
Diruang keluarga yang besar tampak Pak Handoko sedang duduk di kursi goyangnya sambil sesekali menghisap rokoknya pada pupa kesayangannya, kemarahan jelas terlihat dari wajah tampannya meskipun lelaki itu sudah cukup berumur. Istrinya yang dengan setia menemaninya duduk di salah satu sofa di ruangan Itu tampak sedang membolak balikkan majalahnya. Tiara memasuki ruangan Itu tanpa rasa beban, meskipun ia tahu pasti Ayahnya akan memarahinya. Ia berjalan di ikuti Pak leman di belakangnya. Belum sempat Tiara menyapa dan menyalami kedua orang tuanya suara menggelegar Pak Handoko sudah memenuhi ruangan Itu.
" Dimana kamu temukan dia Leman?" tanya Pak Handoko keras mengagetkan istrinya dan Tiara
" Di sungai ujung desa Pak." jawab Pak leman sambil menunduk
" Apa yang dilakukannya? "tanya Pak Handoko
" Dia sedang..." Pak leman ragu ragu mengatakannya, dan melirik ke arah Tiara
"Sedang apa? katakan saja, jangan ada yang berani kau tutup tutupi dariku." kata Pak Handoko keras
" Sedang memancing tuan." jawab Pak Leman
" Memancing? apa kau tidak salah dengar?"tanya Pak Handoko pada Pak Leman
"Iya pa, Tiara sedang memancing di sana bersama bang Sandy." jawab Tiara menyela pembicaraan mereka. Ia tahu bagaimanapun Pak Leman menutupinya papanya pasti telah mengetahui dari orang orangnya yang lain, tangan akan dengan senang hati memberitahukan pada Ayahnya.
" Sandy? kau pergi dengan sandy? apa kau sudah gila Tiara?" tanya Ayahnya tanpa bisa menutupi kemarahannya
" apa maksud papa?" tanya Àyu bingung
" Kau putriku? Pergi dengan sandy, apa matamu sudah sedemikian buta tidak bisa memilih teman bergaul? dia hanya kuli Tiara, K U L I, kau tahu Itu kan?" teriak Ayahnya marah dengan wajah memerah.
"Apa salahnya Tiara bergaul dengan kuli papa, dia baik, dia pernah menolongku waktu hampir kena jabret di jalan, memangnya salah kalau dia bekerja sebagai kuli papa?" bela tiara tidak mau kalah
" Tiara, kamu anakku satu satunya, aku sekolahkan kamu di Kota agar pergaulanmu lebih luas, harapan papa kamu akan mendapatkan jodoh dari keturunan yang baik, yang sebanding dengan Kita, kenapa ini malah bergaul dengan kuli? kamu punya otak tidak?" teriak Pak Handoko sambil marah.
" Papa terlalu berlebihan, siapa yang ingin mencari jodoh? Tiara hanya berteman papa." bela tiara
" omong kosong, sekarang kau bilang berteman, besuk pasti beda lagi, jauhi dia mulai sekarang." perintah Pak Handoko
" tapi pa.." kata Tiara
__ADS_1
" apalagi? kau mau bela dia? lihat ! ini yang kamu bilang berteman? belum apa apa saja kamu sudah mulai membantah papamu." kata Pak Handoko sinis
" sudah Tiara, turuti apa kata papa, Ayo mama antar kamu ke kamarmu." kata mama tiara sambil menggandeng tangan Tiara menuju kamarnya
"Urus Itu anak perempuanmu, jangan biarkan bergaul dengan rumput liar di luar sana, bikin malu saja." kata Pak Handoko pada istrinya.
Tiara dan mamanya segera berlalu dari ruangan Itu tanpa menoleh lagi, sedangkan Pak Handoko mendekati Pak Leman
" Awasi terus anakku, kasih informasi selengkap lengkapnya kepadaku. aku Nggak ingin Tiara bergaul dekat dengan bocah Itu." kata Pak Handoko.
" baik tuan, saya akan selalu mengawasi non Tiara." jawab pak Leman sambil menunduk. Pak Handoko mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya pada Pak leman. Setelah menerima uang Itu Pak leman segera undur diri dari hadapan majikannya. Sementara Itu di dalam kamar, Tiara sedang berbicara dengan mamanya.
" Apa yang kamu lakukan tiara?" tanya mamanya
" Tiara tidak melakukan hal apapun yang bisa membuat papa dan mama malu." kata Tiara
" Berjalan berdua dengan kuli ayahmu kamu katakan tidak membuat Kita malu? di Mana harga dirimu sebagai perempuan?" tanya mama Àyu dengan nada sinis
" Apa salahnya mom? kami tidak melakukan hal yang dilarang agama." jawab Tiara
" kalau yang mama lihat hanya sebatas harta saja, memang sandy bukan siapa siapa, tapi kalau mama melihat sandy sebagai manusia maka mama akan melihat banyak kebaikan pada dirinya"
" Kamu jangan sok tahu Tiara, kamu masih terlalu kecil untuk memahami soal kehidupan." kata mamanya melemah.
" kalau memang aku masih terlalu kecil untuk mengetahui tentang kehidupan, kenapa papa dan mama sudah meributkannya? biarkan Tiara mempelajari arti kehidupan yang sebenarnya dahulu dari kacamata tiara sendiri." kata Tiara pada mamanya
" jangan membantah perkataan orang tua Tiara!" kata mama sambil berdiri dan meninggalkan kamar anak gadisnya, dengan menahan amarah.
Sementara Itu di sebuah rumah kecil yang tidak bisa di bilang bagus, Sandy tampak rebahan di balai balai bambu di ruang tengah setelah memberikan ikan hasil pancingannya kepada bibinya untuk diolah. Sandy tampak termenung sambil memandang langit langit rumahnya. Bibinya yang beberapa kali memanggilnya dan mengajak berbicara tak sekalipun di jawabnya. Sang bibi hanya menggeleng gelengkan kepalanya setelah mengetahui keponakannya yang tampan sedang melamun, asambil menatap langit langit rumah mereka yang tidak begitu tinggi.
" hei...sedang mikirin apa?" kata bibinya sambil memukul kaki sandy cukup keras. sandy yang sedang melamun tentu saja terkejut dan terlonjak hampir jatuh dari balai balai bambu, hal ini tentu saja mengundang tawa bibinya.
" Bibi kenapa senang sekali mengagetkanku?" tanya sandy sambil cemberut
__ADS_1
" siapa yang suka mengagetkanmu?puluhan kali bibi panggil tak satupun kamu jawab. kenapa melamun?" tanya bibinya di sela sela tawanya
" siapa yang melamun? bibi ngaco ah." jawab sandy sambil cemberut
" mukamu Itu lo, nggak usah pakai cemberut, kaya anak gadis ditinggal pergi kekasihnya saja." canda bibinya
" kok larinya ke anak gadis sih bi?"tanya sandy sambil cemberut
" la..bibi harus bilang apa? anak perjaka di tolak cintanya?" tanya bibinya sambil tertawa terbahak bahak yang perlahan lahan juga mengundang sandy untuk mengikutinya tertawa.
" ada apa?"tanya bibinya kemudian setelah tawa mereka mereda
" Nggak ada apa apa bi..." jawab sandy
" Sandy...kamu Itu sudah seperti anak bibi sendiri, kamu nggak usah malu untuk bercerita pada bibi, dari wajàhmu saja terlihat kalau kamu sedang ada masalah. Ayo katakan pada bibi, kamu bertengkar sama non Tiara?" tanya bibinya langsung sambil menatap wajah Sandy tepat di matanya. Sandy tampak salah tingkah di perlakukan bibinya seperti Itu. Dan Itu membuat bibinya tersenyum simpul.
" Sudah bibi duga..." kata bibi sambil tersenyum dan berniat meninggalkan sandy sendirian lagi. Namun sandy segera menahan bibinya dengan menarik tangannya.
" ini nggak seperti yang bibi kira.." kata sandy ragu ragu dan menatap wajah bibinya yang tengah tersenyum padanya.
" memangnya bibi sedang mengira apa?" goda bibinya dan sandy wajahnya langsung memerah karena malu
" bi..." kata Angga terlihat jengah karena bibinya memandang wajahnya lekat
" Apa?" tanya bibinya sengaja menggodanya
" Bibi salah sangka kalau mengira aku dan Tiara punya hubungan." kata sandy sambil menunduk.
" hah...apa ada tadi bibi ada menyebut hubungan kamu dengan non Tiara?" tanya bibinya sambil tersenyum pada keponakannya yang tampan ini.
" Tapi dari nada bicara bibi, pasti bibi mengarah ke situ."jawab sandy salah tingkah
"tunggu dulu...nada yang mana? biasanya kalau laki laki menjadi sensitive Itu pasti gak jauh jauh dari urusan cinta. kamu sedang jatuh cinta? pada non Tiara?"
__ADS_1
" Tuh...kan..benar kan apa yang sandy bilang..." kata sandy sandy sambil memalingkan mukanya. Baru saja bibi mau menggodanya lagi terdengar suara ketukan pintu. mereka berdua serempak memandang ke arah datangnya suara.