun akhirnya dia bisa memahami keadaan Sandy, karena saat dulu Sandy menjadi karyawan papanya Hal ini juga pernah terjadi. Selain berwajah tampan sikap dingin Sandy memang mengundang rasa penasaran bagi lawan jenisnya, Tiara tahu pasti persona Sandy memang sangat kuat disitu, karena dulu Tiara pun pernah merasakannya, bahkan akhirnya kini ia memutuskan untuk meninggalkan kedua orangtuanya demi bersama Sandy. Meskipun ia tahu ini adalah tindakan yang salah.


" Hallo...selamat malam, dengan siapa saya bicara?" tanya Tiara lembut


" ha..hallo mbak...maaf saya ganggu ya?"


" nggak kok..kami belum mau tidur, masih ngobrol ngobrol ringan mbak, ini siapa?."


" s..saya Sisca mbak, sekretaris Pak Kuncoro, yang nantinya juga akan membantu mas Sandy di kantor." jawab Sisca semakin grogi.


" oh...iya, Terimakasih ya mbak Sisca , sudah bantuin suami saya, maaf ya nanti kalau mas Sandy menyusahkan mbak Sisca."


" Nggak kok mbak, mas Sandy nggak akan merepotkan saya, kalaupun iya itu sudah menjadi tugas saya, maaf sebelumnya, apa ini benar istrinya mas Sandy."


" iya mbak, nama saya Tiara, mas Sandy ada cerita soal saya? dia cerita apa?."


" maaf, saya fikir mas Sandy bohong waktu bilang sudah menikah, karena saya nggak melihat dia memakai cincin kawin mbak."


" oh...kami memang baru kok menikahnya, kalau soal cincin kawin memang mas Sandy nggak suka pakai perhiasan, terlebih yang terbuat dari emas, biar besok saya paksa dia pakai mbak, biar nggak ada yang salah paham ya."


" maaf ya mbak Tiara, saya...nggak niat mengganggu."


" nggak papa kok...mbak Sisca nggak ganggu saya, nggak tahu kalau mas Sandy, coba nanti saya tanya dia ya."


" ya sudah mbak, saya tutup telponnya ya...selamat malam."


" malam." jawab Tiara sambil tersenyum dan mengakhiri pembicaraan nya. Sandy melihat ke arah Tiara sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Tiara hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


" bukan aku loh Yang....dia yang mulai." kata Sandy mulai membela diri.


" mulai apa?"


" mulai telpon lah"


" bisa nggak jelasin ke aku, kenapa aku jadi istri kamu ya...kan kita belum akad nikah." tanya Tiara sambil memandang wajah Sandy.


" ntar juga akad nikah, apa salahnya kalau aku bilang begitu, nikah nanti atau kapanpun kamu tetap akan jadi istriku."


" nggak Salah... cuma..."


" aku nggak mau mereka cari perhatian sama aku, apalagi kalau sampai nanti kamu jadi Salah paham."


" kenapa?"

__ADS_1


" Karena aku sudah punya kamu." jawab Sandy sambil menatap wajah Tiara.


" mas..."


" aku nggak mau membuka celah sekecil apapun untuk orang lain diantara kita Yang...aku nggak mau kamu nanti salah paham, aku nggak bisa kalau kamu nanti cemburu, karena aku juga nggak mau dibuat cemburu sama kamu."


" mas..."


" kamu sudah membuktikan keseriusan cintamu, kini giliran aku untuk membuktikan juga kalau aku juga serius sama kamu."


" nggak nyangka ya mas...kamu seromantis ini, aku kira aku akan menikahi pria kaku yang galak, yang nggak ada manis manisnya sama sekali."


" Nanti kamu juga akan lihat bagian diriku yang kaku suatu saat nanti" jawab Sandy sambil menyeringai jahil.


" nggak usah di perlihatkan lagi kakunya...udah bagus lembut begini, aku suka mas Sandy yang seperti ini."


" oh..jangan..kalau kaku yang ini kamu pasti suka, dan kamu harus lihat, ini penting sekali."


" apaan sih mas?"tanya Tiara bingung.


" nanti aja, belum waktunya...Kalau sudah waktunya nanti kamu pasti ketagihan sama sugar kakuku yang ini."


" bodo ah...pusing aku."


" mas...mas Sandy sakit? Mau aku pijitin?" teriak Tiara sebelum Sandy masuk ke kamar.


" nggak usah, nanti malah pusingku makin menjadi."


" minum obat ya mas...besok kerja kan?"


" nggak usah Yang..."


" tapi kan kamu besok kerja, gimana kalau pusing nggak sembuh?" tanya Tiara sambil mendekati Sandy


" mau tahu obatnya biar pusingku hilang?" tanya Sandy sambil lebih mendekat ke arah Tiara, dan dengan cepat lengan tangannya yang kekar sudah melingkar di pinggang Tiara.


Tiara tertegun melihat perubahan pada sikap Sandy, perlahan lahan Sandy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara Dan berniat untuk mencium bibir Tiara. Namun belum sampai bibirnya menempel pada bibir Tiara, ia sudah merasakan cubitan kecil di pinggangnya yang cukup mengejutkan.


" adduuuh...duh...ampun Yang..."


" kenapa sekarang kamu genit sekali?" tanya Tiara sambil menatap tajam wajah Sandy


" nggak...aku nggak genit kok."

__ADS_1


" dulu saja kamu cuekin aku."


" kan dulu aku nggak tahu kalau kamu suka aku."


" kalau sekarang?"


" sekarang aku sudah yakin, kalau kamu cinta sama aku."


"terus...kamu mau jadi bebas gitu nglecehin aku?"


" kok nglecehin sih Yang...nggak nglecehin dong."


" itu tadi apa?"


" itu kan tadi karena aku gemes sama kamu, soalnya kamu cantik."


" kalau cantik terus kamu semau maunya gitu cium cium aku?"


" kan kamu calon istriku, masak pingin cium aja nggak boleh?"


" baru calon mas aku takut kamu kebablasan, ingat nggak pesan Bibi sebelum kita kabur dulu."


" nggak mungkinlah aku lupa, kamu juga pasti akan ingetin aku dong kalau aku sudah mulai kelewatan."


" tapi mas..."


" boleh kan aku cium kamu? biar pusingku sembuh."


" beneran, ciuman bisa ngobatin pusing?"


" bisa lah...kalau nggak percaya Ayo di buktikan."


Sandy secepat kilat segera memeluk Tiara erat sambil ******* bibir Tiara dengan perlahan. Hisapan dan gigitan kekecilpun ia berikan agar Tiara mau membuka mulutnya sehingga dia bisa dengan leluasa menjelajah mulut Tiara, Dan ia baru menghentikan aktifitasnya setelah melihat Tiara hampir kehabisan nafasnya. Sambil terengah engah Tiara memandang wajah Sandy, wajahnya yang merona membuat Sandy semakin gemas dan ingin kembali mengulangi perbuatannya namun segera dihentikan Tiara.


" mas...kamu salah makan apa sih?"


" Salah makan? maksudnya?"


" aku takut karena kamu hari ini aneh sekali, aku nggak lagi mengenali kamu yang dulu."


" aku ....Sudahlah, sebaiknya kita segera tidur Tiara." kata Sandy sambil membuka pintu kamar yang biasanya Pamannya tempati. Tiara hanya bisa tertegun melihat tubuh Sandy yang menghilang di balik pintu kamar itu sambil bertanya tanya tentang sikap aneh Sandy malam ini.


Dengan masih menyimpan tanya di hatinya Tiara masuk ke dalam kamarnya Dan bergegas untuk tidur. Ia tidak ingin bangun kesiangan esok hari yang akhirnya membuat Sandy terlambat sarapan.

__ADS_1


__ADS_2