
Tiara mengendap endap keluar dari kamarnya. Malam ini ia bertekad untuk menemui Sandy di rumahnya. Ia tidak lagi bisa menahan keinginannya untuk bertemu dengan pria Itu. Tiara juga tidak ingin Sandy mendengar berita pertunangannya dengan Stefan dari orang lain. Ia tak lagi memperdulikan rasa takutnya harus berjalan di tengah kesunyian jalan kampung.Tiara juga harus menghindar untuk bertemu dengan orang yang melewati jalanan Itu agar hal ini tidak sampai ke telinga papanya.
setelah melalui beberapa kali sembunyi untuk menghindar dari orang kampung yang merona akhirnya Tiara sampai juga di rumah Sandy. Tiara mengetuk pintu rumah sederhana Itu perlahan sambil sesekali menengok ke belakang untuk memastikan tidak adanya orang yang melihatnya berada di tempat ini.
" siapa?" terdengar suara Sandy dari dalam rumah setelah beberapa kali Tiara mengetuk pintu rumahnya.
" aku mas, Tiara." jawab Tiara sedikit perlahan yang membuat Sandy terkejut mendengarnya. Ia segera berlari menuju pintu untuk menemuinya.
" ada apa Tiara, kamu tahu ini jam berapa?" tanya Sandy sambil melongok ke arah jalanan untuk memastikan tidak ada yang melihat keberadaan Tiara di rumah Sandy pada jam yang tidak sepantasnya.
" aku Nggak diajak masuk dulu mas?" tanya Tiara pada pria tampan di depannya sambil tersenyum Tak menghiraukan kekhawatiran Sandy padanya.
" Siapa yang datang San?" tanya pamannya dari arah belakang
" ini paman, Tiara yang datang." jawab Sandy pada pamannya.
" loh...ini sudah malam sekali non, ada apa? " tanya paman Sandy terlihat agak panik
" ada yang ingin saya sampaikan pada mas Sandy paman, maaf kalau saya datang pada waktu yang salah. Karena kalau nggak sekarang nanti akan jadi masalah." kata Tiara sambil memandang wajah Sandy. Paman Sandy memahami apa yang akan Tiara katakan pada Sandy maka siapin akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Setelah mereka hanya tinggal berdua di ruang tamu kecil rumah Sandy, Tiara semakin tertunduk malu menyadari tatapan mata Sandy yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
" Tiara.... ada apa? kamu tahu kan kalau sekarang bukan saatnya mau main main ?" tanya Sandy
"Mas...aku mau cerita, tapi kamu jangan marah ya, setidaknya dengarkan dulu sampai ceritaku selesai." kata Tiara
" Iya, memangnya kamu mau cerita apa?"
__ADS_1
" Papa mau menjodohkanmu dengan anak temannya. Dan acaranya paling tidak akan di laksanakan setelah aku menyelesaikan ujian sekolahku." kata Tiara sambil tertunduk. Meskipun Sandy sudah pernah mendengar tentang berita Itu, namun kini ketika ia mendengar langsung dari mulut tiara ada rasa sakit yang tidak bisa ia gambarkan begitu saja.
"Lalu...?" tanya Sandy ragu ragu
"Lalu...tentu saja aku akan menolaknya, hanya saja aku harus mencari caranya agar papa dan mamaku tidak mengetahui rencanaku."
" sudah ketemu caranya?"tanya Sandy
" sudah. Rencanaku aku ingin kabur dari acara Itu, aku minta bantuan mas Sandy untuk membantuku kabur." kata Tiara
" Caranya?"
" selesai ujian sekolah, di rumahku akan ada acara pertunangan Itu, akan ada pesta keluarga. Sebelum acara di mulai aku ingin mas Sandy sudah membawaku keluar dari kota ini.Hanya saja aku ingin, Kita harus menjaga jarak sementara ini, jangan sampai terlihat berkomunikasi atau apapun. Kalau bisa Sandy harus mulai keluar dari kota ini secepatnya." kata Tiara
" maksud kamu bagaimana? kau minta aku keluar dari kota ini, tapi kau juga minta bantuanku untuk kabur. Aku Nggak ngerti Tiara." kata Sandy mulai kesal.
" Kau ingin aku berhenti bekerja lalu mencari Kota lain sebagai tempat pelarian?"tanya Sandy terkejut dengan rencana Tiara yang sepertinya telah di pikirkan jauh jauh hari.
"Iya. Nanti begitu sudah dapat, Kita akan memulai segalanya di sana."kata Tiara mantap
" Nggak usah bingung masalah tempat, aku sudah tahu Kita akan pergi kemana. Kalau kau mau kita bisa tinggal di rumah sahabat paman di Kota itu. Kamu mau meninggalkan semua kenyamanan yang kamu punya saat ini demi bersamaku?" tanya Sandy tidak percaya
" apapun asal denganmu, kamu masih tidak percaya sama aku ? kamu pikir aku main main setelah yang aku lakukan sejauh ini?" tanya Tiara seperti tersinggung dengan ucapan Sandy
" yakin kamu bersedia hidup sengsara dan serba kekurangan denganku?" tanya Sandy sambil meraih jemari lentik tiara dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
" nggak masalah. Daripada aku hidup berkecukupan tapi tidak pernah merasakan bahagia, untuk apa?" tanya Tiara sambil menatap mata pria di depannya dan meremas jemari tangan Sandy yang menggenggamnya.
" Baiklah, besok aku akan mengundurkan diri dari toko papamu, aku akan segera mengunjungi sahabat paman hari Itu juga untuk minta ijin tinggal dengannya. Lalu aku akan menungguku untuk bersama sama kesana." kata Sandy mantap.
" mas Sandy, acara pertunangan Itu masih dua minggu lagi, jadi aku harap Kita ketemunya ya dua minggu lagi saja sejak sekarang, supaya tidak ada yang curiga. Aku melakukan ini juga untuk melindungi paman dan bibi mu, agar tidak menjadi sasaran kemarahan papa." kata Tiara
" lalu bagaimana cara kita berkomunikasinya?"
" Mas..acara Itu di laksanakan dua minggu lagi, tepatnya sabtu malam, jadi saat Itu kamu tunggu saja aku di gerbang batas desa. Aku yang akan menuju ke sana. Kamu nggak usah datang untuk menjemputku, saat kamu mengundurkan diri dari toko ayah, katakan saja ke beberapa orang disana kalau kamu akan ke meninggalkan Kota ini dan mencari pekerjaan yang lebih baik, dan aku harap kamu jangan pernah berada di desa ini lagi, walaupun hanya untuk menengok paman dan bibi, Anggap saja kamu sedang merantau."jelas Tiara
" lalu paman dan bibiku bagaimana?" tanya Sandy semakin bingung.
" Itu tugas mas Sandy untuk menjelaskan kepada mereka, aku harap mereka bisa memahami Kita, selama aku belum menemuimu di gerbang desa usahakan mas selalu bersembunyi agar tidak ada yang mengetahui keberadaanmu, usahakan jangan terlihat oleh siapapun." kata Tiara
" kamu sepertinya sudah merencanakan nya dengan baik Tiara." kata Sandy menyelidik.
" aku Nggak mungkin diam saja kalau papa selalu menekanku mas, aku sudah berusaha bicara dari hati ke hati dengan papa tapi sepertinya hanya cara ini yang bisa aku lakukan." kata Tiara.
" kau tidak takut di sebut sebagai anak durhaka?" tanya Sandy
" takut mas, tapi aku nggak tahu lagi harus bagaimana. aku nggak mau ada penyesalan besar dalam hidup ku." kata Tiara
" baiklah...Kita sudah sepakat akan memulai hidup bersama di tempat lain, sekarang sudah terlalu malam Tiara, kamu harus pulang. Ayo aku antar." kata Sandy
" nggak usah mas, lebih baik aku pulang sendiri." kata Tiara
__ADS_1
" kamu jangan Gila, aku antar apapun yang terjadi, kamu pakai sarungku, biar terlihat seperti laki laki. Aku tidak akan tenang sebelum melihat kamu masuk kembali ke rumahmu." kata Sandy dengan nada keras dan Tiara tidak berani lagi membantahnya
" baik lah..terima kasih mas." kata Tiara sambil memeluk tubuh Sandy erat. Mau tidak mau Sandy pun membalas pelukan Tiara dan mencium ujung kepalanya. Dan semua Itu tidak lepas dari pandangan mata paman dan bibinya yang menguntit dari balik tabir yang memisahkan ruangan Itu dengan kamar mereka.